Adopsi sebagai Pilihan

0
175
adopsi anak
Sumber: Freepik

Keputusan untuk melahirkan seorang anak dan membesarkannya sendirian atau bersama dengan pasangan, membutuhkan lebih dari satu atau dua macam pertimbangan. Bukan hanya soal kemampuan finansial, melahirkan dan membesarkan seorang anak juga menyangkut persoalan fisik dan kesiapan mental seorang perempuan. Terlebih jika kehamilannya terjadi karena tidak direncanakan. Meski tidak mudah tetapi perempuan selalu mempunyai pilihan ketika ia mengalami kehamilan tidak direncanakan (KTD), termasuk salah satunya adalah memutuskan untuk mengadopsikan anaknya.

Perempuan yang telah memutuskan untuk menyerahkan anaknya agar diadopsi dapat menentukan salah satu dari dua alternatif pilihan, yaitu: memilih sendiri orang tua angkat bagi anaknya atau menghubungi shelter-tempat tinggal sementara bagi perempuan hamil. Memilih alternatif pertama menuntut perempuan untuk mengenal calon orang tua angkat anaknya. Seperti dilansir dari Action for Children, demi kesejahteraan anak maka untuk menjadi orang tua angkat perlu memenuhi beberapa persyaratan. Apa saja syaratnya?

Kriteria Usia

Bagi mereka yang ingin menjadi orang tua asuh, setidaknya mereka harus berusia lebih dari 21 tahun. Lebih dari usia itu, tidak ada batasan. Biasanya calon anak angkat yang masih kecil akan diserahkan kepada orang tua angkat yang lebih muda. Keputusan ini dibuat berdasarkan pertimbangan agar orang tua angkat dapat mendampingi tumbuh kembang anak sampai dengan anak tersebut dapat hidup secara mandiri.

Status Perkawinan dan Seksualitas

Pada beberapa negara di mana Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) telah diakui hak-haknya, kesempatan mereka untuk mengadopsi anak tidak dibatasi. Situasi ini berbeda pada negara yang belum mengakui hak-hak mereka sebagai warga negara. Ini tentu saja merupakan sebuah bentuk diskriminasi yang perlu dilawan bersama. Untuk status perkawinan, beberapa negara telah mengizinkan mereka yang belum menikah untuk melakukan adopsi, sementara sisanya hanya mengizinkan pasangan yang sudah menikah.

Kondisi Keluarga

Ketika akan melakukan adopsi ada calon orang tua angkat yang sebelumnya telah memiliki anak meski, ada juga yang belum. Bagi yang telah memiliki anak, mereka harus mempertimbangkan bagaimana langkah yang tepat untuk mempertemukan kebutuhan calon anak angkat dengan anggota keluarga lainnya. Bagaimanapun, keputusan mengadopsi anak perlu didukung oleh seluruh anggota keluarga. Dukungan ini penting untuk menjamin tumbuh kembang anak.

Faktor Kesehatan dan Disabilitas

Penyandang disabilitas tentu saja dapat melakukan adopsi tetapi biasanya hal ini akan menjadi salah satu pertimbangan. Selain itu bagi calon orang tua angkat yang merokok, biasanya tidak diperbolehkan mengangkat anak berusia di bawah lima tahun atau anak yang memiliki riwayat penyakit pernafasan. Kesehatan adalah salah satu faktor yang turut menjadi pertimbangan karena menyangkut kemampuan calon orang tua angkat dalam merawat calon anak angkatnya hingga tumbuh dewasa.

Rumah dan Kondisi Keuangan

Tidak akan ada Surat Hak Milik atas rumah yang akan diminta sebagai bukti. Hanya saja calon orang tua angkat perlu menjamin bahwa tempat tinggal anak adalah rumah yang layak. Biasanya dalam hal ini, akan ada petugas yang memastikan apakah rumah calon anak angkat layak ditinggali. Selain itu yang tidak kalah penting adalah kondisi keuangan keluarga. Petugas akan meminta slip gaji atau bukti laporan keuangan tiap bulan untuk memastikan bahwa calon orang tua angkat mampu membiayai seluruh kebutuhan calon anak angkat.

Setelah memenuhi kriteria pengangkatan anak seperti yang disebutkan di atas maka tahap selanjutnya adalah mengurus status legalnya di mata hukum. Untuk hal ini, masing-masing negara biasanya memiliki prosedur yang berbeda-beda. Lalu, bagaimana jika perempuan yang mengalami KTD memutuskan untuk menghubungi shelter?

Shelter: Rumah Aman bagi Perempuan Hamil

Shelter atau tempat tinggal sementara bagi perempuan hamil biasanya disediakan oleh sebuah yayasan dan dapat diakses secara gratis atau berbayar, tergantung manajemen yayasan masing-masing. Situasi sulit yang kerap menimpa perempuan dengan KTD menyebabkan kebutuhan terhadap tempat tinggal yang aman meningkat. Pada beberapa kasus, tak jarang perempuan dengan KTD mengalami kekerasan seperti diusir dari rumah atau mendapatkan tekanan dari orang-orang di sekitarnya. Karena alasan inilah, shelter didirikan. Dengan adanya shelter, diharapkan perempuan dapat merasa lebih aman sehingga kehamilan yang dialaminya tidak membahayakan dirinya.    

Meski tidak banyak, namun di Indonesia terdapat beberapa shelter yang bersedia membantu perempuan mengatasi masalahnya. Jika perempuan dengan KTD memutuskan untuk menghubungi shelter, maka selanjutnya proses adopsi dapat dibicarakan dengan petugas yayasan. Informasi seputar bagaimana prosedur mengadopsikan anak kepada calon orang tua asuh akan dijelaskan lebih lanjut oleh petugas yang berwenang. Dalam hal ini, Perkumpulan Samsara dapat membantu menghubungkan perempuan yang mengalami KTD kepada yayasan yang menyediakan shelter. Untuk lebih jelasnya, silahkan menghubungi layanan hotline Samsara dengan mengklik tautan.

Bagi sebagian orang, KTD memang seperti sebuah bencana, tapi perlu diingat bahwa perempuan selalu mempunyai pilihan. Adopsi termasuk salah satunya. Jika seorang perempuan telah yakin dengan keputusan untuk mengadopsikan anaknya, maka siapa pun perlu mendukung dan menghormati pilihannya. Untuk mengetahui lebih banyak tentang pilihan perempuan, silahkan mengakses askinna.com.      

 

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini