Saya, perempuan dan sejarah kekerasan diri (Bagian Ketiga)

Posted on Posted in Aborsi Aman, Emosi & Relasi, HAM, My Story

Ketika saya menikah dan hamil kembali, perlakuan tenaga kesehatan kepada saya bagaikan bumi dan langit. Status nyonya seakan-akan merupakan tiket emas bagi senyuman dan dukungan atas kehamilan saya. Saya merasa ini sama mengerikannya—sikap standar ganda ini terasa begitu palsu. Saya melewati kehamilan saya dengan baik dan melahirkan dengan normal. Anak saya sehat dan baik-baik saja sampai sekarang. Saya berhasil melewati proses menyusui anak saya sampai usia dua tahun dan sekarang sedang mencoba menyapih anak saya senyaman dan sealamiah mungkin. Terlepas dari segalanya, pengalaman kehamilan kedua ini membuat saya melepaskan ketakutan dan trauma-trauma saya. Sekaligus membuat saya takjub dengan mekanisme tubuh perempuan yang luar biasa. Daya tahan yang luar biasa. Pengalaman penuh rasa sakit, keringat, air mata dan darah. Segala yang membuat saya merasa hidup.

Memiliki anak membuat rasa mempertahankan diri saya semakin besar. Saya dapat melakukan apa saja demi anak saya. Saya sepenuhnya sadar itu. Sayangnya, di sisi lain saya juga jadi menerima apa saja demi anak saya. Termasuk menanggung kekerasan dalam rumah tangga. Saya menemukan diri saya berada dalam sebuah fase di mana saya bisa menerima kekerasan terhadap diri saya asalkan anak saya tidak apa-apa. Tekanan dan pola hubungan yang buruk dengan mantan suami saya, membuat saya berada di sisi kelam yang lain.

Saya kira saya telah melewati episode yang paling buruk dalam hidup saya. Saya merasa lelah dengan hubungan-hubungan yang rumit sehingga memutuskan untuk berlabuh. Saya menikah pada usia duapuluh empat tahun. Awalnya saya merasa semuanya baik-baik saja. Tetapi ketika saya mulai hamil dan mantan suami saya mulai sering memaksakan hubungan seks, saya merasa pengertian dari dirinya hilang dalam sekejap. Saya ingin menikmati perubahan biologis yang tengah saya alami dengan lebih sadar. Sedangkan mantan suami saya memperlakukan saya seolah saya objek seks, dan bahwa adalah kewajiban saya sebagai seorang istri untuk tetap melayaninya. Ketika saya mulai berdamai dengan tubuh saya, dengan kesadaran saya untuk menjadi seorang ibu, saya merasa setiap hari saya harus berjuang mempertahankan janin saya. Ketidaknyamanan untuk melakukan hubungan seks selama kehamilan seolah dianggap angin lalu. Saya mulai membenci seks, menganggapnya sebagai pekerjaan rumah yang harus dilewati setiap hari. Saya mulai berpikir … apakah nafsu setiap lelaki itu bak binatang yang lepas kendali? Apakah seseorang bisa dibilang sebagai istri, ketika ketidaknyamanannya tidak menjadi pertimbangan? Apakah seseorang bisa disebut sebagai suami, ketika ia memperlakukan istrinya sebagai hak milik atau hak pakai? Pertanyaan-pertanyaan ini yang bergulat dalam batin saya. Hanya satu hal yang membuat saya bertahan, saya masih ingin melihat anak saya memiliki seorang ayah.

Ketika kehamilan saya mendekati trimester ketiga, saya merasa saya harus mengambil langkah tegas. Saya menolak melakukan hubungan intim. Satu dengan lain hal, karena kondisi ekonomi yang kurang baik dan tiba-tiba kebiasaan minum alkohol dari mantan suami saya muncul kembali, terjadi peristiwa yang membuat saya shock. Dalam kondisi hamil besar, sekitar tujuh bulan, saya dilempar botol bir sebanyak tiga kali di pesta pertunangan seorang kawan. Saya tidak paham sebabnya apa. Walaupun saya berhasil menghindar dan tidak apa-apa, tapi rasa kaget itu masih bisa membuat saya merasa gemetaran. Entah rasa kaget atau rasa kecewa yang tak terjelaskan, saya masih menahan orang-orang agar dirinya tidak dipukuli oleh massa yang tidak terima atas perlakuan dirinya terhadap saya. Karena saya masih ingin anak saya melihat ayahnya, meski dalam hati saya mulai menyadari bahwa hal itu akan sia-sia. Tidak ada yang akan berubah bahkan ketika anak saya sudah lahir sekalipun.

Anak saya lahir ketika saya berumur duapuluh lima tahun. Ia tumbuh sehat dan normal. Saya fokus menyusui anak saya. Walaupun mantan suami saya cukup membantu urusan rumah tangga dan keperluan anak setiap harinya, tak bisa disangkal bahwa kondisi ekonomi kami kacau. Setelah selesai masa ASI ekslusif, saya mulai mengambil pekerjaan sambilan. Dengan kondisi saya yang lelah luar biasa setiap harinya, dia masih memaksakan hubungan intim. Saya sampai pada kondisi di mana saya muak dengan seks dan saya merasa laki-laki benar-benar binatang belaka. Parasit yang menjijikkan. Saya masih bertahan, karena saya mengurus anak saya sendirian. Tidak ada keluarga yang membantu saya karena kedua orang tua saya telah meninggal.

Ketika saya kembali ke Yogyakarta untuk mengurus persoalan kuliah yang tertunda, teman-teman saya mengungkapkan sebuah fakta yang mengagetkan bagi saya. Ternyata selama saya tidak ada … ternyata ketika saya hamil besar, mantan suami saya melakukan pelecehan seksual ke teman-teman perempuan saya dan kasus ini berulang. Saya tidak lagi berpikir, keesokan harinya saya memutuskan untuk membawa anak saya dan berpisah dengannya untuk selamanya.

The following two tabs change content below.

celotehsaya

Creative Manager at Samsara
Cisgender male who currently works as Creative Manager in Samsara, a non-government organization that provides information and counseling about unplanned pregnancy. Often called as grumpy old hag, indifferent.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *