Relasi dan perubahan emosi setelah aborsi? Wajar terjadi.

Posted on Posted in Emosi & Relasi

Sering kamu mengalami perubahan emosi setelah aborsi, kenapa ini bisa terjadi?

Merasa sedih, bingung dan kehilangan setelah aborsi. Ada apa dengan saya?

Sangat wajar jika anda merasakan perubahan emosi setelah aborsi. Perempuan biasanya menjadi ragu dengan keputusan yang dibuatnya dan merasa bersalah atas keputusan tersebut. Hal ini selain berhubungan dengan sistem nilai dan budaya, juga berkaitan dengan hormon di dalam tubuh. Hormon di dalam tubuh mengalami perubahan drastis dengan adanya intervensi aborsi, perubahan hormon inilah yang biasanya mempengaruhi emosi perempuan. Berkurangnya tanda-tanda kehamilan berkaitan dengan hormon yang kembali seimbang, biasanya kondisi emosional juga semakin membaik.

Jika sahabat/pasangan anda mengalami hal ini, jangan menghakimi situasinya. Biarkan ia mengeluarkan perasaannya dan berbagi emosi dengan anda. Jika anda bingung harus merespon, diam adalah hal terbaik yang bisa anda lakukan, sembari mendorongnya untuk melakukan konsultasi dengan konselor agar bisa menyikapi perubahan emosi setelah aborsi.

Relasi yang gagal biasanya berakar dari permasalahan komunikasi yang tidak terpecahkan. Kemampuan mengkomunikasikan perasaan dan berbagai emosi yang di miliki oleh orang-orang yang terlibat dalam relasi tersebut merupakan kunci utama keberhasilan suatu hubungan. Memang tidak mudah untuk dapat mengkomunikasikan perasaan dan emosi. Ketakutan akan penolakan dan kesalah pahaman dari orang lain cenderung membuat seseorang tetap menyimpan berbagai perasaan dan emosinya. Rasa percaya diri yang berkurang membuatnya merasa tidak setara dengan pasangan relasinya dan membuatnya semakin menarik diri sedikit demi sedikit. Merasa tidak didukung, merasa sendirian dan kecemburuan yang berlebihan juga menambah resiko gagalnya suatu relasi

Sebuah studi menunjukkan bahwa pasangan yang pernah aborsi memiliki resiko kegagalan dalam relasinya. Hal ini tidak sepenuhnya benar dan tidak berhubungan langsung dengan aborsinya. Penyebab utamanya terletak pada komunikasi dan keterbukaan. Setelah aborsi, tiap perempuan mengalami perasaan yang berbeda-beda, ada yang merasa lega namun ada juga yang merasa sedih. Merasakan emosi-emosi tersebut sangat normal setelah aborsi. Nilai-nilai, keyakinan, dan budaya kita berperan besar dalam mengembangkan perasaan-perasaan ini. Setelah aborsi, hormon-hormon di dalam tubuh mengalami perubahan, dan hal ini dapat mempengaruhi emosi anda. Dibutuhkan waktu bagi hormon dan emosi anda untuk kembali normal. Hal ini adalah normal mengingat keputusan aborsi bukanlah keputusan yang mudah. Dalam situasi ini seringkali perempuan menekan emosinya dan ketika berusaha mengkomunikasikan hal ini dengan pasangannya, ia merasa pasangannya tidak memahaminya. Itu sebabnya penting memahami hal ini sebelum memutuskan untuk aborsi, supaya pasangan bisa membicarakan hal ini secara terbuka dan saling mendukung.

Coba tips berikut jika anda ingin memperbaiki relasi anda:

  • Ajak pasangan anda untuk berbicara dari hati ke hati, ungkapkan emosi anda dan mintalah bantuannya untuk memahami keadaan anda dan membantu anda mengatasi permasalahan anda.
  • Jujur lah tentang ketakutan dan kegelisahan anda, minta lah pendapatnya tentang apa yang anda rasakan.
  • Lakukan kegiatan yang biasa anda lakukan berdua dan nikmati waktu anda bersama pasangan anda.
  • Jika anda mencintai pasangan anda, yakinlah bahwa anda hanya akan bisa membahagiakan pasangan anda jika anda mampu mengendalikan masalah anda, dan anda hanya bisa membahagiakannya jika anda cukup bahagia dengan diri anda sendiri. Sebaliknya, anda hanya akan membuatnya ikut menderita jika anda tidak punya keinginan untuk pulih dari trauma anda.
  • Jika anda berdua merasa tidak cukup mampu mengatasi permasalahan ini bersama-sama, anda bisa menemui terapis untuk membantu anda berdua agar dapat melihat permasalahan dengan lebih objektif. atau,
  • Jika anda ingin berbicara dengan seseorang, tanpa merasa dihakimi, yang akan mendengarkan anda dan memahami anda, anda bisa menghubungi hotline dan berbicara dengan konselor.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *