Apa itu mati rasa?

Posted on Posted in Emosi & Relasi

Oleh : Inna Hudaya

Salah satu gejala stress yang sering di keluhkan adalah kebekuan emosi atau mati rasa. Apa sih mati rasa itu? Berikut beberapa artian mati rasa yang saya cermati :

  • Kebekuan emosi
  • Reaksi emosi yang datar terhadap berbagai peristiwa dan lingkugan kehidupannya.
  • Salah persepsi dalam mengenali emosi
  • Ketidakmampuan membedakan emosi-emosi di dalam diri sehingga pemaknaan emosi tersebut menjadi kabur.

Biasanya gejala mati rasa ini muncul akibat trauma yang berulang sehingga sudah tidak bisa menimbulkan efek emosi yang normal. Sebagai contoh, seseorang yang beberapa kali merasa terluka oleh pasangannya akhirnya secara tidak di sadari dapat membangun benteng emosi untuk melindungi dirinya dari kejadian yang sama, lalu pada akhirnya ia akan merasakan kebekuan emosi sehingga kemudian luka yang dirasakan berikutnya tidak lagi menimbulkan efek emosi yang normal. Ia mungkin hanya akan tertawa ketika untuk kesekian kalinya pasangannya berselingkuh atau bahkan pada akhirnya tidak peduli sama sekali.

Seseorang yang pernah mengalami rasa kehilangan dan luka yang berat akan membangun sebuah insting untuk menghindari situasi yang dapat mengarahkan mereka pada kejadian serupa di masa yang akan datang. Banyak perempuan  yang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan diri mereka berada pada posisi yang sama. Sebagai hasilnya, tanpa menyadari apa yang mereka lakukan, mereka akan bekerja keras untuk berusaha membuat emosi mereka pada tingkatan yang datar. Tidak hanya mempengaruhi tampak luar mereka, namun emosi yang datar tersebut juga mempengaruhi hubungan mereka dengan orang-orang terdekat.

Berikut gejala-gejala numbness :

  • Kehilangan minat dan ketertarikan terhadap hidup.
  • Tidak merasa hidupnya bahagia tapi juga tidak menderita.
  • Tidak memiliki batasan yang jelas antara perasaan sedih dan senang.
  • Tidak mampu mengungkapkan perasaan marah, sedih, senang, kecewa, dll.
  • Cenderung melawan emosi yang muncul dan menekannya seminim mungkin.
  • Mengalami perubahan sikap emosi terhadap pasangan, keluarga dan lingkungannya.
  • Menanggapi berbagai peristiwa secara datar tanpa menunjukkan simpati.
  • Merasa bahwa hidup membosankan dan tak lebih sekadar rutinitas yang berulang.
  • Mulai sedikit negatif dalam menanggapi berbagai kondisi di sekitarnya di mana orang lain menunjukkan emosinya, contoh ; menganggap bahwa orang yang menangis karena sedih atas kematian orang yang di cintainya adalah bodoh, toh orang memang harus mati juga, kan.
  • Tidak reaktif terhadap perasaan pasangan dan lingkungan sekitarnya.
  • Tidak peduli terhadap berbagai peristiwa dan lingkungan kehidupannya

Penting untuk menyadari bahwa emosi adalah bagian alami yang tidak terlepas dari sifat manusiawi seseorang, bahkan binatang pun memiliki emosi. Anda tidak dapat menghilangkan emosi dari diri anda, yang bisa anda lakukan hanya mengendalikannya. Jika anda membentengi diri anda dengan berusaha untuk mengikis emosi anda, pada akhirnya anda akan mengalami emosi yang datar atau mati rasa.

Pada awalnya gejala mati rasa ini muncul akibat ketidakmampuan seseorang mengendalikan emosinya dalam menghadapi peristiwa-peristiwa traumatis. Mungkin kebanyakan orang tidak menyadarinya karena hal ini bekerja di bawah alam sadar kita. Kemudian seseorang mulai ingin mengendalikan emosinya secara cepat dan instant tanpa menyadari bahwa mengungkapkan dan meluapkan emosi juga merupakan salah satu kebutuhan manusia. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa menangis itu adalah cengeng, bahkan untuk menangis saja merasa malu. Atau untuk mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan bisa berarti tidak sabar dan tidak dapat mengendalikan diri.

Jika anda menyadari bahwa anda mengalami mati rasa dan ingin mulai melakukan perubahan, anda dapat melakukan beberapa hal berikut ini:

Yang pertama dan utama, terimalah emosi sebagai bagian dari diri anda

  • Ungkapkan emosi anda, jika anda merasa bersedih ijinkan diri anda menangis dan berduka, kendalikan dengan anda memberi waktu secukupnya untuk anda bisa menangis dan berduka. Misalnya; saya akan menangis sepuasnya tapi setelah 3 hari saya harus bangkit dan melanjutkan kehidupan saya.
  • Jangan menahan emosi anda apapun itu bentuknya; amarah, kekesalan, kebencian, kasih sayang, dll. Misalnya ; jika anda merasa kesal dengan seseorang belajarlah untuk menyampaikan kekesalan anda secara terbuka, jangan di tahan di dalam hati namun pada akhirnya tetap mengganggu pikiran anda.
  • Belajarlah untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran anda. Enyahkan rasa takut atau malu karena keduanya tidak dapat membantu anda mencapai apa yang ingin anda raih dalam kehidupan ini. Penolakan atau cemoohan dari orang lain tidak akan membuat anda mati, mungkin sedikit jengkel tapi kemudian anda akan melewatinya dan semua kembali baik seperti semula.
  • Ajaklah orang yang anda percaya untuk membagi dan mengenali emosi yang anda rasakan, lihat bagaimana pendapatnya lalu kemudian anda dapat menentukan cara apa yang paling baik untuk bisa mengungkapkan atau meluapkan emosi-emosi tersebut.
  • Jika anda bukan tipe orang yang bisa berbicara secara terbuka, anda bisa mulai meluapkan emosi-emosi anda dengan menuliskannya pada sebuah jurnal pribadi anda.

Tentu saja, kunci lainnya adalah anda harus dapat mengendalikan emosi anda, bukan dengan mengikis emosi anda namun dengan merubah cara anda menyalurkan emosi anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *