Diary of Lost

Posted on Leave a commentPosted in My Story

Hanya butuh waktu 9 bulan sejak terjadinya proses aborsi sampai akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Pada saat itu aku merasa mungkin inilah keputusan terbaik bagi kami, terutama bagi bram. Setelah melalui proses yang cukup bertele-tele akhirnya aku menyetujui kemauan bram untuk putus. Pada saat memutuskan untuk berpisah bram berjanji akan membantuku meyelesaikan utang uang yang […]

Diary of Loss

Posted on Leave a commentPosted in My Story

Suatu pagi hari di pertengahan bulan desember 2003, Bram menunggu di kamar dengan was-was ketika aku melakukan test kehamilan dengan test-pack. Cemas dan gelisah, itulah yang aku rasakan ketika mulai mengambil urin dan melakukan test. Setelah menunggu beberapa saat ternyata hanya satu garis yang muncul. Dengan gembira aku memberikannya pada Bram, aku masih ingat betapa […]

herstory

Saya, perempuan dan sejarah kekerasan diri (Bagian Ketiga)

Posted on Leave a commentPosted in Aborsi Aman, Emosi & Relasi, HAM, My Story

Ketika saya menikah dan hamil kembali, perlakuan tenaga kesehatan kepada saya bagaikan bumi dan langit. Status nyonya seakan-akan merupakan tiket emas bagi senyuman dan dukungan atas kehamilan saya. Saya merasa ini sama mengerikannya—sikap standar ganda ini terasa begitu palsu. Saya melewati kehamilan saya dengan baik dan melahirkan dengan normal. Anak saya sehat dan baik-baik saja sampai […]

herstory

Saya, Perempuan dan Sejarah Kekerasan Diri (bagian kedua)

Posted on Leave a commentPosted in Aborsi Aman, Emosi & Relasi, KTD, My Story, Pra Aborsi, Selama Aborsi

Ditulis oleh Astrid Reza di Yogyakarta pada 27 Oktober 2010 Usia saya nyaris dua puluh tahun ketika saya memutuskan untuk melakukan aborsi. Saya tidak siap menjadi seorang ibu, dan pacar saya pada saat itu pun tidak mau bertanggung jawab. Saya memutuskannya sendiri. Saya sadar risiko yang saya ambil dan saya bertanggung jawab kepada diri saya sendiri. […]

herstory

Saya, Perempuan dan Sejarah Kekerasan Diri (bagian pertama)

Posted on Leave a commentPosted in Aborsi Aman, Emosi & Relasi, HAM, My Story

Ditulis oleh Astrid Reza pada 27 Desember 2010. Ketika Yendi Amalia dari YSIK meng-email saya sekian minggu yang lalu, meminta saya menulis untuk kampanye “16 Hari untuk Selamanya”, sebuah kampanye anti kekerasan terhadap perempuan internasional yang berlangsung pada tanggal 25 November–10 Desember 2010, saya langsung mengiyakan dan saya kira tulisan ini akan mudah. Saya kira […]