Saya, Perempuan dan Sejarah Kekerasan Diri (bagian terakhir)

Posted on Posted in Emosi & Relasi, HAM, Pasca Aborsi

Bagi saya, pelecehan seksual adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa saya maafkan dan saya terima. Laki-laki yang tidak bisa menghargai perempuan adalah sosok yang paling saya benci. Saya tidak mau anak saya tumbuh dengan ayah yang demikian. Lebih baik perkawinan saya yang kandas daripada anak saya besar dengan pandangan semacam itu. Siap tidak siap, akhirnya saya menjadi seorang orang tua tunggal.

Episode buruk ini tidak berakhir begitu saja. Ketika saya terpaksa menitipkan anak saya selama sebulan bersama mantan suami saya karena saya harus menyelesaikan studi saya—ini terjadi beberapa bulan setelah kami berpisah tempat tinggalsaya mengalami kekerasan yang tak terbayangkan. Pada akhirnya mantan suami saya putus asa. Ia menyadari bahwa saya tidak akan pernah kembali lagi padanya. Suatu hari, ketika saya pulang riset dan kelelahan, biasanya ia segera pulang ke tempatnya. Saya menyusui anak saya dan jatuh tertidur. Tubuh saya begitu lelah sehingga ketika saya menyadarinya, segalanya sudah terlambat. Ia memperkosa saya. Perkosaan ini adalah puncak dari segala kekerasan yang terjadi pada tubuh saya. Hal ini dilakukannya dengan sengaja, apalagi mengetahui bahwa saya berhenti KB sebulan sebelumnya. Ia berpikir dengan usahanya menghamili saya dengan paksa akan menolong segalanya. Ketika saya berhasil bangkit dan menendangnya dari atas tubuh saya, saya ingin mengamuk. Anak saya masih tertidur di sebelah saya. Saya mengambil kunci motor dan keluar dari rumah. Saya tidak tahu harus ke mana, saya menangis di atas motor. Menangis penuh amarah yang tak tertahankan. Dan saya tidak ingin anak saya melihat saya dalam kondisi demikian.  

Saya ke rumah sahabat saya yang membiarkan saya mengeluarkan segalanya. Menyuruh saya berkonsultasi ke PKBI untuk preskripsi after morning pill. Saya menurutinya, saya tidak mau mengambil risiko dan tidak siap dengan kehamilan lagi dari laki-laki yang sekarang amat saya benci. Jijik, bahkan. Saya merasa kekerasan hanya akan melahirkan sesuatu yang sia-sia. Hari itu status nyonya pun berubah menjadi mimpi buruk, dokter memberikan saya preskripsi namun juga tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengomentari apa yang terjadi. Yang menurutnya terjadi karena saya menginginkannya. Saya terpaku. Adakah orang yang menginginkan untuk diperkosa? Puncak kekesalan saya terhadap tenaga layanan kesehatan reproduksi benar-benar meledak. Ini sudah keduakalinya terjadi di tempat yang sama dengan situasi yang berbeda. Saya melaporkan dokter itu ke LSM di mana ia bekerja paruh waktu dan menuntut ia dipecat, karena ia tidak layak bekerja untuk melayani orang-orang yang membutuhkan empati paska terjadinya kekerasan domestik. Kekerasan bukan sebuah bahan ejekan! Saya heran di mana dokter dan para bidan ini belajar menggunakan mulutnya.

Saya mengusir mantan suami saya dari hidup saya untuk selama-lamanya. Mengancam akan mengajukan tuntutan pidana jika ia dan keluarganya mendekati saya dan anak saya lagi. Yang tersisa dalam diri saya untuk mereka hanya amarah dan amarah. Dan saya masih marah.

Saya sepenuhnya sadar bahwa saya membutuhkan waktu untuk bisa melewati segala fase kekerasan yang terjadi pada diri saya. Saya akui saya bahkan mulai antipati dengan laki-laki. Saya masih merasa tidak ada yang baik dari mereka setelah apa yang saya lewati. Saya lebih merasa nyaman dikelilingi teman-teman baik saya yang perempuan; atau gay. Saya ingin mencari aman untuk saat ini. Yang bisa saya pegang saat ini adalah membesarkan anak saya menjadi laki-laki yang dapat menghormati perempuan.  Menjauhkan dirinya dari kekerasan bahkan jika ia harus tidak memiliki sosok ayah biologisnya. Saya tidak mau anak saya mengalami bom waktu yang saya alami hanya semata karena saya ingin mempertahankan perkawinan saya.  Bagi saya hal itu tidak realistis dan tidak logis.

Pada akhirnya saya dan anak saya mulai mendapatkan hidup kami kembali. Kami baik-baik saja dan saya mulai menjalani hidup saya dengan lembaran baru. Saya menikmati menjadi seorang ibu tunggal dan lajang. Saya menikmati kendali yang saya miliki terhadap diri saya dan tubuh saya.  Bagi saya, kodrat tubuh perempuan adalah dengan menikmatinya. Dengan berdamai dengan tubuh saya sendiri dan kesadaran diri saya.

Kekerasan sudah merusak hubungan itu begitu lama. Membuat saya merasa terpecah belah dan tak merasa lengkap sebagai seorang manusia dan perempuan yang utuh. Sekarang saya belajar untuk menjaga diri saya baik-baik, menghargai apa yang saya miliki dan saya mulai dengan diri saya sendiri. Saya hanya membutuhkan diri saya sendiri.

Usia saya dua puluh tujuh tahun. Saya perempuan dan sekarang dengan lantang saya menolak terjadinya kekerasan terhadap diri saya lagi, juga bagi semua perempuan. Selamanya!

 

Yogyakarta, 27 November 2010

The following two tabs change content below.

celotehsaya

Creative Manager at Samsara
Cisgender male who currently works as Creative Manager in Samsara, a non-government organization that provides information and counseling about unplanned pregnancy. Often called as grumpy old hag, indifferent.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *