Kontrasepsi dan Mitos di Sekitarnya

0
79

Akses kontrasepsi yang terbatas adalah salah satu penyebab terjadinya Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD). Padahal jika digunakan dengan benar, alat kontrasepsi perempuan dapat mencegah kehamilan hingga 98% sementara alat kontrasepsi laki-laki dapat mencegah kehamilan hingga 82%. Sayangnya, di Indonesia, akses terhadap kontrasepsi masih diperuntukkan bagi pasangan yang sudah menikah, sementara pada pasangan yang belum menikah situasi yang terjadi adalah sebaliknya. Keterbatasan ini masih diperparah dengan banyaknya mitos pada alat kontrasepsi yang menyebabkan penggunaannya justru dipandang tabu atau malah tidak perlu.

Kontrasepsi sebagai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Menurut Badan Kesehatan Internasional atau WHO, membatasi akses perempuan terhadap kontrasepsi meski dengan alasan apapun, dapat meningkatkan resiko terjadinya KTD. Terlebih jika hal ini menimpa khususnya pada perempuan remaja. KTD berdampak pada terjadinya aborsi tidak aman yang beresiko pada kesehatan reproduksi perempuan. Selain itu, di Indonesia, praktek aborsi tidak aman juga beresiko tinggi merugikan perempuan karena adanya penjualan obat aborsi palsu.  

 Kontrasepsi sebagai bagian dari hak atas kesehatan seksual dan reproduksi dapat mengurangi angka aborsi tidak aman. Selain tentu saja, dibarengi dengan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi komprehensif. Selama ini pendidikan seputar kesehatan seksual dan reproduksi hanya bertitik pada fungsi dan proses, dan bukan pada informasi yang menyeluruh. Padahal kesehatan seksual mencakup informasi yang sangat luas mengenai seksualitas, yang menyangkut dimensi fisik, emosi, mental, serta perilaku. Tidak hanya itu, kesehatan seksual juga perlu diajarkan dalam situasi yang menuntut sikap saling menghormati dan tanpa diskriminasi. Hal yang sama berlaku untuk kesehatan reproduksi. Sistem reproduksi selain secara fisik dan mental, dimensinya juga mencakup layanan kesehatan. Laki-laki maupun perempuan, remaja atau dewasa, oleh karena itu, berhak untuk mendapatkan informasi serta akses terhadap misalnya perencanaan keluarga yang aman, efektif dan terjangkau, yang layak, serta atas pilihan sendiri.

Hal ini pada dasarnya telah diatur dan dideklarasikan oleh Federasi Keluarga Berencana Internasional atau International Planned Parenthood Federation (IPPF) yang berlangsung tahun 1996. Pada pertemuan tersebut, IPPF, menghasilkan dua belas macam hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi yang mencakup:

  1. Hak untuk hidup
  2. Hak atas kebebasan dan keamanan
  3. Hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi
  4. Hak atas kerahasiaan pribadi
  5. Hak atas kebebasan berpikir
  6. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan
  7. Hak untuk menikah atau tidak menikah serta membentuk dan merencanakan keluarga
  8. Hak untuk memutuskan mempunyai atau tidak dan kapan waktu memiliki anak
  9. Hak atas pelayanan dan perlindungan kesehatan
  10. Hak untuk mendapat manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan
  11. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik
  12. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perilaku buruk.

Kontrasepsi dan Mitos di Sekitarnya

Seperti dilansir dari CNN Indonesia, Widwiono, Plt Direktur Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dalam peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia di Jakarta, mengatakan bahwa mitos yang kerap ditudingkan pada alat kontrasepsi adalah penyebab terbesar mengapa penggunaan kontrasepsi, baik pada perempuan maupun pada laki-laki, menurun.

“Sebetulnya alasan yang terbesar itu mitos. Makanya konseling, informasi, dan edukasi terus kami upayakan supaya betul-betul paham,” ujarnya, dilansir dari CNN Indonesia.  

Hingga saat ini mitos-mitos seperti penggunaan pil dan suntik KB dapat menyebabkan berat badan naik tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Ketika mitos semacam ini dipercaya, resiko terjadinya KTD justru semakin meningkat. Padahal, jika KTD terjadi, pasangan yang mengalaminya sangat beresiko mengalami gangguan kesehatan terutama pada perempuan seperti aborsi tidak aman, rahim lemah, bayi lahir prematur, keracunan kehamilan, dan lain sebagainya. KTD juga dapat menyebabkan resiko jangka panjang pada situasi perekonomian keluarga dan pada akhirnya berdampak pada kondisi kesehatan mental.

Untuk mencegah KTD, perempuan atau pasangan dapat memulainya dengan meninggalkan mitos-mitos mengenai alat kontrasepsi yang beredar di masyarakat. Apa saja mitosnya? Berikut beberapa di antaranya, seperti dilansir dari Better Health.

  1. Mitos:  Penggunaan kontrasepsi dalam jangka waktu panjang dapat mempersulit jika pasangan menginginkan kehamilan.

Fakta:  Setelah penggunaan kontrasepsi dihentikan, proses ovulasi akan kembali berfungsi seperti pada situasi normal, kecuali jika kontrasepsi yang digunakan adalah sterilisasi dimana metode ini bersifat permanen atau kontrasepsi injeksi yang memerlukan  waktu 12-18 bulan agar hormon yang mempengaruhi kehamilan kembali bekerja.

2.Mitos: Kontrasepsi darurat hanya akan efektif apabila digunakan saat pagi hari setelah melakukan hubungan seks tidak aman.

Fakta:  Kontrasepsi darurat atau yang biasa disebut Morning After Pill tidak harus dikonsumsi saat pagi hari. Justru pil darurat ini harus diminum sesegera mungkin setelah melakukan hubungan seks tanpa kontrasepsi. Untuk lebih jelasnya, penggunaan Morning After Pill dapat dibaca dengan mengakses tautan.

3. Mitos:  Dengan melakukan metode senggama putus, perempuan tidak akan hamil.

Fakta:  Metode ini juga dikenal sebagai salah satu metode kontrasepsi tradisional namun efektivitasnya tidak terjamin dan tidak dapat diukur. Kehamilan masih bisa terjadi karena sangat mungkin sperma telah mencapai ujung penis sebelum ejakulasi.

4.Mitos:  Kehamilan tidak dapat terjadi jika hubungan seks dilakukan ketika perempuan sedang dalam masa menstruasi.

Fakta:  Meski banyak yang percaya bahwa ini adalah saat yang paling tepat untuk berhubungan seks tanpa beresiko hamil, sebetulnya tidak juga. Ovulasi bisa terjadi lebih awal dari yang diperkirakan. Begitu juga dengan sel sperma yang dapat hidup di dalam tubuh perempuan selama beberapa hari. Jika sel telur yang dilepaskan lebih awal bertemu dengan sel sperma yang berhasil bertahan hidup maka pembuahan bisa terjadi.

 

5. Mitos:  Kehamilan tidak dapat terjadi jika baru pertama kali melakukan hubungan seks.

 

Fakta:  Jika sel telur bertemu dengan sel sperma maka sangat mungkin terjadi kehamilan, tanpa melihat apakah itu hubungan seks pertama kali atau tidak.

6.Mitos:  Penggunaan alat kontrasepsi Intrauterine Devices (IUD) dapat menyebabkan infeksi pada organ reproduksi.

Fakta:  Kemungkinan terjadinya infeksi pada organ reproduksi sangat kecil dalam jangka waktu tiga minggu usai IUD dimasukkan ke dalam tubuh perempuan. Setelah itu resiko infeksi pada organ reproduksi dapat terjadi sama seperti orang lain. Penyebab terbesar infeksi pada organ reproduksi adalah penyakit menular seksual. Sementara adanya resiko penularan penyakit ini akan diinformasikan sebelum pemasangan IUD dilakukan.

7. Mitos:  Untuk mengakses kontrasepsi perlu persetujuan orang tua.

Fakta:  Remaja atau anak muda yang telah mendapatkan informasi mengenai alat kontrasepsi secara akurat bisa mendapatkannya tanpa persetujuan orang tua. Kontrasepsi adalah salah satu hak kesehatan seksual dan reproduksi sehingga dalam hal ini, petugas kesehatan bertanggungjawab untuk menjelaskan metode apa saja yang dapat dipilih dan memastikan apakah metode tersebut sesuai dengan yang bersangkutan.

8. Mitos:  Remaja lebih memilih kondom dan pil daripada Long-Acting Reversible Contraception (LARC).

Fakta:  LARC adalah metode kontrasepsi yang efektif selama jangka waktu tertentu tanpa membutuhkan tindakan langsung dari penggunanya. LARC terdiri dari kontrasepsi dengan cara implan, kontrasepsi dengan cara injeksi, atau IUD. Jika informasi mengenai LARC diberikan kepada remaja secara akurat, tidak menutup kemungkinan bahwa metode kontrasepsi ini akan lebih banyak dipilih.  

 

 

 

  

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini