Menjauhkan Remaja dari Kekerasan Seksual dan Aborsi yang Tidak Aman

0
346
Kehamilan tidak direncanakana
Tangan perempuan yang memegang testpack positif.

Kita sering beranggapan kalau remaja perempuan belum cukup umur untuk menentukan pilihannya sendiri. Kita merasa keputusan-keputusan yang mereka ambil tidak matang. Padahal, konvensi internasional tahun 2013 justru beranggapan sebaliknya.

Konvensi tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) itu mengakui bahwa remaja memiliki pemahaman yang cukup untuk membuat keputusan tentang kehidupan mereka, termasuk perawatan kesehatan mereka, sama seperti orang dewasa. Para pakar mendesak negara-negara untuk membatasi persyaratan izin orang tua terkait persoalan reproduksi remaja.

Fakta baru itu bisa merubah cara pandang kita kepada para remaja perempuan. Mereka mempunyai hak menentukan nasib reproduksinya sendiri, dan kita harus melindungi hak mereka.

Sayangnya, hak-hak mereka masih tidak dilindungi secara serius, misalnya soal kekerasan seksual. Masih banyak sekali kekerasan seksual terjadi di setiap tahunnya. Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) mencatat, hampir 50 persen kekerasan seksual di seluruh dunia terjadi pada remaja perempuan umur 15 tahun ke bawah.

Apa itu Kekerasan Seksual?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kekerasan seksual sebagai:

Any sexual act, attempt to obtain a sexual act, unwanted sexual comments or advances, or acts to traffic, or otherwise directed against a person’s sexuality using coercion, by any person regardless of their relationship to the victim, in any setting including but not limited to home and work.”

Singkatnya, kekerasan seksual bisa diartikan sebagai perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks.

Kita tentunya sudah tahu kalau kekerasan seksual adalah pelanggaran besar terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), terutama apabila itu terjadi pada remaja perempuan. Kekerasan seksual berdampak signifikan terhadap kesehatan seksual dan reproduksi mereka.

Kekerasan Seksual Pada Remaja Perempuan

Seperti fakta yang diterangkan di atas, tingkat kekerasan seksual yang terjadi pada remaja perempuan lebih tinggi daripada pada perempuan dewasa. Bahkan di negara berkembang seperti Peru dan Bangladesh, banyak perempuan melaporkan bahwa pengalaman seksual pertama mereka adalah pemerkosaan. Ironisnya, masalah itu belum terpecahkan hingga hari ini.

Kekerasan seksual juga berkontribusi terhadap risiko lebih tinggi Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD) pada remaja. Masalah itu juga berujung pada banyaknya aborsi yang tidak aman. Komplikasi terkait kehamilan dan persalinan adalah penyebab utama kematian bagi perempuan usia 15-19 di banyak negara, di mana kemungkinan kematian ketika persalinan dua kali lipat dibanding perempuan di usia 20-an. WHO memperkirakan remaja perempuan usia 10-19 di negara berkembang menjalani 2,2 hingga 4 juta aborsi tidak aman setiap tahunnya.

Aborsi tidak aman punya pengaruh yang lebih buruk pada remaja perempuan. Mereka menghadapi lebih banyak hambatan ketimbang perempuan dewasa, misalkan ketika mencoba untuk mengakses kontrasepsi, informasi kesehatan seksual dan reproduksi, dan perawatan aborsi yang aman. Hambatan lain juga termasuk kurangnya dukungan sosial dan keluarga, adanya stigma tentang aborsi dan tabu seksualitas di kalangan remaja. Selain itu, banyak kebijakan publik tidak mengakui kapasitas remaja untuk membuatnya keputusan tentang seksualitas dan reproduksi.

Dengan fakta di atas, Angka Kematian Ibu (AKI) tidak dapat dihindari ketika akses ke aborsi yang aman ditolak dan dikriminalisasi. Karenanya, hukum pidana yang membatasi akses untuk penanganan aborsi yang aman dalam kasus-kasus kekerasan seksual harus diubah, seperti yang direkomendasikan oleh Pelapor Khusus PBB (UN Special Rapporteur).

Kurangnya kebijakan komprehensif yang menangani HKSR remaja perempuan menjadi persoalan di banyak negara. Selain kekerasan seksual, KTD, dan aborsi yang tidak aman, banyak peraturan pemerintah membuat remaja pada risiko HIV yang lebih tinggi atau infeksi menular seksual lainnya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Setelah melihat paparan fakta di atas, kita menjadi tahu bahwa pelayanan aborsi bagi korban kekerasan seksual sangat penting. Kita juga bisa mendukung dengan membebaskan remaja perempuan untuk menangani konsekuensi dari kekerasan tanpa membutuhkan pasangan atau izin orang tua. Dengan begitu, kita telah menghargai kapasitas mereka dalam mengambil keputusan untuk kesehatan mereka.

Pada taraf paling luasnya, remaja perempuan membutuhkan fasilitasi dari kebijakan publik. Mereka akan terbantu dengan adanya kebijakan yang menyediakan akses seksual dan reproduksi yang komprehensif. Itu bisa berupa pendidikan, layanan, dan informasi kesehatan, termasuk konseling kontrasepsi dan pencegahan kekerasan seksual.

Lewat lingkungan kecil seperti sekolah dan pertemanan, kita juga bisa memberi efek positif. Kita bisa mulai menumbuhkan iklim yang mendidik dengan memberi remaja perempuan dukungan atau keputusan reproduksinya.

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini