Bagaimana caranya mendukung perempuan yang pernah aborsi?

Posted on Posted in Aborsi Aman, Emosi & Relasi, Pasca Aborsi

Bagaimana caranya mendukung perempuan yang pernah aborsi?Bagaimana caranya mendukung perempuan yang pernah aborsi? Pertanyaan ini adalah bagi pasangan, teman, keluarga, para pendukung ataupun para professional yang berhadapan dengan para perempuan yang sedang menghadapi masa pemulihan dari stress pasca aborsi. hanya sedikit orang yang mengerti bagaimana seorang perempuan bereaksi dan mencoba pulih dari trauma aborsi yang di alaminya, dan tidak banyak orang-orang yang mengerti atau paham apa dan bagaimana merespon emosi dan sikap perempuan yang masih terpengaruh emosinya oleh peristiwa aborsinya.  informasi ini berasal dari mereka yang telah mengalami post-abortive berdasarkan penglaman atas apa yang dapat dan tidak dapat membantu mereka melalui masa pemulihan.

Sikap yang mendukung :

  • Bertanyalah, “ Bagaimana kabarmu?”
  • Selalu siap untuk mendengarkan daripada terus menghindari topik sensitif ini.
  • Ingatkan bahwa anda tidak dapat menghilangkan lukanya, tapi anda dapat mendengarkan kan dan meyakinkan nya bahwa mereka tidak sendiri.
  • Tunjukkan bahwa anda peduli dan perhatian.
  • Jika pasanganmu memilih untuk berbicara tentang janinya sebagai “bayi”, biarkan saja. Jangan mencoba memberikan argumentasi medis tentang perkembangan janin. Anda di situ untuk mendengarkan, bukan mengajarinya.
  • Selalu ada untuk mendengarkan, mengarahkan, membantu apapun yang bisa anda lakukan pada saat itu.
  • Katakan bahwa anda mengerti perasaan dan luka hatinya.
  • Katakan bahwa anda menyesal harus mengetahuinya berada di posisi itu dan harus membuat keputusan tersebut.
  • Membiarkannya mengeksprsikan kemarahan dan penyesalan nya.
  • Perhatikan jika ia mulai mengisolasi dirinya, terus menghubunginya melalui telepon, kunjungi  atau ajak jalan-jalan keluar.
  • Hormati privasi nya dan jangan mengatakan permasalahan ini pada orang lain tanpa seijinnya.

Sikap yang tidak mendukung:

  • Jangan berfikir pada titik dimana umur pada masa kehamilan mencerminkan nilai-nilai dan dampaknya.
  • Jangan mengecilkan perasaan, kesedihan dan duka citanya dengan mengatakan bahwa ada hal lain yang jauh lebih penting daripada aborsi yang membuatnya stress.
  • Jangan takut untuk menyentuh dan memeluknya, hal itu dapat jauh lebih menentramkan daripada kata-kata.
  • Jangan menghindarinya kerana anda merasa tidak dapat membantu dan tidak nyaman atau tidak tahu harus berkata apa.
  • Jangan mengubah topik ketika ia membicarakan aborsinya. Coba untuk mendengarkan apa yang ingin dia katakan.
  • Jangan memaksa untuk segera melalui proses berduka, membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh dan mereka tidak akan pernah lupa.
  • Jangan bertanya tentang perasaannya jika anda tidak bersedia atau tidak mau mendengarkan.
  • Jangan mengatakan bahwa anda tahu apa yang ia rasakan kecuali anda berada pada situasi yang sama.
  • Jangan mengatakan (meskipun anda merasa terluka dan merasa perlu mengatakannya) “ Kamu akan menjadi Ibu yang buruk” atau variasinya “ Kamu memang belum siap” tau komentar lainnya yang merendahkan kemampuannya sebagai ibu atau calon ibu.
  • Jangan mengatakan padanya bagaimana seharusnya perasaannya dan apa yang harus dia lakukan.
  • Jangan melihat situasinya dan memberi komentar pada frame dimana ia seharusnya merasa pulih, dan mengatakan “ kamu harus merasa jauh lebih baik saat ini” ( hal ini hanya akan membuatnya merasa jauh lebih buruk).
  • Jangan menjadikan aborsi sebagai bahan bercanda.
  • Jangan membuat jarak dengannya meskipun sulit bagi anda untuk dapat menerima dan menghadapinya. Ia membutuhkan dukungan anda.
  • Jangan bersikap seakan hal itu tidak pernah terjadi.
  • Jangan mengatakan kepadanya “ Lupakan hal itu, berhenti merasa bersalah!” atau ” Lupakan hal itu dan maju terus!”
  • Jangan memberi tahu siapapun jika anda tidak mendapat ijinnya.

Hindari pernyataan berikut:

  • “ Aku pikir semua perempuan akan merasa lega setelah aborsi”
  • ” Tegarlah, yang kuat, jangan menangis.”
  • ”Semua itu atas kehendak tuhan”
  • ”Tuhan tidak pernah memberi kita sesuatu yang tidak bisa kita atasi”
  • ” Teruskan hidupmu, ini bukan akhir dunia.”
  • ”Khawatirkan orang-orang yang ada di sini, bukan orang yang jelas tidak ada lagi.”
  • ”Setidaknya kehamilannya tidak terlalu tua.”
  • ”Kamu masih muda, kamu pasti bisa melupakannya.”
  • Jangan mengatakan “ Apakah hal itu masih mengganggu mu?”
  • Jangan mengatakan padanya bahwa ia telah menjadi egois dengan bersikap seperti ini.
  • Jangan memaksanya melakukan hubungan seks sebelum atau setelah aborsi.
  • Jangan memaksanya memuaskan keinginan seks anda, karena kebanyakan perempuan pada masa ini mengalami perubahan mood seksual.
  • ”Aku benci mengatakan bahwa bisa saja bayi itu kemudian menjadi cacat, lagipula banyak perempuan hamil yang beresiko meninggal, apakah kamu mau seperti itu?”
  • Jangan mengatakan ”Kita bisa memiliki anak lain kapan saja kamu menginginkannya.”

5 thoughts on “Bagaimana caranya mendukung perempuan yang pernah aborsi?

    1. Halo Dina, kamu bisa menghubungi layanan Hotline Samsara Indonesia atau chat dengan AskInna di pojok kanan bawah halaman website ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *