Hukum Fikih Aborsi tidak Hitam-Putih

1
32
Tak kurang dari dua juta perempuan Indonesia setiap tahun melakukan tindak aborsi karena kehamilan yang tidak mereka kehendaki. Yang mengkhawatirkan, kebanyakan melakukan praktik aborsi secara tidak aman, sehingga ikut mendongkrak angka kematian ibu melahirkan di Indonesia. Lantas adakah payung hukum yang meregulasi persoalan aborsi dan menjamin keselamatan reproduksi perempuan? Berikut kami sajikan perbincangan JIL dengan Dra. Maria Ulfah Anshor, Ketua Umum Fatayat NU, penerima Saparinah Sadli Award untuk dedikasinya dalam pembelaan hak-hak reproduksi perempuan.

Di negara lain, persoalan aborsi menjadi isu kampanye yang membelah sikap partai-partai yang berkontestasi dalam pemilu antara yang pro dan kontra. Di Indonesia, isu ini belum menjadi perdebatan publik pada musim kampanye. Meski demikian, persoalan aborsi tetap perlu menjadi isu yang diperhatikan. Sebab faktanya, tak kurang dari 2 juta perempuan Indonesia setiap tahun melakukan tindak aborsi karena kehamilan yang tidak mereka kehendaki. Yang mengkhawatirkan, kebanyakan melakukan praktik aborsi secara tidak aman, sehingga ikut mendongkrak angka kematian ibu melahirkan di Indonesia. Lantas adakah payung hukum yang meregulasi persoalan aborsi dan menjamin keselamatan reproduksi perempuan? Bagaimana pula perspektif hukum Islam dalam pokok soal ini?

Untuk mendalaminya, Novriantoni dan Abd. Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal (JIL) berbincang-bincang dengan Dra. Maria Ulfah Anshor, Ketua Umum Fatayat NU. Perbincangan dengan penerima Saparinah Sadli Award untuk dedikasinya dalam pembelaan hak-hak reproduksi perempuan itu berlangsung Kamis (9/12) kemarin. Berikut petikannya.

JIL: Bu Maria, Agustus lalu Anda mendapatkan Saparinah Sadli Award untuk dedikasi Anda dalam membela hak-hak reproduksi perempuan melalui penelitian berjudul Fiqh Aborsi Alternatif untuk Penguatan Hak-hak Reproduksi Perempuan. Sebenarnya seberapa penting isu aborsi di Indonesia?

MARIA ULFAH ANSHOR: Saya kira sangat penting. Sebab, soal aborsi adalah persoalan yang sangat kompleks, tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang agama, hukum, atau medis saja. Dia harus dilihat secara komprehensif, karena pokok persoalan ini bukan berdiri sendiri. Ada berbagai faktor yang dapat kita lihat, termasuk agama, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Selama ini, ketika kita bicara tentang aborsi, yang menjadi sasaran dan korban selalu kaum perempuan. Padahal penyebab orang melakukan aborsi beragam, termasuk partisipasi laki-laki yang selama ini tidak dilihat sebagai bagian dari pihak yang ikut berproses dalam kehamilan yang tidak dikehendaki.

JIL: Berdasarkan penelitian Anda, siapa yang banyak melakukan aborsi dan atas dasar apa?

MARIA ULFAH ANSHOR: Saya tidak melakukan penelitian baru, tapi berangkat dari penelitian yang sudah dilakukan Pusat Kesehatan UI dan Yayasan Kesehatan Perempuan tahun 2003. Di situ ditemukan bahwa 87 % mereka yang melakukan aborsi adalah ibu rumah tangga dengan suami yang sah. Prof. Budi dan kawan-kawannya menemukan bahwa dalam setiap tahun terdapat 2 juta lebih kasus aborsi. Bahkan lembaga lain menemukan, dari 2 juta kasus pertahun itu, kebanyakan melakukan aborsi yang tidak aman. Selain itu, saya juga mencermati dari sisi lain di mana angka kematian ibu di Indonesia termasuk kategori sangat tinggi dibanding negara lain. Di ASEAN, Indonesia yang tertinggi. Sampai saat ini, data valid menyebutkan angkanya berkisar antara 373-800 orang per 100,000 kelahiran hidup (selamat). Nah, salah satu faktornya adalah pendarahan. Dalam kasus pendarahan inilah terdapat kasus aborsi yang tidak aman. Kasus aborsi yang menyebabkan kematian berkisar antara 13-50 % dari kasus kematian akibat pendarahan.

JIL: Apakah hukum kita membuka ruang bagi tindakan aborsi demi menjamin terselenggaranya aborsi yang aman?

MARIA ULFAH ANSHOR: Sama sekali tidak. Jadi, UU kita menutup sama sekali praktik aborsi dengan alasan apapun. Dalam UU Kesehatan terlihat sekali bahwa klausul tentang aborsi itu sangat bias (gender). Di situ diterangkan, dokter bisa mengambil tindakan tertentu untuk menyelamatkan ibu dan janinnya. Klausul ini kan menyangkut dua hal yang tidak mungkin dilakukan dalam konteks aborsi, dengan alasan menyelamatkan nyawa kedua-duanya. Padahal, dalam aborsi pasti ada yang dikorbankan.

JIL: Sekarang mari kita mengelaborasi apa kata fikih Islam soal aborsi. Apa yang anda temukan dalam buku-buku fikih?

MARIA ULFAH ANSHOR: Saya mencoba melakukan penelitian literatur dari empat mazhab fikih: Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali. Dari situ, kita dapat menemukan pendapat-pendapat yang kontroversial di kalangan ulama. Di kalangan penganut mazhab Syafi’i sendiri, ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Di mazhab lain juga sama. Ini memang isu khilafiah sejak zaman dulu.

Makanya, saya tidak memilih mana pandangan yang paling baik dan paling benar. Saya hanya ingin menegaskan bahwa dalam fikih terdapat wacana yang begitu beragam tentang aborsi. Nah, ini sebenarnya misi yang saya angkat. Sebab, hampir mayoritas orang Islam di Indonesia mengatakan bahwa aborsi itu haram. Padahal dalam kitab-kitab fikih, bahkan di kalangan Syafi’i yang nota bene menjadi panutan mayoritas umat Islam di Indonesia, juga ada yang membolehkan dengan persyaratan-persyaratan tertentu.

JIL: Apakah dengan beragamnya pandangan ulama fikih menyangkut aborsi, umat Islam bisa punya wewenang untuk memilih mana yang dianggap baik bagi dirinya: melaukan aborsi atau tidak?

MARIA ULFAH ANSHOR: Kalau saya melihatnya dari perspektif perempuan, ya! Selama ini, ketika dihadapkan pada persoalan kehamilan yang tidak dikehendaki, perempuan yang paling terbebani dan paling bertanggung jawab. Untuk mendapat pelayanan aborsi yang aman saja, nyaris tidak ada dokter yang mau memberi pertolongan. Begitu dia cerita kalau dia tidak menghendaki kehamilannya, apakah akibat perkosaan atau sebab lain, dokter selalu menolak. Sehingga kemudian mereka lari ke praktik-praktik dukun atau melalukan aborsi sendiri. Kasus seperti inilah yang paling sering menimbulkan resiko pendarahan.

Di sisi lain, masyarakat juga selalu menganggap kasus aborsi itu pasti akibat kehamilan di luar nikah. Mereka yang melakukannya dianggap berdosa. Padahal mereka punya beban yang sangat tinggi kalau anaknya sampai lahir. Misalnya orang yang diperkosa lalu hamil. Mereka adalah korban. Tapi ketika menghadapi persoalan ini, masyarakat tidak ada yang berempati atau memberi solusi, dan selalu saja bertindak menghakimi.

JIL: Tadi Anda membahas fikih Islam yang belum tersingkap di masyarakat, sehingga terjadi resiko aborsi tidak aman bagi perempuan. Apa yang bisa ditimba masyarakat dari kajian Anda ini?

MARIA ULFAH ANSHOR: Untuk kasus kehamilan yang tidak dikehendaki karena bencana perkosaan, dilihat dari sisi apapun tentu sangat membebani perempuan. Untuk kasus seperti ini, mesti dicarikan solusi yang bijak. Kalau si perempuan tidak mampu menanggung itu, baik secara medis maupun psikis, maka kalau mereka tidak menginginkan anaknya, segera saja digugurkan. Segera lakukan, dan jangan menunda. Melihat sisi pertumbuhan embrio, masa yang paling aman untuk melakukan aborsi adalah sebelum sampai 42 hari masa kehamilan. Pertimbangannya, karena proses pertumbuhan embrio sebelum 42 hari masih tergolong belum sempurna. Masih dalam taraf pembentukan, tetapi belum sempurna. Kalau dilakukan sebelum 40 hari, dia masih dalam bentuk sel. Jadi, 40 hari pertama, seperti diinformasikan Alqur’an dan Hadis masih dalam tahap nutfah, sel yang belum berbentuk organ-organ.

Secara medis, sebelum 40 hari masih tergolong aman, dan secara syar’i sendiri memiliki dasar hukum yang kuat. Dalam hadis diterangkan, apabila nutfah telah melewati masa 42 hari, Allah akan mengutus malaikat untuk membentuk rupa, penglihatan, daging, dan lain sebagainya. Lalu malaikat berkata: wahai Tuhan apa akan dijadikan laki-laki atau perempuan? Ketika itulah Allah menentukan akan dijadikan laki-laki atau perempuan. Jadi, pada hadis ini sebetulnya tersirat bahwa sebelum 42 hari, prosesnya belum terbentuk, termasuk penentuan jenis kelamin.

JIL: Pendapat fikih soal aborsi cukup beragam. Tapi faktanya kita tidak punya payung hukum yang dapat meregulasi soal aborsi. Apakah Anda berharap kajian Anda ini ditindaklanjuti menjadi undang-undang yang meregulasi soal aborsi yang aman?

MARIA ULFAH ANSHOR: Pada akhirnya, yang membuat kewenangan regulasi itu DPR dan pemerintah. Saya hanya ingin mengangkat wacana yang menawarkan solusi untuk perempuan. Jadi ada alternatif yang bisa kita lakukan. Kalau kajian ini dianggap relevan dan masyarakat sepakat perlu ada payung hukum untuk melindungi praktik ini, dan supaya dokter punya jaminan hukum untuk melakukannya, saya pikir kenapa tidak?!

JIL: Sejauh ini, apakah Anda dan para aktivis perempuan belum mengusahakan ke arah itu?

MARIA ULFAH ANSHOR: Yang kami lakukan bukan mengusahakan UU soal aborsi, karena aborsi hanya bagian kecil dari keseluruhan soal kesehatan. Jadi yang paling relevan tetap UU kesehatan. Sebab di situ tidak ada ruang untuk pengecualian-pengecualian dalam tindak aborsi. Sebab, kita tidak bisa melakukan aborsi seperti dalam kasus kehamilan yang tidak dikehendaki ini, kalau dalam klausul hukumnya tidak ada jaminan. Memang harus ada payung hukumnya.

JIL: Ada pendapat bahwa kita tidak bisa selalu memperhatikan nasib seorang ibu, tapi juga hak anak atau janin yang ada dalam kandungan untuk hidup. Imam al-Ghazali yang sering dikutip para ulama misalnya menyatakan bahwa sejak terjadinya pembuahan, sesungguhnya sudah ada kehidupan. Jadi tidak bisa digugurkan. Bagaimana menurut Anda?

MARIA ULFAH ANSHOR: Imam al-Ghazali dalam Ihyâ `Ulumuddîn memang mengatakan bahwa ketika terjadi konsepsi, transaksi tidak boleh dirusak lagi. Jadi beliau mengibaratkan proses pembuahan itu sebagai transaksi. Jadi al-maujûd al-hâshil (sesuatu yang telah terkonsepsi) itu, tidak boleh dianulir. Tapi Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang lain, al-Wajîz juga mengakui bahwa pengguguran yang dilakukan dalam tahap `alaqah (gumpalan darah) itu tidak apa-apa. Jadi yang perlu dianalisis dari pertentangan pendapat al-Ghazali ini adalah sisi hermeneutikanya. Mengapa al-Ghazali memiliki dua pandangan dan sikap yang berbeda-beda? Setelah saya kaji, ternyata beliau menulis al-Wajîz dalam kapasitasnya sebagai ahli fikih. Belakangan, ketika menulis kitab Ihyâ `Ulûmuddin, beliau dalam tahap usia lanjut sebagai filosof dan ahli sufi yang pemikirannya “sangat arif sekali”. Dalam kajian tentang hermeneutika yang ditulis pemikir Libanon, Ali Harb, dikatakan bahwa penglihatan yang sangat dalam dan kearifanlah yang menjadi metode dominan bagi kalangan sufi. Ini berbeda dengan metode kalangan ahli fikih yang melihat fakta-fakta dan kompleksitas suatu persoalan.

JIL: Lantas apa dapat dikatakan bahwa pandangan al-Ghazali dalam Ihyâ sebagai revisi atas pandangannya dalam al-Wajîz?

MARIA ULFAH ANSHOR: Menurut saya, ada tahapan yang bukan berarti revisi. Sebab, al-Ghazali pun tidak mencabut pandangannya dalam al-Wajîz itu. Jadi kita justru dapat mengambil hikmah dan alternatif pemikiran dari sini. Proses manusia untuk dapat memperoleh tahapan pemikiran ahli sufi itu kan juga butuh waktu yang lama. Nah, “kearifan” al-Ghazali itu bisa dikatakan yang ideal. Tapi untuk kondisi tertentu, itu juga tidak harus memaksa semua orang untuk berpikiran serupa seperti al-Ghazali.

JIL: Lantas bagaimana penelusuran Anda terhadap pandangan-pandangan lembaga resmi keagamaan di Indonesia tentang aborsi?

MARIA ULFAH ANSHOR: Pandangan lembaga resmi keagamaan seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah sama. Ketiga lembaga ini memfatwakan bahwa aborsi adalah haram. Jadi tidak ada elaborasi lebih lanjut. Pengecualiannya hanya untuk menyelamatkan nyawa ibu. Tapi lagi-lagi, meski dimungkinkan untuk menyelamatkan nyawa ibu, karena tidak ada payung hukum untuk praktik aborsinya, kita kesulitan. Jadi praktik yang terjadi tetap ilegal sebetulnya.

JIL: Nampaknya ada jurang yang begitu lebar antara pandangan resmi keagamaan dengan fakta di lapangan. Sebab data menunjukkan kalau 87 % pelaku aborsi di Indonesia justru perempuan bersuami, misalnya karena gagal KB, alasan kesehatan, bahkan alasan karir. Jadi tidak semata-mata karena perzinahan, ya?

MARIA ULFAH ANSHOR: Tepat. Sekarang orang memilih untuk KB, tapi tidak ada jaminan bahwa KB itu akan aman. Ada juga program KB yang gagal, dan aspek-aspek negatif dari alat kontrasepsi, sehingga orang menyebutnya kebobolan alias kembali hamil. Artinya, kehamilan itu sesungguhnya tidak dikehendaki dan mungkin akan digugurkan.

Memang kalau kita bicara normatif, saya kira tidak ada satu orangpun yang berpendapat bahwa aborsi itu dibolehkan. Itu omongan yang ideal memang. Saya sendiri berharap aborsi tidak pernah terjadi. Kalaupun dilakuan, ini kan sifatnya pengecualian. Makanya, perlu ada dokter yang memiliki keahlian, terjamin keamanannya, sesuai prosedur standar kesehatan untuk menolong. Ini diperlukan agar kita punya solusi dalam kondisi-kondisi tertentu, bukannya lari ke dukun, tukang pijat, atau mengaborsi sendiri. Itu membahayakan nyawa perempuan.

JIL: Artinya, di sini pun agama tidak bisa memberi pandangan yang hitam-putih, bukan?

MARIA ULFAH ANSHOR: Seharusnya demikian. Karena syariat kan diturunkan, justru untuk memberi jalan keluar bagi umat manusia, bukan memberi ketentuan hitam-putih saja. Ada hal-hal yang memang tidak bisa dipandang hitam-putih dalam agama, dan memang harus begitu. Dan, hukum aborsi termasuk bukan yang hitam-putih itu.[]

Sumber : Jaringan Islam Liberal

Subscribe to our newsletter

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini