Metode Aborsi Bedah dan Kuret yang Tidak Lagi Disarankan untuk Kehamilan di Bawah 12 Minggu

0
177
sumber: freepik.com

Ketika seorang perempuan mengalami Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD), ada tiga pilihan yang bisa ia pertimbangkan untuk mengatasinya: melanjutkan kehamilan, mengadopsikan anaknya, atau melakukan aborsi. Jika memilih melanjutkan kehamilan, ia tidak harus selalu terlebih dulu memiliki pasangan, perempuan bisa menjadi orang tua tunggal bagi anaknya. Sementara jika memutuskan untuk mengadopsikan anaknya, ada prosedur pengangkatan anak yang perlu dilalui. Lantas, bagaimana jika ia memilih melakukan aborsi?

Berdasarkan jenisnya, aborsi dibedakan menjadi dua, yaitu: aborsi medis dan aborsi bedah. Aborsi medis dilakukan dengan bantuan obat atau pil, bisa dengan misoprostol atau mifepristone. Metode ini dapat dilakukan secara mandiri oleh perempuan melalui proses konseling terlebih dahulu. Berbeda dengan metode aborsi bedah yang memerlukan bantuan tenaga medis yang ahli. Ini disebabkan karena proses aborsi bedah dilakukan dengan alat-alat kesehatan dan prosedur pelaksanaan yang perlu ditangani langsung oleh mereka.

Mengenal Metode Aborsi Bedah

Pada dasarnya jika dilakukan sesuai dengan prosedur, tingkat keberhasilan aborsi medis bisa mencapai 80% hingga 90 %. Namun, aborsi dengan metode bedah memiliki tingkat keakuratan lebih tinggi, yaitu sekitar 98% karena ditangani langsung oleh tenaga medis yang ahli. Meskipun tentu saja, dilihat dari faktor ekonomi, metode ini membutuhkan biaya lebih mahal daripada aborsi medis. Total biaya yang dikeluarkan untuk melakukan aborsi bedah tergantung pada usia kehamilan. Semakin lama usia kehamilannya maka biayanya semakin tinggi. Ada dua macam aborsi bedah yang biasanya terdapat pada klinik bersalin, yaitu: aborsi dengan metode Vacuum Aspiration, dan kuret.

Vacuum Aspiration

Sesuai dengan kebijakan terbaru mengenai prosedur aborsi aman, metode aborsi dengan Vacuum Aspiration adalah aborsi bedah yang disarankan oleh WHO. Seperti dilansir dari Healthline, pada mulanya pasien akan diinjeksi obat yang dapat mencegahnya merasakan sakit selama prosedur berlangsung. Bisa juga diberi obat penenang yang dapat membuat pasien tetap dalam kondisi sadar namun merasa sangat rileks. Lantas, setelahnya dokter akan memasukkan spekulum dan memeriksa uterus. Baik sebelum atau selama menjalani prosedur, serviks akan direnggangkan menggunakan dilator untuk memasukkan tabung penghisap menuju uterus. Biasanya selama proses ini perempuan akan mengalami sedikit kram namun akan segera berkurang setelah tabung dicabut. Segera setelah itu dokter akan mengecek uterus untuk memastikan apakah benar-benar sudah kosong dan jika sudah maka selanjutnya dokter akan memberikan antibiotik. Proses ini memakan waktu hanya lima sampai sepuluh menit, tidak seperti kuret yang memakan waktu lebih lama.

Kuret yang Tidak Lagi Disarankan untuk Kehamilan di Bawah 12 Minggu

Kuret adalah metode aborsi bedah yang kini telah usang dan tidak lagi disarankan oleh WHO untuk kehamilan di bawah 12 minggu. Kebijakan ini mengacu pada buku panduan aborsi aman edisi kedua yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2012. Berdasarkan prosedurnya, metode aborsi dengan Vacuum Aspiration dan kuret hampir sama. Diawali dengan pemberian obat penenang atau penghilang rasa nyeri kemudian berlanjut dengan memasukkan tabung penghisap ke dalam uterus. Hanya saja, setelah tabung dicabut, dokter masih akan memasukkan benda tajam ke dalam perut untuk memastikan tidak ada sisa-sisa yang tertinggal. Benda tajam inilah yang disebut kuret dan tugasnya adalah mengikis lapisan dinding uterus. Dibandingkan dengan metode Vacuum Aspiration, proses kuret jauh lebih sakit dan tingkat komplikasinya dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi. Berdasarkan percobaan pada usia kehamilan sepuluh minggu, metode aborsi dengan Vacuum Aspiration, juga jauh lebih cepat dan darah yang hilang lebih sedikit daripada metode kuret. Karena alasan inilah, upaya untuk menggantikan metode kuret dengan Vacuum Aspiration harus diusahakan. Tentu dengan tujuan untuk meningkatkan keamanan dan kualitas layanan kesehatan bagi perempuan.

Kuret dan Mitos

Mitos yang beredar seputar aborsi sangat banyak. Salah satunya adalah bahwa aborsi dapat menyebabkan perempuan tidak lagi bisa hamil. Mitos ini berhubungan dengan metode aborsi kuret yang selama ini lebih banyak diketahui oleh perempuan jika dibandingkan dengan metode aborsi bedah yang lain. Pisau tajam kuret beresiko tinggi melukai dinding rahim sehingga dengan begitu tidak heran jika kemudian ada mitos yang menyebut bahwa pasca melakukan aborsi, perempuan rentan tidak dapat hamil lagi. Untuk mengakhiri mitos ini, seharusnya metode kuret tidak lagi disediakan pada klinik-klinik bersalin dan menggantikannya dengan metode Vacuum Aspiration yang terbukti lebih aman dengan tingkat rasa sakit lebih kecil.

Pasca Aborsi Bedah

Meski tingkat keberhasilannya lebih tinggi dan ditangani oleh tenaga medis yang ahli, namun ada efek samping yang perlu diketahui pasca melakukan aborsi bedah. Biasanya efek samping ini terjadi setelah menjalani prosedur atau selama masa pemulihan. Untuk menyebutkan di antaranya, yaitu:

  1. Perdarahan, termasuk dalam bentuk gumpalan darah
  2. Nyeri kram
  3. Mual dan muntah
  4. Keringat dingin
  5. Lemas

Pasien tidak perlu merasa khawatir karena hal ini sangat normal terjadi pasca melakukan aborsi bedah dengan metode Vacuum Aspiration. Setelah kondisi kembali stabil, biasanya petugas pelayanan kesehatan akan segera mengizinkan pasien untuk pulang. Beberapa perempuan ada yang masih mengalami pendarahan pada vagina dan merasakan kram seperti saat menstruasi selama dua sampai empat hari setelahnya, dan situasi ini tidak perlu dikhawatirkan. Perempuan hanya disarankan untuk menghubungi dokter kembali jika mengalami gejala seperti di bawah ini:

  1. Perdarahan disertai gumpalan darah yang berukuran lebih besar dari buah lemon selama lebih dari dua jam.
  2. Perdarahan yang sangat banyak hingga mengganti pembalut setiap satu sampai dua jam.
  3. Vagina mengeluarkan bau busuk.
  4. Demam.
  5. Nyeri atau kram yang menjadi-jadi bahkan setelah 48 jam.
  6. Gejala kehamilan setelah satu minggu pasca tindakan aborsi bedah.

Perlu selalu diingat bahwa di beberapa negara seperti di Indonesia, aborsi hanya diperbolehkan jika dalam kondisi tertentu, di luar kondisi tersebut, aborsi termasuk sebagai tindakan ilegal sehingga beresiko melanggar hukum. Oleh karena itu, meski aborsi bedah memiliki tingkat keakuratan lebih tinggi namun tidak mudah untuk mengaksesnya apalagi bagi perempuan atau pasangan yang belum menikah. Selalu diskusikan terlebih dahulu jika ingin memilih metode ini. Untuk lebih jelasnya, dapat menghubungi layanan Hotline Samsara dengan mengklik tautan.

 

   

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini