Diary of Loss

Posted on Posted in My Story

Suatu pagi hari di pertengahan bulan desember 2003, Bram menunggu di kamar dengan was-was ketika aku melakukan test kehamilan dengan test-pack. Cemas dan gelisah, itulah yang aku rasakan ketika mulai mengambil urin dan melakukan test. Setelah menunggu beberapa saat ternyata hanya satu garis yang muncul. Dengan gembira aku memberikannya pada Bram, aku masih ingat betapa aku melonjak kegirangan ketika tahu hasilnya negatif. saat itu juga aku melempar test-pack dan meninggalkannya begitu saja di kamar mandi. aku langsung membuka jendela kamar dan tertawa bahagia melihat pagi yang cerah. Tawaku seketika terhenti ketika Bram memanggil untuk kembali masuk ke kamar mandi.

” De..coba lihat lagi deh.”

Bram menyodorkan test-pack dan seketika itu juga badanku serasa lunglai. Tampak 2 garis merah muncul di permukaan test-pack. Aku hamil.

Kami hanya berpandangan mata dengan tatapan kosong, dan seketika itu juga kami hanya diam membisu. Rasanya semua tiba-tiba menjadi gelap dan kosong.

Aku masih bisa mengingat dengan jelas raut muka Bram menjadi kaku, raut muka yang biasanya tegar dan kokoh itu tiba-tiba menjadi begitu rapuh. Seharian itu kami hanya diam dan mencoba untuk tak membahas kehamilanku. Kami sibuk dengan fikiran kami masing-masing.

Bram adalah lelaki dari anak yang berada di dalam rahimku. Aku mengenalnya di bulan April tahun 2003. Aku hanya berkenalan selama 2 minggu sampai akhirnya kami memutuskan untuk berpacaran. Bram datang seperti sebuah dongeng, dari pertama kali melihatnya aku sudah merasa bahwa ”He’s the one”. Dan ternyata aku tak merasakannya sendiri, Bram merasakan hal yang sama dari pertama kali kami bertemu. Sore itu kami bertemu di kamar kostku ketika sahabatku Debbi membawanya turut serta mengunjungiku yang tengah terbaring sakit. Tak perlu berbasa-basi cukup lama, mulai keesokan harinya Bram telah mengantarkanku kuliah setiap hari.

Aku dan Bram adalah 2 pribadi yang sangat berbeda, aku menggambarkan diriku sebagai seseorang yang senang berbicara dan berpetulang sedangkan Bram adalah sosok yang begitu diam dan penuh pertimbangan. Satu-satunya hal yang membuat kami yakin kenapa kami bisa jatuh cinta pada pandangan pertama hanyalah karena memang Tuhan telah membuatnya seperti itu.Bahkan hingga akhirnya kami berpisah pun kami tetap tak bisa mengerti apa yang membuat kami tetap terikat satu sama lain. Bram adalah lelaki yang datang di saat aku berada dalam keadaan yang begitu kosong dan lemah karena kehilangan sosok ayah tercinta. Sejak saat itulah kehdiran Bram menggantikan kekosongan hatiku.

Buah cinta ku ini hadir tanpa pernah kami duga. Selama ini aku dan Bram tak pernah terfikir sampai bisa sejauh ini dan harus mengalami kehamilan yang tidak kami harapkan. Hari pertama kami mengetahui kehamilan ini kami hanya diam satu sama lain. Saat itu aku benar-benar tak bisa menggambarkan perasaanku, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Tapi harus ku akui, di samping rasa takut dan gelisah, hal pertama yang muncul dalam benakku adalah kebahagiaan. Aku begitu bahagia mengetahui kehamilan ini, memiliki sesuatu yang benar-benar nyata dan hidup di dalam rahimku, buah cinta dengan seseorang yang benar-benar kukagumi dan kucintai, aku tiba-tiba merasa telah menjadi sempurna sebagai seorang perempuan.

Baru keesokan harinya akhirnya kami membahas kehamilan ini, dan ternyata Bram juga merasakan hal yang sama. Kami berdua di liputi kebahagiaan yang besar mengetahui akan menjadi orangtua dari buah cinta kami. Kami membayangkan bagaimana rasanya menggendong bayi di dalam buaian kami dan merasakan senTuhannya. Sejak saat itu Bram jauh lebih perhatian padaku, kami sangat berbahagia dan lebih saling menyayangi satu sama lain. Seringkali Bram mengelus perutku dan menciuminya. Kami menghabiskan hari-hari kami dengan membayangkan akan seperti apa jadinya anak kami nanti, akankah mirip dengan aku atau justru lebih mirip bapaknya. Apakah ia akan sepintar bapaknya atau secuek dan secentil ibunya? Oh aku benar-benar bahagia saat itu.

Bram selalu ada di sampingku memberi dorongan dan kekuatan, ia teramat sangat memanjakanku mengingat keadaanku yang menjadi lemah akibat morning-sick dan ngidam. Selama masa kehamilan aku tidak bisa mengkonsumsi nasi dan semua masakan yang berbumbu, aku hanya bisa makan bubur, sup dan buah-buahan. Kadang-kadang di malam hari Bram harus berburu semua makanan itu untukku

Kami tidak pernah menyangka akan terjadi kehamilan sebelumnya, dan kami memang tidak pernah merencanakan kehamilan ini. Mungkin itu sebabnya setelah selama seminggu lebih kami berbahagia dengan kehamilan ini, tibalah masanya di mana kami menjadi lebih terbebani dengan kehamilan ini. Ketika tiba pada suatu diskusi mengenai bagaimana caranya menyampaikan kehamilan ini pada pihak keluarga, pada saat itulah kami merasa benar-benar lemah dan tidak punya kekuatan untuk melakukannya, mengingat bagaimana latar belakang keluarga kami yang sangat memegang nilai moral dan agama, serta keadaan kami yang masih harus menyelesaikan kuliah kami.

Sempat terfikir oleh kami untuk segera menikah dan menyembunyikan kehamilan ini hingga nanti kami benar-benar siap untuk tampil di hadapan keluarga, namun kami kembali mengurungkan niat kami mengingat ketidakmungkinan kami untuk bisa membiayai proses kehamilan dan melahirkan nantinya, belum lagi keadaan ekonomi keluarga Bram saat itu memang sedang benar-benar jatuh.

Setelah melalui perdebatan panjang dan menangis terus-menerus, akhirnya kami sampai pada keputusan di mana aborsi adalah pilihan terbaik bagi kami saat itu. Seringkali kami berpelukan dan menangisi keputusan kami tersebut. Tiba-tiba aku harus merelakan kebahagiaanku berakhir saat itu juga. aku tahu Bram mengerti apa yang aku rasakan dan memahami betapa berat semua ini bagiku, apalagi mengingat bahwa dokter pernah memvonisku tidak bisa hamil karena penyakitku, betapa senangnya aku mengetahui bahwa dokter itu salah namun pada akhirnya aku harus melepasnya juga..

Setelah memutuskan untuk melakukan aborsi, maka kami harus mengecek kehamilanku ke dokter dan mengetahui kondisi kehamilan sebelum mencari dokter yang akan sanggup melakukan tindakan aborsi. Siang hari di awal bulan januari kami berangkat pukul 11 siang menuju rumah sakit dimana aku akan mengecek kehamilanku. Aku sudah mendaftar sejak sehari sebelumnya sehingga kami tidak perlu menunggu lama. Rumah sakit tersebut adalah rumah sakit tempat aku biasa berobat selama di yogya, satu-satunya rumah sakit yang menurutku memberikan pelayanan medis yang cukup memuaskan. Untuk menjaga kerahasiaan identitasku, aku akhirnya mendaftar sebagai pasien baru agar pemeriksaan kehamilanku ini tidak tercatat dalam rekam medis pengobatanku. Aku mengaku sebagai Nyonya meskipun tatapan nyinyir dari petugas rumah sakit sempat membuatku gugup.

Kami menunggu di koridor rumah sakit dengan cemas sembari sibuk menyusun kata-kata dan alas an yang akan kami utarakan pada dokter nanti. Aku melihat bram tampak jauh lebih cemas dari aku. Pada saat itulah aku mengambil keputusan bahwa aku tidak akan mengajak Bram ikut serta ke dalam ruang pemeriksaan. Gelagatnya tampak mencurigakan dan hal itu akan membuatku semakin gelisah dan gugup.

Setelah menunggu selama setengah jam akhirnya seorang perawat berusia kurang lebih 50 tahunan memanggilku. Aku masuk sendirian ke dalam ruang pemeriksaan, aku sempat menoleh dan melihat bram hanya tersenyum getir ke arahku, pasti ia sangat gugup dengan keadaan ini, pikirku. Perawat tersebut memeriksa tekanan darahku dan melontarkan banyak pertanyaan yang berhubungan dengan keluhanku.Dari jawabanku tampaknya ia tahu bahwa aku hamil san curiga dengan gelagatku yang cemas.

“Pacarmu kok gak ikut masuk, dia pasti bapaknya kan?” komentar pedas terlontar dari bibirnya dibarengi tatapan sinis yang mengintip Bram dari balik kaca pintu. Aku hanya tersenyum menelan ludah. Ternyata tulisan Nyonya yang tertera besar di rekam medisku tak juga membuatnya percaya atau mungkin ia sudah sering bertemu dengan orang sepertiku yang dating dengan gelagat mencurigakan.

Beberapa saat kemudian muncullah seorang perempuan bermata sipi, rambut sebahu bergelombang, kulitnya putih dan berperawakan yang sedikit gemuk. Umurnya sekitar 40 tahunan tapi ia tampak jauh lebih segar dari umurnya. Ia adalah dokter yang akan memeriksaku hari ini.

Seytelah melakukan serangkaian pemeriksaan fisik, dokter memberitahuku bahwa aku hamil dan usia kandunganku menginjak minggu ke-4. Untuk memastikannya aku diminta pindah ke ruang sebelah untuk melakukan USG.

Disanalah, disebuah ruang bercat putih bersih yang tertata dengan apik, aku terbaring dengan cemas. Saat perawat dokter mulai mengoleskan cairan bening di sekitar perutku, aku sudah mulai gelisah. Lalu dokter pun mulai mencari si benih kecil dalam rahimku dengan alat kecil yang ditekan-tekan di sekitar perut bawahku. Aku melihat dari sebuah layer kecil bagaimana alat itu mengintip isi rahimku, aku hanya bias melihat garis-garis putih di sekitar bayangan berwarna hitam. Beberapa menit berlalu hingga dokter menunjukkan sebuah titik kecil pada layar. Titik kecil menyerupai kacang yang tersimpan apik di sana adalah cikal bakal anakku, calon buah cinta aku dan bram. Aku melihat dengan takjub dan tak percaya bahwa titik sekecil itu suatu saat akan tumbuh menjadi seorang manusia. Entah mengapa tiba-tiba rasa cemas dan gugup yang tadi menguasaiku berubah menjadi sebersit rasa senang yang menyeruak ke seluruh rongga dadaku. Ingin rasanya aku berteriak dan memperlihatkan “kacang kecilku” pada semua orang yang ada di sana, terutama Bram. Aku tidak hanya bahagia karena aku akhirnya sempurna menjadi seorang perempuan, namun cikal bakal anakku ini adalah perpaduan cinta kasih antara aku dan Bram. Seakan semua perbedaan yang selama ini menghalangi kami tiba-tiba hilang dan menjelma menjadi harapan. Aku merasa calon bakal anakku akan memiliki perpaduan sempurna dari kedua sifat orangtuanya, sesuatu yang tak bisa di kompromikan akhirnya menyatu dalam diri seorang anak. Tidak hanya itu, aku juga teringat dengan seorang dokter yang pernah menyatakan bahwa aku tidak akan bisa hamil, kini kehadiran “kacang kecil” ku telah membuktikan bahwa kesombongannya adalah suatu hal yang keliru.

Aku keluar dari ruang pemeriksaan dengan hati yang berbunga-bunga dan senyum yang mengembang sempurna, di tanganku aku membawa beberapa lembar hasil cetakan USG. Bram langsung berdiri menyambutku dan ternganga melihat “kacang kecil” pada lembaran itu. Kecemasan yang sejak tadi mengaburkan sinar matanya tiba-tiba berubah menjadi berkas cahaya yang memancarkan kelegaan.

Aku mendekapnya erat sepanjang perjalanan pulang. Gegap gempita bahagia membahana di dalam hatiku. Bram hanya diam, diam yang penuh dengan rasa bahagia dan kebingungan pada saat yang bersamaan.

Beberapa minggu semenjak pemeriksaan itu kami benar-benar dicekam rasa bahagia hingga kami lupa dengan rencana awal kami. Kami sibuk membayangkan akan seperti apa jadinya anak kami nanti. Bahkan kamipun mempersiapkan nama yang cantik untuknya. Aku akan menamakannya Cisco jika bayi itu laki-laki atau Nazarina jika perempuan. Selama beberapa minggu itu keadaanku juga menjadi semakin lemah, hampir sepanjang hari aku muntah-muntah hingga badan terkulai lemas. Akupun tidak bisa mengkonsumsi nasi hingga setiap hari Bram harus berkeliling mencari bubur ayam atau sup jaguang agar aku mau makan.

Masa-masa bahagia itu harus berakhir hingga suatu hari di mana kami kembali teringat dengan masa depan kami. Dengan berat hati akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rencana semula yaitu melakukan aborsi.Aku merasakan kekecewaan yang begitu dalam sampai-sampai setiap malam aku mengelus perutku dan meminta maaf pada cikal bakal anakku.

Saat itu sore hari sekitar pukul 4 sore ketika aku mendatangi sebuah klinik spesialis kandungan di bilangan daerah godean yogyakarta. Aku mendapatkan informasi mengenai klinik ini dari seorang teman yang memberitahuku bahwa di klinik ini bias dilakukan tindakan aborsi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku datang sendiri tanpa ditemani Bram.

Di suatu sore yang mendung aku tampak begitu gugup menunggu di ruang tunggu klinik, tidak seperti rumah sakit yang kudatangi sebelumnya, dinding klinik ini tanpa usang di makan usia, tidak ada lampu terang yang bias menenangkanku. Klinik ini sedikit tampak tidak bersahabat untukku. Ketidakhadiran Bram saat itu sungguh membuatku gelisah, tapi aku tetap harus memberanikan diri masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan menghadapi dokter yang akan memeriksaku nanti.

Setelah cukup lama menunggu, sekitar pukul 5 sore aku akhirnya dipanggil masuk oleh seorang perawat muda yang cantik. Ruangan pemeriksaan tersebut tidak terlalu besar, terdapat sebuah meja tulis besar berwarna coklat terbuat dari kayu mahoni. Di sebelahnya terdapat sebuah tempat tidur yang dilengkapi berbagai peralatan pemeriksaan.

Beberapa menit kemudian masuk seorang lelaki berkulit coklat berperawakan jangkung dengan keriput di sekitar wajahnya. Umurnya sekitar 60 tahunan. Ia tampak begitu kolot dan angkuh, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan sikap bersahabat. Tanpa basa-basi ia memintaku membuka celana dalam dan rebahan di atas tempat tidur. Spontan aku menjadi kikuk, karenja tidak ada selembar pun kain yang disodorkan padaku untuk menutupi daerah kemaluanku. Pada pemeriksaan sebelumnya biasanya aku akan diminta rebahan dulu di atas tempat tidur, lalu seorang perawat menutupi daerah bawah perutku dengan selembar kain sebelum aku membuka celana dalamku. Kali ini sangat berbeda dan hal itu membuatku merasa sangat tidak nyaman.Bahkan ketika aku sudah rebahan pun tetap tidak ada kain yang menutupi daerah kemaluanku.

Aku diminta untuk membuka kedua kakiku lebar-lebar dan dokter memeriksa vaginaku, dengan kasar tangannya menyentuh daerah vaginaku dan masuk beberapa centi ke dalamnya. Aku hanya bias menelan ketidak sukaanku dalam-dalam dan menjerit dalam hati. Tidak ada obrolan selama pemeriksaan, semuanya terjadi begitu cepat hingga akhirnya selesai dilakukan USG.

Kali ini tidak ada penjelasan tentang hasil USG, bahkan dokter pun tidak menunjujjan “kacang Kecil” ku.

Ketika aku duduk di kursi tepat di hadapan dokter, ia tidak sedikit pun menatapku atau sedikit saja menebarkan empatinya padaku. Tampaknya Ia sudah terbiasa melihat pasien yang dating dengan rasa cemas dan gelisah sepertiku.

Hal yang aneh adalah ia menjelaskan bahwa usia kandunganku sudah menginjak minggu ke-10, padahal saat itu baru 2 minggu berlalu sejak pemeriksaan pertamaku yang berarti seharusnya usia kandunganku menginjak minggu ke-6.

Dokter juga memberitahuku bahwa prosedur aborsi bias dilakukan jika aku membawa surat persetujuan dari keluarga dan di temani oleh pasanganku. Harga aborsi sendiri bervariasi tergantung dari usia kandungannya, dan untuk usia kandunganku yang mengnjak minggu ke-10 biayanya sekitar 4 jutaan.

Aku tercengan sekaligus kecewa dengan penjelasan tersebut, terlebih lagi aku sangat kecewa dengan sikap dokter tersebut.

Akhirnya sore itu aku pulang dengan membawa kabar buruk untuk Bram. Jelas-jelas kami tidak mungkin melakukan prosedur aborsi di klinik tersebut karena kami tidak memiliki cukup uang.

Malam itu di tempat Bram aku menangis menceritakan perlakuan buruk di klinik yang sangat mengecewakanku dan membuatku merasa begitu buruk.

Bram hanya bisa mendengarkanku dan memberikan pelukan yang hangat. Selebihnya ia hanya diam, sibuk dengan fikirannya sendiri, seperti biasanya.

Malam itu kami benar-benar kebingungan, karena tampaknya tak ada titik cerah yang bisa memberi jalan keluar bagi permasalahan kami saat itu. satu-satunya yang kemudian terfikir oleh kami adalah menghubungi sahabat kami yang sebelumnya pernah melakukan aborsi, kemungkinan besar ia tahu di mana kami bisa melakukan aborsi dengan biaya yang murah meskpun jelas konsekuensinya kami harus melawan hukum dan melakukan prosedur yang tidak menjamin keamanan dan kesehatan kami.

Beberapa hari kemudian aku menemui sahabat ku itu dan mengajaknya keluar. Saat itu cuaca sangat cerah, suatu sore dengan langit senja yang merah menjadi latar kami ketika kami mengobrol di sebuah jalan layang tepat di atas stasiun Lempuyangan Jogjakarta. di sanalah aku bertutur semua permasalahan ku yang di balas dengan raut muka kaget dan kecewa, sahabat ku serentak memelukku dan berjanji akan membantuku mencari jalan keluar.

Selama bermalam-malam selanjutnya aku terus menangis membayangkan apa yang akan terjadi pada jabang bayi ini dan betapa takutnya harus kehilangan sesuatu yang telah menyatu dengan diri ku. Aku gelisah dan merasakan kesedihan yang dalam karena waktu semakin dekat untuk melepasnya, seketika naluri keibuanku muncul, aku merasa begitu kuat dan akan mampu mempertahankan bayi ini dalam keadaan apapun, aku merasa yakin bahwa akan selalu ada jalan agar kami tetap bersama tanpa melepas bayi ini. Namun pada saat yang bersamaan aku juga merasa takut dan cemas membayangkan bagaimana reaksi keluarga terutama ibuku jika mengetahui hal ini. Dalam saat yang bersamaan, semua emosi bercampur di dalam hati dan fikiranku hingga aku benar-benar merasa kalut dan tidak mampu berfikir dengan jernih. Aku memasrahkan semuanya pada Bram.

Sebagian hatiku selalu ingin mempertahankan jabang bayi yang ada didalam rahimku, apalagi semakin hari aku merasa semakin dekat dengannya, aku berbicara dan bertutur banyak hal padanya. Tidak hanya itu, kehadiran jabang bayi di dalam rahimku telah membuat hubunganku dengan Bram semakin kuat, Aku merasakan getaran yang kuat setiap kali aku menatap Bram dan melihat kedua bola matanya, aku merasa seperti itulah kedua mata anakku nantinya. Aku juga merasakan betapa Bram semakin dekat dan menyayangiku.

Namun, akhirnya aku harus rela membuat keputusan ini karena aku juga menyadari masa depan Bram ada di tangan kami saat itu. aku mungkin tidak bisa menyelamatkan anakku saat itu, namun aku masih bisa menyelamatkan masa depan ayah dari anakku yang tentunya sangat aku cintai. Begitu pula masa depanku sendiri.

Aborsi adalah sesuatu yang tidak benar dalam pandangan moral dan keyakinanku. aku tidak pernah menyangka akan pernah membuat pilihan ini meskipun pada saat itu tampaknya aborsi adalah satu-satunya pilihan terbaik yang kami punya. melawan sesuatu yang aku yakini benar tentunya membuat diriku kecewa, jauh di dalam diriku aku merasa hancur karena tidak mampu melakukan sesuatu yang benar menurut keyakinanku. namun pada saat yang bersamaan aku juga merasa takut karena apa yang aku yakini benar bisa jadi akan membuat kami kehilangan kesempatan untuk membangun hari esok yang lebih baik.

Saat itu akhir bulan Januari, aku di temani 2 orang temanku berangkat menuju kota Solo. Satu jam perjalanan menuju Solo tidak terasa begitu lama, kami menumpang sebuah mobil Hartop tua berwarna coklat muda. Sepanjang perjalanan aku masih bengingat lantunan tembang reggae dari Shaggy Dog memberi warna ceria pada perjalanan yang muram ini. Saat itu Bram tidak menemaniku karena sahabatku meminta agar Bram tidak perlu ikut ke tempat di mana kami akan melakukan prosedur aborsi. Sebagai gantinya sahabatku mengajak salah satu teman lelakinya yang juga sekaligus penghubung dengan si ”Mamih” yang akan menegerjakan prosedur aborsi nanti.

Jujur saja,pada saat itu aku tidak merasakan emosi apapun. Ketika mobil mulai melaju aku tidak merasakan ketakutan atau kegelisahan seperti yang ku bayangkan sebelumnya. Mungkin saking paniknya dan juga terburu-buru, aku tidak punya cukup persiapan untuk menghadapi keadaan darurat seperti saat itu. Apalagi beberapa jam sebelum keberangkatanku ke Solo, aku dan Bram masih kebingungan mencari kekurangan uang yang kami butuhkan untuk membiayai prosedur aborsi tersebut.

Aku termasuk orang yang sulit menunjukkan emosi ku di depan lingkunganku, apalagi ketka melibatkan permasalahan pribadi yang cukup berat, aku terbiasa untuk tampak baik-baik saja daripadaa harus mengekspresikan rasa cemas dan gelisahku. Mungkin itu sebabnya pada saat perjalanan menuju Solo aku merasa baik-baik saja, sepertinya ketakutan dan emosi-emosi ku yang lainnya terkubur di bawah alam sadarku. Mungkin jika Bram yang menemaniku saat itu, keadaannya akan berbeda, aku akan tampak sangat cemas dan bergantung sepenuhnya pada Bram. Selain itu aku merasa tenang karena sahabatku juga sebelumnya pernah melakukan aborsi dan tampaknya hal itu bukan sesuatu hal yang menegangkan baginya.

Akhirnya kami tiba di kota Solo sekitar pukul 3 sore hari. Mobil kami langsung menuju sebuah hotel kecil di salah satu sudut kota Solo. Aku tidak bisa mengingat dengan jelas nama hotel tersebut, tapi aku masih ingat rupa hotel itu. Sebuah hotel kecil 2 lantai bercat putih dengan tempat parkir yang sangat sempit. Saat itu aku menunggu di dalam mobil sementara kedua temanku mengurus pemesanan kamar hotel. Aku baru turun dari mobil ketika sebuah kamar kecil di samping ruang resepsionis telah di persiapkan sedemikian rupa. Mereka sengaja memilih kamar yang langsung memiliki akses ke tempat parkir agar memudahkan kami check-out tanpa harus melalui ruang resepsionis dan memancing curiga para petugas hotel.

Kamar hotel itu berada di lantai satu dengan teras yang langsung menghadap tempat parkir, kamar ketiga dari sebelah kanan yang sedikit menjorok dan tidak tampak terbuka. Aku memasuki kamar hotel itu sekira pukul setengah 4 sore. Kamar hotel itu berukuran 4×4 dengan dinding bercat putih. Sebuah ranjang berukuran besar dengan seprai putih menghadap ke pintu utama, di sebelah kiri ranjang tersebut ada sebuah meja teh kecil dengan 2 kursi kayu berukir. Aku tidak ingat melihat sebuah televisi di sana. Di bagian belakang ada lorong kecil yang menuju toilet. Toilet kecil dengan shower tanpa bathub. Hal yang paling aku ingat dari kamar hotel itu adalah sebuah selimut besar dan tebal berwarna merah darah, sesuatu yang tampak anggun dan megah di dalam sebuah kamar yang sangat biasa.

Kami tidak perlu menunggu lama hingga akhirnya datang seorang perempuan berumur kurang lebih 50 tahunan ke kamar kami.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai ”Mamih”, yang ternyata baru saja sampai dari perjalanannya dari Wonogiri, tempat dimana ia tinggal dan biasa bekerja sebagai staff salah satu rumah sakit di sana. Hal pertama yang Mamih lakukan adalah memintaku mandi air hangat dan membersihkan vaginaku. Ketika aku masuk ke toilet, mereka berbincang hangat seakan mereka memang sudah saling lama mengenal.

Saat air hangat membasahi tubuhku, aku bisa merasakan kegelisahan yang luar biasa mencengkeram seluruh permukaan kulitku. Aku memejamkan mata membayangkan suatu keadaan yang tak bisa ku perkirakan. Akan seperti apa nanti? akankah menyakitkan? akankah berjalan lancar dan cepat? apakah aku akan baik-baik saja? semua kecemasan muncul menjelma ketakutan yang luarbiasa menegangkan bagiku. aku memikirkan Bram yang tidak ada di sampingku dan berharap semoga Bram mengirimkan do’a bagi keselamatanku.

Tubuhku basah, air hangat yang seharusnya menghangatkan tubuhku tetap tak bisa menenangkan hati dan fikiranku. Aku menggigil oleh rasa cemas yang meliputi seluruh tubuhku.

Aku melangkah ke luar toilet. Mamih telah menyiapkan sebuah sudut di bagian ujung ranjang yang telah di lapisi oleh beberapa lapis kain dan selimut merah itu.

Aku terbaring pasrah di atas ranjang, entah emosi apa yang ku rasakan saat kedua temanku duduk di sampingku dan memandangku dengan pandangan mata yang cemas.

Mamih memeriksa perutku dengan tangannya. Perut bagian bawah di raba dan di tekannya. Mamih sempat melontarkan beberapa pertanyaan seputar umur kehamilanku. Perkiraanku saat itu umur kehamilanku menginjak minggu ke 6 namun menurut Mamih umur kehamilanku sudah mulai menginjak bulan ke 2.

Mamih memintaku membuka celana dalam dan memakai kain sarung, lalu kedua kakiku dibuka dan diangkatnya, tentu saja aku menolak, aku tidak terbiasa harus mengangkang di hadapan orang lain apalagi pada saat itu ada lelaki di sana. Namun Mamih memaksa dan meyakinkanku bahwa prosedur aborsi tidak dapat di lakukan jika aku enggan menurutinya, akhirnya aku patuh setelah meminta teman lelakiku untuk menunggu di luar kamar hotel.

Disanalah aku menggadaikan nyawaku. Di sebuah kamar hotel di salah satu sudut kota Solo di akhir bulan Januari yang muram. Sebuah kamar hotel kecil berukuran 4×4 bercat putih, tanpa TV, dengan 2 kursi kayu dan sebuah meja teh kecil, beralaskan selimut berwarna merah semerah darah yang mengalir dari liang vaginaku.

Hanya ada aku, Mamih dan Debbi. Tanpa sempat memikirkan rasa malu aku mengangkang tepat di hadapan Mamih dan membiarkan jari-jemari Mamih bergerak masuk ke dalam vaginaku. Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasa ngilu merontokkan seluruh urat nadiku ketika jari Mamih masuk makin dalam hingga menyentuh dinding rahimku. Air mataku bercucuran menahan rasa sakit namun suaraku hilang tertelan rasa takut yang ajaib.

Seketika bayangan hidupku muncul, masa-masa yamg telah berlalu tersibak di urat mataku. Aku mengingat ayah dan ibuku. Dan rasa sakitku pun semakin menggila bercampur dengan rasa bersalah. Hal yang paling menyakitkan saat itu adalah mengingat betapa kedua orangtuaku bangga akan diriku sedangkan aku telah mengecewakan mereka dengan perilaku ku. Air mataku makin bercucuran menahan rasa sakit dalam dadaku.

” Ya Tuhan ampuni aku…beri aku kesempatan hidup !” Jeritku dalam hati.

Seluruh tubuh ini semakin lunglai, aku kehilangan seluruh kekuatanku ketika jari Mamih memasukan sesuatu ke dalam vaginaku. Aku meronta dan berteriak kesakitan. Debbi dan Mamih menahanku namun aku meronta lebih lebih kuat lagi melawan rasa sakit ini. akhirnya Debbi memanggil Ferry masuk dan meminta bantuannya untuk menahanku. Debbi memegangi tangan kananku dan Ferry menahanku di sebelah kiri sementara Mamih meneruskan pekerjaannya.

Ya Tuhan, benar-benar menyakitkan, vaginaku di koyak-koyak seperti sebuah mainan, jari jemari Mamih bermain-main di dalam liang vaginaku. Seluruh urat vaginaku berkontraksi dan mencoba melawan, namun percuma rasa sakit itu jauh lebih kuat. Aku bisa merasakan mulut vaginaku menyempit dan menjepit jari Mamih, Mamih memintaku melepaskannya dan membiarkan Mamih menyuntikan obat tersebut. Aku tak punya pilihan untuk mundur selain bertarung dengan rasa nyeri ini.

Akhirnya Mamih berhasil memasukan cairan tersebut melalui dinding rahimku. Dan ketika cairan itu menembus dinding rahim, aku bisa merasakan rasa mual yang hampir keluar dari kerongkonganku. Seluruh isi perutku memberontak dan menyebarkan rasa ngilu ke sekujur tubuhku. Ketika cairan itu mulai menyebar di dalam rahimku, aku bisa merasakan seluruh urat nadiku seakan meleleh, aku menggeliat dalam rasa sakit yang melumpuhkanku. Aku tidak pernah merasakan sakit yang jauh lebih nyata dari ini seumur hidupku.

Aku menggenggam tangan Debbi dan Ferry kuat-kuat. Gigi-gigiku bergetar menahan nyeri yang luar biasa hebatnya. Sesuatu di dalam diriku memaksaku untuk melawan dan keluar dari situasi ini, namun rasa ngilu terlanjur melumpuhkanku dan membuatku kehilangan akalku.

Detik berikutnya, aku serahkan semuanya pada kuasa Tuhan. Aku tak meminta apapun selain ampunan bagi aku dan Bram. Aku memohon pengampunan di ujung ajalku. Jikapun aku mati pada siapa lagi aku berserah diri.

Saat itu aku fikir aku akan mati. Aku hampir kehilangan kesadaranku. Aku merasa seakan tubuhku telah melayang dan tak bisa merasakan apa-apa lagi.

Maka, akupun tak bisa mengingat rasa sakit itu lagi. Aku hanya bisa mengingat sekelebat bayangan muncul di pelupuk mataku, aku melihat sinar mata orang-orang yang ku kasihi, ayah ibuku, keluargaku dan Bram.

Aku mulai tersenyum mencoba meraih mereka.

”Nah…sudah selesai.” Mamih tersenyum ke arahku yang kubalas dengan tatapan kosong.

Selama beberapa menit ke depan aku menjadi shock. Otakku masih bisa berfikir dan mengingat semua yang terjadi, namun tubuhku tak lagi bisa bergerak. Aku terbaring lemah dan tak berdaya. Mulutku menganga tanpa mengucap sepatah katapun, air mataku berlinang. Aku beku. Mati rasa.

Aku baru saja bergelut dengan kematian.

Jika ada yang ku tahu tentang rasa kematian, maka dalam bayanganku itulah sesakit-sakitnya kematian.

Aku bersyukur pada tuhan yang masih menyayangiku, dia masih sudi untuk menyelamatkan ku dari kematian yang hampir menggerogotiku, walaupun Ia tahu aku baru saja memberi kematian pada salah satu manusia kecil tak berdosa

Aku bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju toilet, kedua pahaku masih terasa tegang akibat menahan rasa sakit yang menjalar di dalam lubang vaginaku. KJu basuh dan kubersihkan liang vaginaku dari sisa-sisa cairan yang mengalir dari dalam liang vaginaku. Air hangat tak mampu melepuh rasa sakit yang masih seakan mencengkaram dinding rahimku. Debbi menggedor mengetuk pintu toilet dan menyodorkan selembar pembalut.

” Cepat ya, kita harus segera pulang.”

Aku hanya mengangguk sembari meringis menahan sisa rasa sakit.

Dalam beberapa menit aku sudah keluar dari toilet dan bersiap segera check out dari kamar hotel. Mamih sempat mengajak kami mengobrol sebentar, memberi tahu ku agar segera pulang ke Jogja dan menunggu beberapa jam lagi sampai si jabang bayi keluar dari lubang vaginaku.

” Kalau ada apa-apa nanti hubungi Mamih aja ya.”

Cuma itu kata-kata terakhir yang kudengar dari Mamih sebelum ia beranjak meninggalkan kamar hotel.

Kedua temanku segera mengurus semua barang yang masih ada di dalam kamar, lalu mengajakku keluar dari kamar hotel sesegera mungkin. Aku masih bisa merasakan rasa sakit dan mual yang menggerogoti perutku, namun saat itu aku harus tetap berjalan kaki sendirian menuju mobil, ku coba berjalan sebiasa mungkin dan menahan rasa sakit agar orang-orang di hotel tidak ada yang mencurigai kami.

Kami meninggalkan Solo pukul setengah 6 sore, aku terbaring di bagian belakang mobil dengan kaki mengangkang menahan rasa ngilu yang semakin menjadi-jadi. Mobil yang kami pakai adalah mobil tua, setiap kali ia melewati polisi tidur aku bisa merasakan guncangan yang kuat yang membuatku semakin ngilu. Aku bisa merasakan darah mulai keluar dengan deras dari mulut vaginaku, setiap kali darah itu keluar aku bisa merasakan daerah pinggangku melilit kesakitan yang bercampur dengan pegal yang luar biasa hebatnya. Sekali lagi satu-satunya yang menghiburku adalah nyanyian dari Shaggy Dog.

” di sayidan..di jalanan..

sekali lagi angkat gelasmu kawan…

di sayidan di jalanan…

tuangkan air kedamaian ”

Kedua temanku yang duduk di depan mengobrol dengan asyiknya sementara aku melawan rasa sakit yang membuatku terduduk kaku di jok belakang. Aku yakin mereka mencoba bersikap setenang mungkin agar aku tidak semakin risau dan gelisah.

” Tenang ya na…gak pa pa kok, ntar kalo dah keluar pasti semuannya beres. kalo ada apa-apa kita telpon Mamih aja ya.” Debbi berusaha menenangkanku.

Aku tak ingat apakah pada saat itu aku merasa lega atau tidak. Seharusnya aku merasa lega karena akhirnya prosedur aborsi itu berhasil dan aku tidak dapat meneruskan lagi kehamilanku. Namun rasa sakit yang kurasakan pada saat itu benar-benar telah membutakanku. Aku tak benar-benar ingat apakah aku merasa lega atau tidak. Aku hanya ingat bahwa pada saat itu aku sempat merasa marah pada Bram karena tidak ada di sampingku dan menemaniku melewati saat-saat itu. Namun pada saat yang sama aku juga yakin bahwa Bram pasti juga tengah memikirkanku dan mendoakan keselamatanku.

Pada saat itu aku hanya berharap ada Bram di sampingku menemaniku melewati saat-saat sulit seperti ini, aku yakin genggaman tangan dan tatapan matanya akan mampu menguatkanku. Air mataku tak sempat keluar saking pedihnya sakit yang harus kutahan.

Jalanan menuju Jogja tampak begitu panjang dan melelahkan bagiku, satu setengah jam rasanya seperti berminggu-minggu lamannya bagiku. setiap kali aku merasakan guncangan aku hanya berharap semoga saja itu adalah guncangan yang terakhir. Namun guncangan itu seperti tidak ada habisnya.

Setelah melalui perjalanan yang lama dan menyakitkan, akhirnya kami sampai di Jogja pukul 7 malam. Kedua temanku singgah di KFC untuk membelikanku soup jagung favoritku. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya kami pulang menuju kostan Debbi.

Sesampainya di kamar Debbi, aku langsung ke kamar mandi dan mengganti pembalut, aku merasakan perutku mual saat aku melihat banyaknya darah yang mengucur dari mulut vaginaku. baru satu setengah jam yang lalu aku memakai pembalut, namun aku harus sudah menggantinya lagi saking banyak nya darah yang keluar.

“Gimana na, dah keluar belum ?” Debbi menengok dari balik pintu .

”Aku gak tau, kayak apa keluarnya?” Jawabku kebingungan

Debbi lalu melihat ke arah pembalutku, lalu menerangkan padaku bahwa nanti akan keluar gumpalan daging berwarna merah gelap pekat. Namun aku tak melihatnya selain darah segar berwarna merah.

” Ya udah ga pa pa, tunggu aja, biasanya 1-2 jam kemudian baru keluar, kamu mungkin rada lama kali.”

Setelah selesai aku keluar dari kamar mandi dan duduk di atas tempat tidur dengan seprai berwarna biru. aku meminjam hp Debbi untuk mengirim sms.

” Meong, sakit banget…aku gak kuat.

kamu di mana? harusnya kamu ada di sini. ”

……..message sent……..

Malam itu aku merasa begitu kosong dan hampa, aku ingin segera bertemu Bram dan melewati malam ini bersama dengan Bram. Tubuhku lunglai oleh rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhku. Aku merasakan ngilu yang luar biasa setiap kali darah itu mengucur dari mulut vaginaku. Aku ingin pulang malam itu. Namun Debbi melarangku pulang dengan alasan agar aku bisa lebih leluasa dan tenang di tempatnya. Aku di perbolehkan pulang jika si jabang bayi sudah benar-benar keluar dari rahimku.

Malam itu aku menelpon Bram dan menangis menceritakan apa yang kualami hari ini. Betapa aku ingin bertemu dan berkumpul lagi dengannya saat ini. Bram hanya berbicara sedikit dengan suara yang gelisah, ia mencoba menenangkanku dan mengingatkanku bahwa kami harus bersabar hingga semuanya selesai.

” Yang kuat ya pus…i luv u ” Hanya itu kata-kata Bram yang menjadi kekuatanku melalui malam yang berat dan menyakitkan.

Malam itu akhirnya aku tidur di tempat Debbi. Setelah menelan pil pengurang rasa sakit akhirnya aku bisa sedikit berdamai dengan tubuhku dan akhirnya tertidur setelah lelah melawan rasa sakit.

Keesokan paginya aku bangun lebih siang dari biasanya, darah yang semakin banyak mengucur dari mulut vaginaku membuatku terbangun dan memaksaku untuk mengganti pembalut untuk kesekian kalinya.

Pagi itu Debbi duduk di sebelahku di atas ranjang berseprai biru.

” Gimana na, udah keluar?”

Aku kembali menggelengkan kepala

” Kok bisa ya, biasanya beberapa jam langsung keluar. kok kamu nggak ya?

Debbi malah tampak lebih bingung dari aku

“ Gw telpon Ferry dulu ya suruh dia telpon Mamih“

Aku cuma mengangguk. Aku benar-benar tak peduli. Saat itu aku hanya menginginkan angin secepatnya mengirimkan Bram untukku. Dan pagi itu terasa sangan lama untukku, otakku berputar berusaha mengingat kejadian hari kemarin, namun satu-satunya yang ku ingat dengan jelas adalah rasa sakit yang hebat. Perutku terasa mual setiap kali mengingat jari jemari Mamih masuk ke dalam liang vaginaku dan mengotak-atiknya.

Akhirnya Bram datang pukul 10 pagi, ia duduk di sampingku dan menatapku dengan pandangan yang begitu mengiba, kedua tangannya meraih tanganku dan menciumnya. aku hanya bisa meneteskan air mata dan sesenggukan menjatuhkan diriku ke dalam pelukannya. Bram mendekapku dan mengelus rambutku.

“Maafin aku ya pus..”

Tatapan mata Bram semakin layu melihatku yang lunglai menyerah di hadapannya. Kupasrahkan seluruh rasa sakit dan kerinduanku.

“Bawa aku pulang ya, aku mau sama kamu ” Aku menatapnya dan memintanya berjanji untuk membawaku turut serta bersamanya. Bram mengangguk dan tersenyum. sebuah senyum yang melegakan hatiku.

Akhirnya siang itu aku pulang ke tempat Bram.

Dan jabang bayi itu belum juga keluar dari rahimku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *