Saya, Perempuan dan Sejarah Kekerasan Diri (bagian kedua)

Posted on Posted in Aborsi Aman, Emosi & Relasi, KTD, My Story, Pra Aborsi, Selama Aborsi

Ditulis oleh Astrid Reza di Yogyakarta pada 27 Oktober 2010

Usia saya nyaris dua puluh tahun ketika saya memutuskan untuk melakukan aborsi. Saya tidak siap menjadi seorang ibu, dan pacar saya pada saat itu pun tidak mau bertanggung jawab. Saya memutuskannya sendiri. Saya sadar risiko yang saya ambil dan saya bertanggung jawab kepada diri saya sendiri. Bahwa saya akan menanggungnya seumur hidup saya. Saya minta maaf pada janin yang saya kandung. Saya minta maaf pada diri saya sendiri.

Bagi saya yang paling mengerikan dari pengalaman aborsi ini adalah kekerasan yang dilakukan terhadap tubuh saya. Kekerasan dari sistem, pelayanan kesehatan dan moralitas semu masyarakat mengenai pilihan-pilihan bagi perempuan dan tubuhnya. Saya mencoba merunut bagaimana semua ini terjadi.

Generasi muda seperti saya mulai mendapatkan pendidikan seksual di sekolah menengah. Namun tidak secara eksplisit. Generasi kami mengenal segala yang instan. Generasi kami menikmati arus informasi yang tanpa batas dan bagian dari anak muda global. Namun, kenyataannya kami mendapatkan akses terhadap kesehatan reproduksi yang minim. Walaupun saat ini membeli kondom sudah tidak lagi tabu, masih saja banyak orang yang heran mengapa perempuan muda seperti saya selalu membawa kondom ke mana-mana. Belum lagi tatapan sinis atau nyinyir yang didapatkan ketika kami membeli kondom di apotik, supermarket atau minimarket 24 jam.

Bagi orang-orang yang bertebal muka seperti saya, mungkin kami tidak ambil pusing. Berdasarkan pengalaman saya: Jangan ambil pusing! Selalu sediakan kondom ke mana pun Anda pergi, mau Anda laki-laki atau perempuan, menikah atau tidak menikah, perawan-perjaka ataupun tidak, lajang atau berpasangan sekalipun. Karena apa yang akan saya paparkan berikut ini mau tidak mau akan menganggu kesadaran dan juga tanggung jawab Anda.

Dengan membawa kondom pun tidak luput saya mendapatkan masalah ketika pacar saya enggan memakainya. Kesalahan-kesalahan kecil ini terjadi. Sialnya lagi saya pada waktu itu tidak memiliki akses terhadap alat kontrasepsi lainnya seperti pil KB dan sejenisnya. Lebih tepatnya risih. Saya memiliki pengalaman buruk berhadapan dengan tenaga layanan kesehatan reproduksi terutama ketika status saya adalah seorang nona. Jangankan bertanya apakah saya bisa mendapatkan akses alat kontrasepsi, status nona saja sudah mendatangkan banyak pertanyaan, juga tatapan yang jengah di ruang tunggu dokter kandungan. Saya tidak menikah tetapi aktif secara seksual. Ketika saya memiliki kesadaran untuk bertanya mengenai pap-smear, pembicaraan melenceng jauh pada pertanyaan kenapa saya aktif secara seksual sebelum menikah. Saya malas menghadapi pertanyaan basa-basi yang kurang sopan ini.

Kehidupan seksual saya adalah pilihan personal saya.

Apakah begitu mengherankan ketika masih di usia belasan tahun saya memberanikan diri untuk menuntut hak reproduksi dan informasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi saya? Apakah dengan status saya sebagai seorang nona, hal ini tidak menjadi hak saya?

Ketika saya mengetahui bahwa saya hamil lalu mengecek kehamilan saya ke dokter, pengalaman traumatik dan pelecehan dari tenaga layanan reproduksi ini dimulai. Berawal dari dokter kandungan di mana saya mengecek kehamilan saya. Ketika status saya nona dan saya sampaikan bahwa saya ke sana untuk mengecek kehamilan, muka dokter itu berubah. Sinis. Saya tidak bisa melupakan ekspresi itu. Ekspresi merendahkan saya. Ekspresi yang sama sekali tidak membantu saya mengatasi luapan emosi saya ketika saya mendapatkan konfirmasi bahwa saya benar-benar hamil. Ekspresinya mengatakan seperti saya telah melakukan kejahatan. Dengan kata-katanya ia langsung mengatakan bahwa untuk KTD (Kehamilan yang Tak Diinginkan) ia tidak bisa membantu dan memberikan rekomendasi  ke PKBI Yogyakarta yang menangani konseling untuk persoalan ini. Hanya satu hal yang mengganjal saya sampai sekarang mengenai momen itu, siapakah dokter tersebut sehingga langsung mengkategorikan kehamilan saya sebagai KTD? Istilah itu pun mengganggu saya. Dia bahkan tidak bertanya mengenai keinginan saya seperti apa. Momen itu saya belum memutuskan apa-apa dan yang dilakukannya sama sekali tidak membantu. Lebih tepatnya bagai menjerumuskan saya ke liang kegelapan dan tanpa pengharapan.

Konseling yang saya alami berjalan baik, cukup responsif dan informatif. Tapi ketika saya mengecek kembali kehamilan saya pada tenaga kesehatan di tempat yang sama, pelecehan terhadap saya oleh bidan yang mengecek saya kembali terjadi. Mereka pikir kehamilan saya adalah suatu bahan ejekan yang lucu. Mereka tidak tahu bahwa ejekan itu begitu menyakitkan saya. Mereka tidak mengenal saya. Mereka tidak memahami bagaimana situasi saya. Mereka mengatakan kata-kata yang sungguh tidak pantas. Celakanya mereka adalah tenaga kesehatan yang tersedia. Di situlah puncaknya, saya pulang dan menangis di jalan. Lebih menangisi penghinaan yang saya dapatkan dan bagaimana saya merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawannya.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk mengugurkan kandungan saya di Jakarta. Tentu saja, dengan aborsi yang tidak aman. Tidak ada cara lainnya di negara ini. Saya pun merasa saya belum bisa menjabarkan kejadian ini dengan lebih detail. Kecuali bahwa peristiwa itu adalah episode paling mengerikan dalam hidup saya. Saya hampir kehilangan nyawa saya. Paska aborsi, saya mengalami pendarahan hebat sebanyak dua kali, yang saya pikir saya akan mati pada saat itu. Dan saya menghadapi semua peristiwa ini sendirian. Bayangkan saja ketika suatu pagi saya di kamar mandi tiba-tiba saya mengalami pendarahan hebat, yang untungnya berhenti tidak lama dan saya harus menyembunyikan semua fakta ini sendirian. Keluar dari kamar mandi seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak ada siapapun yang menemani saya pada saat itu. Jika saya mati mungkin saya tidak tahu harus ke mana. Saya tidak yakin rumah sakit akan menolong saya. Saya menjadi begitu pesimis dengan layanan reproduksi di negara ini.

The following two tabs change content below.

Ajar Pamungkas

Creative Manager at Samsara
Ajar Pamungkas. Cisgender male who currently works as Creative Manager in Samsara, a non-government organization that provides information and counseling about unplanned pregnancy. Often called as grumpy old hag, indifferent.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *