Membongkar Stigma KTD, Apa Pentingnya Buat Kamu?

0
52
meluruskan stigma ktd

Ketika kamu atau orang terdekatmu mengalami kehamilan tidak direncanakan (KTD), sejumlah ketakutan, kecemasan, pertanyaan, dan emosi bisa membuat perasaan campur-aduk. Perempuan, khususnya remaja, sering kebingungan ketika berurusan dengan bagaimana memberi tahu pacar, suami, atau orang tua mereka. Itu biasanya terjadi ketika banyak stigma mempengaruhi lingkungan sekitarmu.

Kebanyakan orang menganggap kalau KTD adalah hal yang tidak seharusnya terjadi, maka itu adalah suatu kesalahan yang tidak bisa ditolerir. Padahal, KTD adalah fenomena yang sangat umum terjadi. Kamu bisa saja memakai secara benar semua pengontrol kehamilan yang tersedia, dan kehamilan bisa terjadi begitu saja.

Stigma di Masyarakat

Secara umum, stigma diartikan sebagai ciri negatif yang ditempelkan pada orang atau kelompok tertentu. Kita bisa melihat bagaimana perempuan yang mengalami KTD, khususnya yang tidak menikah, dinilai buruk oleh masyarakat pada umumnya. Lebih parah lagi, stigma budaya patriarki menilai seolah-olah hanya perempuanlah yang menjadi sumber permasalahan KTD. Tentunya stigma itu adalah anggapan yang sepenuhnya keliru.

Ingatlah bahwa KTD sangat umum terjadi. Faktanya, hampir setengah kehamilan yang terjadi pada tahun 2010-2014 adalah KTD. Rentang umurnya juga beragam, dari umur 15-44 tahun. Jadi, anggapan bahwa hanya remaja perempuan yang mengalaminya sudah pasti salah. Penyebabnya juga bukan karena dari perempuan semata, justru banyak kasus KTD terjadi karena kesalahan penggunaan kontrasepsi laki-laki!

KTD juga tidak hanya terjadi pada perempuan yang tidak menikah. Mudahnya, kita bisa mengartikan KTD sebagai kehamilan yang terjadi di waktu yang tidak tepat atau terjadi ketika tidak diinginkan. Contohnya, bayangkanlah si A adalah perempuan yang sudah menikah. A bisa saja mengalami KTD, misalkan karena kegagalan program KB, atau karena jumlah anak A sudah terlalu banyak, atau kondisi anaknya masih terlalu kecil, atau A memang belum mau memiliki anak.

Berujung Pada Aborsi Tidak Aman

Kita tidak bisa memungkiri kalau stigma KTD masih berkembang di masyarakat. Itu membuat banyak perempuan jadi kebingungan dan merasa serba salah untuk bertindak.

Parahnya lagi, persoalan stigma bisa berdampak pada nyawa perempuan. Penting sekali untuk kamu menyadari, bahwa stigma bisa membahayakan bagi keselamatan banyak perempuan.

Karena berkembangnya desas-desus tentang KTD, perempuan yang mengalami KTD menjadi kebingungan dan sulit mendapat pengetahuan yang benar. Itu membuat akses pelayanan informasi KTD yang valid menjadi sulit. Akhirnya banyak dari mereka mendapat informasi yang salah. Misinformasi itu akhirnya berujung pada aborsi yang tidak aman, dan banyaknya kematian ibu.

Diperkirakan 25 juta praktik aborsi yang tidak aman terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia. Angka itu menunjukkan 45 persen dari total aborsi yang terjadi secara global. Mayoritas praktik aborsi yang tidak aman itu terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Asia Tenggara, 16 persen kematian ibu terjadi karena praktik aborsi yang tidak aman.

Temuan Guttmacher Institute pada tahun 2008 menjelaskan bahwa aborsi yang tidak aman banyak terjadi di Indonesia. Di situ dituliskan:

“… Seperti di negara-negara berkembang lainnya dimana terdapat stigma dan pembatasan yang ketat terhadap aborsi, perempuan Indonesia sering kali mencari bantuan untuk aborsi melalui tenaga-tenaga nonmedis yang menggunakan cara-cara antara lain dengan meminum ramuan-ramuan yang berbahaya dan melakukan pemijatan penguguran kandungan yang membahayakan.”

Bersikap Terbuka

Penting sekali untuk kamu membuka diri atas informasi yang benar terkait KTD dan aborsi aman. Membongkar stigma berarti juga memberi semangat pada banyak perempuan yang sedang berjuang dengan KTD. Apabila kamu mengalami KTD, jauhi dirimu dari informasi yang menyudutkan. Kamu juga bisa mulai mencari saran dokter. Ahli medis yang kompeten pasti akan mendukungmu dan memberikan saran yang tidak bias.

Banyak perempuan yang mengalami KTD merasa terbantu setelah bertukar cerita dengan orang-orang yang mendukung mereka. Mungkin itu bisa kamu contoh. Penting sekali untuk tetap tenang dan merasa percaya diri atas perubahan yang terjadi pada tubuhmu. Berkumpulah bersama orang-orang yang kamu percayai dan bisa memberi energi positif. Bila salah seorang terdekatmu mengalami KTD, beri dia semangat agar tetap percaya diri.

Kamu dan banyak perempuan lain mungkin merasa tidak siap untuk hamil, dan itu sangatlah normal. Terlepas dari usiamu (dewasa atau remaja), ketika dihadapkan dengan KTD, kamu berhak menentukan pilihanmu sendiri. Pada titik ini, penting bagi kamu untuk diinformasikan tentang opsi kehamilan. Bimbingan konselor atau ahli kesehatan yang kompeten akan memberi tiga opsi kehamilan, yaitu melanjutkan kehamilan, adopsi, dan aborsi.

Bagaimanapun, kesehatan dan masa depan ada di tanganmu sendiri, bukan di tangan orang-orang yang menilaimu. Ketahuilah bahwa KTD adalah fenomena yang umum terjadi pada perencanaan kehamilan perempuan. Bukankah mempercayai stigma KTD sama saja dengan mempercayai berita bohong?

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini