Hallo, Selamat datang di Ask Inna!

Hallo, nama saya Inna. 12 tahun lalu, saya mengalami kehamilan tidak direncanakan saat berusia 22 tahun dan menginjak semester ke-3 di kedokteran. Keluarga saya sangat relijius dan tidak memungkinkan saya bisa terbuka dan meminta dukungan mereka. Saya sangat ketakutan dan tidak tahu harus kemana atau berbagi dengan siapa. Tanpa informasi dan konseling saya akhirnya memutuskan untuk aborsi. Karena tidak memiliki cukup informasi dan uang, saya akhirnya memilih aborsi yang tidak jelas. Sebagian uangnya dari menggadaikan motor, pinjam sana-sini dan menjual apa yang saya miliki. Aborsinya berhasil namun setelah itu saya mengalami stress dan depresi selama 4 tahun. Pacar saya kabur dan hutang saya menumpuk. Aborsi saya penuh drama.

Seandainya saya memiliki informasi dan dukungan yang tepat, saya dapat membuat keputusan yang lebih baik dan tidak perlu mengalami depresi yang panjang akibat keputusan saya tersebut. Itu sebabnya saya mulai menulis blog ini di tahun 2007 saat saya mulai pulih dari depresi. Saya ingin berbagi pengalaman saya dengan perempuan yang mengalami hal yang sama. Informasi di dalam blog ini bisa kamu gunakan sebagai pertimbangan saat kamu memutuskan untuk aborsi, atau buat kamu yang pernah aborsi dan merasa stress kamu juga bisa membaca informasi di bagian Emosi dan Relasi untuk membantumu pulih dan kembali memiliki kendali atas hidupmu.

Saya percaya setiap perempuan berhak atas layanan kesehatan yang bermartabat. Yang menghormati hak-hak reprodusi perempuan dan tidak menghakimi apapun keputusan perempuan atas tubuhnya.

Jika kamu membaca cerita saya mungkin kamu tercengang dengan drama-dramanya, namun itulah yang terjadi ketika perempuan hidup dalam dunia yang patriarki. Saya tidak menyesali semua yang pernah terjadi dan menerimanya, karena perjalanan itulah yang membentuk diri saya menjadi lebih kuat dan lebih bijaksana.

Selamat membaca, semoga isi blog ini bermanfaat buat kamu.

Part 1 : Diary of Loss

Suatu pagi hari di pertengahan bulan desember 2003, Bram menunggu di kamar dengan was-was ketika aku melakukan test kehamilan dengan test-pack. Cemas dan gelisah, itulah yang aku rasakan ketika mulai mengambil urin dan melakukan test. Setelah menunggu beberapa saat ternyata hanya satu garis yang muncul. Dengan gembira aku memberikannya pada Bram, aku masih ingat betapa aku melonjak kegirangan ketika tahu hasilnya negatif. saat itu juga aku melempar test-pack dan meninggalkannya begitu saja di kamar mandi. aku langsung membuka jendela kamar dan tertawa bahagia melihat pagi yang cerah. Tawaku seketika terhenti ketika Bram memanggil untuk kembali masuk ke kamar mandi.

” De..coba lihat lagi deh.”

Bram menyodorkan test-pack dan seketika itu juga badanku serasa lunglai. Tampak 2 garis merah muncul di permukaan test-pack. Aku hamil.

Kami hanya berpandangan mata dengan tatapan kosong, dan seketika itu juga kami hanya diam membisu. Rasanya semua tiba-tiba menjadi gelap dan kosong.

Aku masih bisa mengingat dengan jelas raut muka Bram menjadi kaku, raut muka yang biasanya tegar dan kokoh itu tiba-tiba menjadi begitu rapuh. Seharian itu kami hanya diam dan mencoba untuk tak membahas kehamilanku. Kami sibuk dengan fikiran kami masing-masing.

 

Read More

Part 2 : Diary of Lost

Hanya butuh waktu 9 bulan sejak terjadinya proses aborsi sampai akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Pada saat itu aku merasa mungkin inilah keputusan terbaik bagi kami, terutama bagi bram. Setelah melalui proses yang cukup bertele-tele akhirnya aku menyetujui kemauan bram untuk putus. Pada saat memutuskan untuk berpisah bram berjanji akan membantuku meyelesaikan utang uang yang kami pakai untuk prosedur aborsi.

Ya, menjalani prosedur aborsi buat kami tidak hanya menyakitkan namun juga sangat memberatkan. Untuk ukuran mahasiswa seperti kami uang 2.5 juta bukanlah uang yang sedikit. Bahkan pada saat itu kami tidak memilikinya sama sekali, sampai akhirnya aku harus menjual handphone dan menggadai motor bebek kesayangan pemberian dari almarhum bapakku. Bram saat itu hanya memberiku beberapa ratus ribu rupiah, itupun pinjaman dari seorang teman baiknya.

Uang pinjaman yang seharusnya kami kembalikan dalam waktu sebulan terrnyata molor dari waktunya, hingga waktu yang telah kami janjikan ternyata kami tidak dapat membayarnya. Alhasil kami tidak dapat membayar bunganya yang melambung semakin tinggi setiap harinya. Untuk menutupinya, akhirnya kami menjual motor itu pada seorang teman untuk membayar hutang, aku hanya mendapat sedikit sisa kembaliannya.Sejak saat itu aku berusaha memutar otak bagaimana caranya agar bisa mendapatkan motor baru agar keluargaku tidak curiga. hal yang menenangkanku adalah pada saat itu bram berjanji akan turut bertanggung jawab dengan membantuku mencari jalan keluar.

 

Read More