Post Abortion Syndrome: Realita atau mitos seputar aborsi?

Posted on Posted in Artikel, Emosi & Relasi

Dalam sebuah artikel yang dikeluarkan oleh Jurnal Guttmacher Institute pada tahun 2006, Susan A.Cohen membahas mengenai mitos seputar aborsi, tepatnya mitos Post-Abortion Syndrome pada perempuan paska aborsi. Dalam artikel nya ini Cohen menyebutkan bahwa mitos tersebut sengaja digulirkan oleh kelompok pro-life untuk menakut-nakuti para perempuan agar tidak melakukan aborsi. Benarkah demikian?

7 tahun yang lalu aborsi telah membawa saya kepada depresi berat selama kurang lebih 3 tahun lamanya. Setelah gagal melakukan konsultasi dengan para psikolog, paman google telah menghantarkan saya ke berbagai situs pemulihan paska aborsi yang notabene merupakan jaringan ministry gereja di Amerika Serikat. Dari situlah perkenalan pertama saya dengan Post-Abortion Syndrome. Saya lalu mengikuti program pemulihan mandiri.

Selesai mengikuti program pemulihan saya lalu berinisiatif untuk membuat blog yang menyediakan informasi lengkap mengenai aborsi dan pemulihan paska aborsi.. Saya percaya, bahwa di luar sana banyak orang yang mengalami situasi yang sama seperti saya dan membutuhkan informasi yang tepat untuk pemulihan mereka. Diluar dugaan, blog ini mendapat respon yang luar biasa yang akhirnya membuat saya, kiki dan grace sepakat untuk membuat sebuah organisasi yang khusus menangani trauma paska aborsi. Inilah awal berdirinya Samsara.

Karena awalnya samsara bersentuhan langsung dengan para activist pro-life, maka tidak heran jika pada awalnya samsara juga menunjukkan semangat pro-life.

Namun setelah hampir 2 tahun di samsara, berinteraksi dengan banyak klien baik itu wanita maupun pria. Mau tidak mau, keyakinan dan pola pikir saya digoyah sedemikian rupa. Setiap kasus aborsi selalu unik dan berbeda. Tidak pernah saya menemukan kasus yang benar-benar sama. Ketika saya pikir saya sudah cukup paham mengenai isu ini, pemahaman saya kembali digoyah setiap kali datang klien baru. Dalam usia yang masih begitu muda bagi sebuah organisasi, dibutuhkan keberanian dan kerendahan hati untuk terus kritis terhadap pekerjaan kita dan mengoreksi diri, bahkan mungkin merubah haluan.

Tidak semua perempuan/laki-laki post-abortus mengalami Post-Abortion Syndrome. Hal ini tentu saja meruntuhkan konsep yang telah di gulirkan kelompok pro-life. Namun kelompok pro-choice juga tidak sepenuhnya benar. Post-Abortion Syndrome bukan sekedar mitos seputar aborsi. Karena ada banyak perempuan yang mengalaminya.

Terlepas dari perdebatan pro-life dan pro-choice, dalam pengamatan saya selama 2 tahun terakhir bekerja sebagai konselor, ada beberapa hal yang menjadi penyebab seorang post-abortus mengalami Post-Abortion Syndrome. Diantaranya adalah :

Aborsi tidak aman.
Aborsi tidak aman dapat mengakibatkan komplikasi dan infeksi berkelanjutan. Ini dapat meninggalkan trauma bagi perempuan yang mengalami perdarahan hebat. Infeksi paska aborsi dapat bertahan lama, apalagi tidak semua perempuan memiliki cukup keberanian untuk memeriksakan diri ke dokter.

Aborsi karena paksaan.
Kami lebih memilih istilah unplanned pregnancy daripada unwanted pregnancy. Kenapa? Karena beberapa kehamilan yang tidak direncanakan bias berubah menjadi kehamilan yang diinginkan. Banyak perempuan yang kemudian ingin meneruskan kehamilannya namun dipaksa harus melakukan aborsi oleh pasangan atau keluarganya. Hal ini pulalah yang mengakibatkan trauma.

Bertentangan dengan keyakinan.
Penyebab utama terjadinya Post-Abortion Syndrome adalah rasa bersalah. Rasa bersalah ini muncul karena si perempuan pada dasarnya meyakini bahwa aborsi adalah sesuatu yang salah dalam sistem keyakinannya. Namun karena kondisi tertentu ia harus tetap memilih melakukan aborsi.

Itu sebabnya, para perempuan yang mendapatkan prosedur aborsi yang aman, dan memilih melakukan aborsi atas kesadaran penuh tidak mengalami Post-Abortion Syndrome. Lebih-lebih lagi para perempuan yang memang sudah paham mengenai gender dan hak-hak perempuan, kemungkinan mereka mengalami Post-Abortion Syndrome sangat kecil.

Ketika berbicara tentang aborsi kita selalu terjebak oleh konsep pro-choice dan pro-life, atau pada mitos seputar aborsi yang tidak sedikit jumlahnya. Itu juga yang terjadi pada beberapa mahasiswa yang melakukan riset di samsara, biasanya mereka akan butuh waktu lama untuk memahami konsep dasar aborsi sebelum bergerak ke isu utama yang akan mereka bahas. Kebanyakan mereka yang terjebak dalam konsep ini adalah karena masih melihat isu aborsi dari sudut pandang agama, moral dan hukum. Padahal memahami isu aborsi tentu saja tidak dapat lepas dari konteks budaya, social, agama dan politik.

Masih banyak orang yang berfikir bahwa menjadi seorang pro-choice berarti kita setuju dengan melegalkan aborsi. Padahal dengan menjadi seorang pro-choice berarti kita support terhadap pendidikan seks, kontrasepsi, keluarga berencana, dan tentu saja kesehatan reproduksi dan seksualitas. Aborsi adalah pilihan ketika kesemua sarana tadi telah diupayakan secara maksimal.

Sudah saatnya kita tidak melihat lagi konsep pro-choice dan pro-life sebagai sebuah pembatas. Ada ruang gerak yang bebas di antara keduanya. Dalam soal kerja, sebuah lembaga tentunya harus lebih fokus pada kebutuhan klien, bukan sekedar pada sebuah konsep dan ideologi. Setiap klien memiliki kebutuhan dan pendekatan yang berbeda. Pendekatan pro-life ataupun pro-choice bisa tetap dipakai dengan mengamati latar belakang dan kebutuhan klien.

Jadi, apa mitos seputar aborsi yang Anda ketahui? Apakah itu hanya sekadar mitos saja atau benar-benar terjadi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *