foreword

Beberapa di antara kita, bahkan yang sudah tidak lagi mengenyam bangku pendidikan—atau bahkan yang sama sekali tak pernah berkesempatan untuk itu, mungkin sudah sangat bosan dengan sejarah. Sejak kecil, sudah sering sekali kita dicekoki oleh perihal yang satu ini. Entah di rumah dengan sejarah kehidupan orang tua kita, kek; di sekolah dengan sejarah bangsa yang penuh tanggal dan tahun, kek; dan bahkan di kantor pun terkadang kita masih dicekoki dengan sejarah visi dan misi perusahaan.

Bagi saya pribadi, bila memang ada yang menarik mengenai sejarah—selain kenyataan bahwa kita sering kali menggunakan sejarah sebagai alat untuk membanggakan kejayaan masa lampau atau bahan evaluasi untuk menghindari terulangnya kegagalan di masa yang akan datang—mungkin hanya penyebutannya dalam bahasa Inggris: History.

Seperti orang Indonesia pada umumnya, saya sering menganggap bahwa bahasa Inggris sedikit merepotkan. Mereka menempatkan gender ke dalam kata. Ketika kita mengenal Dia baik untuk laki-laki maupun perempuan, bahasa Inggris membedakan He untuk laki-laki dan She untuk perempuan. His untuk laki-laki dan Her untuk perempuan. Lantas, ketika kita membahasakan sejarah dengan history apakah memang hanya cerita dari para lelaki saja yang layak untuk dicatatkan di sana? Tidak juga sebenarnya. Hanya saja, kita harus mengakui bahwa perempuan memang memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mencatatkan namanya dalam sejarah. Terutama di Indonesia.

Tentang Clara Sumarwati, misalnya. Dunia mengakuinya sebagai orang Asia Tenggara pertama yang berhasil menaklukkan Everest, puncak tertinggi di dunia. Tetapi, di Indonesia sendiri, prestasi Clara diperdebatkan hanya karena tidak banyak bukti foto saat dirinya berhasil mendaki Gunung Everest di tahun 1996. Di sini, yang kita akui sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil menaklukkan Everest adalah Serka Asmujiono dalam ekspedisi yang diprakarsai oleh Prabowo Subianto pada April 1997. Saya mahfum saja, karena 'bagaimana mungkin seorang perempuan bisa mengalahkan anggota kopassus, bukan?'

Berbeda dengan Clara Sumarwati, dunia juga mengenal Karlina Supelli sebagai astronom perempuan pertama di Indonesia, tetapi bila Anda mengunjungi laman Karlina Supelli di wikipedia Indonesia, Anda mungkin tak akan menemukan informasi tersebut. Anda hanya bisa menemukan informasi tersebut di laman wikipedianya yang berbahasa Inggris, yang juga mengangkat aktivitasnya untuk membela hak-hak perempuan Aceh dan Timor yang banyak diperkosa oleh pasukan tentara kita.

Clara Sumarwati dan Karlina Supelli tidak sendiri, bila kita mau mencari, ada banyak nama perempuan yang sebenarnya layak tercatat dalam sejarah namun karena sejarah adalah his story, kita harus maklum bila nama-nama tersebut tak bisa kita temukan.

Tapi tentu saja kita tidak bisa membiarkan kebiasaan buruk ini terus lestari, bukan? Karenanya, halaman ini kami persembahkan kepada setiap perempuan untuk mencatatkan kisah mereka dalam sejarah. Bagaimanapun juga, sejarah semestinya tidak menjadi komoditas yang dimonopoli kaum laki-laki, dan bila memang kata-kata dipilih secara politis di mana kita harus memasukkan gender ke dalamnya, maka nikmatilah HerSTORY ini.

 

Salam,

herstory

Saya, Perempuan dan Sejarah Kekerasan Diri (bagian pertama)

Ditulis oleh Astrid Reza pada 27 Desember 2010.

Ketika Yendi Amalia dari YSIK meng-email saya sekian minggu yang lalu, meminta saya menulis untuk kampanye “16 Hari untuk Selamanya”, sebuah kampanye anti kekerasan terhadap perempuan internasional yang berlangsung pada tanggal 25 November–10 Desember 2010, saya langsung mengiyakan dan saya kira tulisan ini akan mudah. Saya kira saya bisa menyelesaikan tulisan ini dengan cepat dan ringkas. Namun saya salah. Pengalaman dengan kekerasan tidak pernah mudah. Hidup saya sebagai perempuan tidak pernah mudah.

Baca lebih lanjut.

Saya, Perempuan dan Sejarah Kekerasan Diri (bagian kedua)

Usia saya nyaris dua puluh tahun ketika saya memutuskan untuk melakukan aborsi. Saya tidak siap menjadi seorang ibu, dan pacar saya pada saat itu pun tidak mau bertanggung jawab. Saya memutuskannya sendiri. Saya sadar risiko yang saya ambil dan saya bertanggung jawab kepada diri saya sendiri. Bahwa saya akan menanggungnya seumur hidup saya. Saya minta maaf pada janin yang saya kandung. Saya minta maaf pada diri saya sendiri.

Bagi saya yang paling mengerikan dari pengalaman aborsi ini adalah kekerasan yang dilakukan terhadap tubuh saya. Kekerasan dari sistem, pelayanan kesehatan dan moralitas semu masyarakat mengenai pilihan-pilihan bagi perempuan dan tubuhnya. Saya mencoba merunut bagaimana semua ini terjadi.

Lanjutkan membaca

Saya, Perempuan dan Sejarah Kekerasan Diri (bagian terakhir)

Bagi saya, pelecehan seksual adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa saya maafkan dan saya terima. Laki-laki yang tidak bisa menghargai perempuan adalah sosok yang paling saya benci. Saya tidak mau anak saya tumbuh dengan ayah yang demikian. Lebih baik perkawinan saya yang kandas daripada anak saya besar dengan pandangan semacam itu. Siap tidak siap, akhirnya saya menjadi seorang orang tua tunggal.

Episode buruk ini tidak berakhir begitu saja. Ketika saya terpaksa menitipkan anak saya selama sebulan bersama mantan suami saya karena saya harus menyelesaikan studi saya—ini terjadi beberapa bulan setelah kami berpisah tempat tinggal[...]

Lanjutkan membaca

Saya, Perempuan dan Sejarah Kekerasan Diri (bagian ketiga)

Ketika saya menikah dan hamil kembali, perlakuan tenaga kesehatan kepada saya bagaikan bumi dan langit. Status nyonya seakan-akan merupakan tiket emas bagi senyuman dan dukungan atas kehamilan saya. Saya merasa ini sama mengerikannya—sikap standar ganda ini terasa begitu palsu. Saya melewati kehamilan saya dengan baik dan melahirkan dengan normal. Anak saya sehat dan baik-baik saja sampai sekarang. Saya berhasil melewati proses menyusui anak saya sampai usia dua tahun dan sekarang sedang mencoba menyapih anak saya senyaman dan sealamiah mungkin. Terlepas dari segalanya, pengalaman kehamilan kedua ini membuat saya melepaskan ketakutan dan trauma-trauma saya. Sekaligus membuat saya takjub dengan mekanisme tubuh perempuan yang luar biasa. Daya tahan yang luar biasa. Pengalaman penuh rasa sakit, keringat, air mata dan darah. Segala yang membuat saya merasa hidup.

Lanjutkan membaca

The following two tabs change content below.

Ajar Pamungkas

Creative Manager at Samsara
Ajar Pamungkas. Cisgender male who currently works as Creative Manager in Samsara, a non-government organization that provides information and counseling about unplanned pregnancy. Often called as grumpy old hag, indifferent.