Apakah Kamu Bisa Hamil Lagi Setelah Melakukan Aborsi?

2
725
Group medis perempuan

Kamu mungkin pernah mengalami Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD) dan memilih untuk melakukan aborsi di masa lalu, dan sekarang kamu ingin memiliki anak. Di benak kamu mungkin timbul keraguan, apalagi jika kamu terpengaruh oleh banyak tabu soal aborsi di sekitarmu. Mungkin kamu akan bertanya, “Apa aku bisa hamil lagi?

Seperti halnya kamu, banyak dari perempuan yang telah melakukan aborsi juga masih ingin memiliki anak di masa depan. Tetapi apakah aborsi akan mempengaruhi kehamilanmu nantinya?

Jawabannya sederhana: Tidak. Pada kebanyakan kasus, tidak ada bukti cukup yang menunjukkan bahwa aborsi akan mempengaruhi kesuburan dan kehamilan berikutnya.

Apa Risikonya untuk Hamil Lagi?

Aborsi tidak diyakini akan menyebabkan masalah dengan kesuburan reproduksi atau komplikasi pada kehamilan berikutnya. Banyak penelitian telah menepis kabar tidak benar mengenai implikasi buruk aborsi, seperti misalnya aborsi di masa lalu meningkatkan risiko kelahiran prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah.

Namun, kamu perlu memperhatikan prosedur aborsi yang telah kamu jalani. Yang terpenting adalah penanganan aborsi yang aman. Pada setiap praktik penanganan medis, tentunya terdapat risiko. Risiko itu akan diminimalisir jika kamu melakukan prosedur yang benar sesuai saran pakar.

Sebagai salah satu praktik penanganan kesehatan, aborsi juga memiliki risiko. Risiko dapat tergantung pada jenis aborsi yang dilakukan, seperti kita mengenal dua jenis metode aborsi.

Pertama, aborsi medis, yang merupakan praktik pengguguran kehamilan dengan meminum pil pada trimester pertama. Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa aborsi medis meningkatkan risiko seorang perempuan mengalami masalah dengan kehamilan di masa depan. Sebuah penelitian menjelaskan bahwa aborsi medis tidak meningkatkan risiko kehamilan ektopik, keguguran, berat badan lahir rendah, dan kelahiran prematur pada kehamilan berikutnya.


Kedua, aborsi surgical, yang merupakan pembedahan untuk mengangkat janin (konsepsi) dengan menggunakan alat hisap (vaccuum) dan alat tajam berbentuk sendok yang disebut kuret. Praktik kuret hanya dianjurkan untuk aborsi pada kehamilan di atas 12 minggu. Kamu dapat membaca penjelasan lebih lengkap soal aborsi bedah di sini.

Pada kasus-kasus kecil, bekas luka mungkin akan menyebabkan Sindrom Asherman dan membuat kehamilan menjadi lebih sulit di masa depan. Itu juga dapat meningkatkan kemungkinan keguguran.

Di titik ini, sangat penting bahwa aborsi dilakukan oleh penyedia medis berlisensi di lingkungan yang aman dan steril. Kegagalan pada aborsi bedah banyak terjadi karena praktik aborsi yang tidak aman. Sedangkan aborsi medis memiliki tingkat keberhasilan 90 persen jika dilakukan sesuai prosedur.

Kamu mesti mengingat bahwa setiap prosedur aborsi yang tidak aman dapat menyebabkan komplikasi langsung serta masalah kesuburan dan kesehatan secara keseluruhan. Kita semua tahu, bahwa aborsi yang tidak aman adalah musuh banyak perempuan.

Bila di masa lalu kamu melakukan aborsi dengan prosedur yang benar, kamu tidak perlu khawatir lagi. Sekarang, kamu hanya perlu menyiapkan diri untuk memiliki buah hati.

Seberapa Cepat Bisa Hamil Lagi?

Secara teori, kamu sebenarnya bisa hamil hanya dalam beberapa minggu setelah melakukan aborsi, bahkan jika kamu belum menstruasi. Aborsi akan memulai kembali siklus menstruasi kamu. Ovulasi, ketika sel telur dilepaskan dari ovarium, biasanya terjadi sekitar hari ke-14 dari siklus menstruasi 28 hari. Itu berarti kamu kemungkinan akan mengalami ovulasi hanya beberapa minggu setelah aborsi.

Dengan kata lain, secara fisik kamu dimungkinkan untuk hamil lagi jika kamu melakukan hubungan seks tanpa kondom hanya beberapa minggu setelah prosedur aborsi, bahkan jika kamu belum menstruasi.

Namun, tidak semua orang memiliki siklus menstruasi 28 hari, sehingga waktu yang tepat dapat bervariasi. Beberapa perempuan memiliki siklus menstruasi yang lebih pendek secara alamiah. Ini berarti mereka dapat mulai berovulasi hanya dalam beberapa hari setelah prosedur aborsi dan dapat hamil lebih cepat.

Waktu siklus berovulasi juga bergantung umur kehamilanmu ketika prosedur aborsi terjadi. Hormon kehamilan dapat bertahan dalam tubuh kamu selama beberapa minggu setelah prosedur. Semakin tua umur kehamilan ketika prosedur, semakin mungkin masa ovulasi dan menstruasi tertunda. Kalau begitu, kamu mungkin akan menunggu lebih lama untuk berhubungan seks di waktu yang tepat.


Apa Gejalanya?

Gejala kehamilan setelah aborsi tidak berbeda dengan gejala kehamilan seperti biasa. Mereka termasuk perubahan pada payudara, sensitivitas terhadap bau atau rasa, mual atau muntah, kelelahan, sering buang air kecil, dan telat periode menstruasi.

Jika kamu belum memiliki periode menstruasi dalam enam minggu setelah aborsi, lakukan tes kehamilan sederhana menggunakan testpack. Jika hasilnya positif, kamu dapat menghubungi dokter kandungan. Mereka dapat melakukan tes untuk mengecek apakah kamu masih memiliki hormon kehamilan sisa dari kehamilan yang digugurkan

Bila dokter telah memastikan bahwa hormon kehamilan sebelumnya sudah hilang, itu artinya kamu positif hamil. Selamat! Kini kamu bisa memiliki buah hati yang sudah kamu idam-idamkan.

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini