Melihat Bagaimana Stigma Aborsi Bekerja dan Mengapa Itu Harus Segera Diakhiri

0
570
Crowd of protestors rallying to support human rights

Stigma aborsi tidak serta merta lahir dari ketiadaan. Ia berkembang seiring waktu bersama dengan budaya masyarakat, kelompok komunitas, pemerintah, dan media massa. Seluruh lapisan ini memiliki perannya masing-masing dalam membentuk stigma terhadap aborsi.

Ipas, sebuah lembaga swadaya masyarakat global yang bergerak di bidang kesehatan seksual dan reproduksi menyebut bahwa selama ini stigma aborsi telah mempermalukan dan membungkam perempuan yang berusaha mencari informasi seputar aborsi, termasuk mengancam mereka yang bekerja di bagian pelayanan kesehatan dan siapa saja yang berkontribusi terhadap aborsi. Akibatnya, banyak perempuan melakukan aborsi secara diam-diam dan itu sangat beresiko mengantarkan mereka pada praktek aborsi tidak aman. Erick Yegon, peneliti dari Ipas Afrika mengatakan bahwa ketakutan akan dilabeli, disalahkan, atau dituntut karena mengupayakan aborsi menyebabkan perempuan mencari informasi secara diam-diam, yang beresiko mengarah pada aborsi tidak aman. Dalam penelitiannya yang berjudul Annals of Tropical Medicine and Public Health, Erick melakukan survei kepada 759 perempuan di Kenya, Afrika  yang menerima layanan kesehatan seputar aborsi di dua kabupaten  — satu berlokasi di wilayah dengan tingkat aborsi tidak aman yang tinggi, sementara yang lain di wilayah dengan tingkat persentase lebih rendah. Hasilnya, perempuan yang menerima layanan di kabupaten dengan tingkat aborsi tidak aman yang tinggi melaporkan bahwa mereka juga memperoleh stigma aborsi yang lebih besar.

Ini membuktikan bahwa stigma berhasil membuat banyak orang percaya bahwa aborsi adalah sesuatu yang buruk dan oleh karena itu tidak banyak perempuan yang melakukannya, atau jika pun ada, hanya perempuan yang berperilaku buruk yang mau melakukannya. Menurut Ipas, fenomena ini terjadi hampir di seluruh negara di dunia dan terlepas dari status hukum aborsi di negara tersebut, perempuan lah yang pada akhirnya paling disalahkan jika mereka kedapatan mencari tahu atau melakukan aborsi.

International Network for the Reduction of Abortion Discrimination and Stigma atau Inroads menyebutkan bahwa ada lima lapisan di dalam struktur masyarakat yang berperan sangat besar dalam membentuk stigma terhadap aborsi. Mulai dari lapisan yang paling bawah yaitu di tataran individual hingga ke tataran yang paling tinggi yaitu media massa.

  1. Tataran Individual

Perempuan yang tinggal di dalam masyarakat dengan tingkat stigma aborsi yang tinggi cenderung merahasiakan aborsi yang pernah mereka lakukan. Dalam situasi seperti ini, perempuan juga akan memilih untuk melakukan aborsi sendirian. Padahal, ini tidak aman bagi kesehatannya. Selain itu, petugas kesehatan yang melakukan praktik aborsi juga cenderung merahasiakannya. Ini menyebabkan praktek aborsi tidak aman semakin meningkat dan ujung-ujungnya merugikan perempuan baik secara finansial maupun secara medis.

2. Tataran Kelompok Komunitas

Aborsi juga menjadi isu sepanjang waktu di dalam tataran komunitas. Banyak kasus yang menunjukkan, misalnya, sebuah kelompok melakukan demo menolak aborsi atau melaporkan institusi kesehatan yang melakukan praktek aborsi serta perempuan yang melakukan aborsi. Kelompok seperti ini hampir selalu ada di seluruh negara di dunia dan keberadaannya kerap mengancam banyak perempuan.

3. Tataran Institusi

Aborsi seringkali tidak dipandang sebagai salah satu fasilitas kesehatan bagi perempuan. Sehingga banyak institusi kesehatan yang membedakan aborsi dengan fasilitas kesehatan lainnya atau justru ada peraturan dimana petugas pelayanan kesehatan diharuskan melapor ke kantor kepolisian jika ada pasien yang kedapatan melakukan aborsi. Dalam dunia medis, ini sama sekali tidak adil karena seluruh petugas pelayanan kesehatan seharusnya melayani setiap pasien bagaimanapun kondisinya. Stigma aborsi seperti ini juga bisa terjadi di dalam institusi lainnya selain institusi kesehatan, misalnya, jika sebuah institusi perusahaan tiba-tiba memberhentikan karyawan perempuan yang melakukan aborsi dan lain sebagainya.

4. Tataran Pemerintahan Negara

Hukum dan undang-undang negara dapat digunakan untuk melakukan kriminalisasi dan membatasi akses perempuan terhadap aborsi. Adanya perangkat ini akhirnya membentuk sebuah label dimana aborsi dianggap sebagai sesuatu yang buruk karena melanggar hukum dan menciptakan sebuah nilai apapun yang berkaitan dengan aborsi dianggap sebagai tindak kejahatan.

5. Tataran Media Massa dan Budaya

Media massa dan budaya memiliki peran paling besar karena mereka yang nantinya merepresentasikan norma, pandangan, dan lingkungan yang membentuk stigma terhadap aborsi. Representasi ini yang akhirnya mendorong masyarakat memiliki persepsi tersendiri mengenai aborsi. Di dalam negara dengan tingkat stigma aborsi yang tinggi, representasi ini biasanya membingkai perempuan yang melakukan aborsi sebagai perempuan yang tidak baik, yang melawan ibuisme, dan tidak memiliki belas kasih. Ini tentu saja, sebuah pandangan yang salah kaprah, yang terbentuk akibat adanya stigma.

Dampak Stigma Aborsi

Pada akhirnya stigma terhadap aborsi menciptakan sebuah lingkungan dimana apapun yang terkait dengan aborsi perlu dirahasiakan atau bahkan malah dilarang, sehingga perempuan tidak lagi dapat mencari dukungan dan pertolongan karena mereka merasa terancam dan ketakutan. Ini bisa menambah stigma pada diri perempuan itu sendiri  dimana ia merasa malu dan bersalah jika mencari tahu atau melakukan aborsi. Tidak hanya itu, hal ini juga bisa menyebabkan masalah serius pada kesehatan mental seseorang dan kemampuannya dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Seperti dikutip dari Ipas, berikut adalah beberapa dampak stigma aborsi yang bisa terjadi:

  1. Hukum yang tidak jelas sehingga membuat masyarakat tidak tahu bagaimana legalitas hukum aborsi yang sesungguhnya di negara mereka.
  2. Layanan kesehatan aborsi sangat susah untuk diakses dan cenderung dirahasiakan.
  3. Kurangnya pengetahuan mengenai prosedur dan pilihan aborsi.
  4. Perempuan tidak mau atau tidak dapat mengungkapkan keinginannya untuk aborsi dan ini mendorong mereka mengakses aborsi tidak aman.
  5. Hambatan dalam mengurangi angka kematian ibu. Menurut Ipas, saat ini aborsi tidak aman adalah salah satu penyebab terbesar angka kematian ibu di dunia.
  6. Membahayakan posisi petugas pelayanan kesehatan yang menyediakan fasilitas aborsi, juga dapat menyebabkan hubungan pekerjaan yang tidak harmonis antara penyedia pelayanan aborsi dengan petugas kesehatan lainnya.
  7. Minimnya pelatihan aborsi yang komprehensif bagi petugas pelayanan kesehatan profesional.
  8. Hak perempuan dan hak transgender tidak diakui sebagai bagian dari hak asasi manusia.

Pada dasarnya, aborsi seharusnya dipandang sebagai bagian dari pelayanan kesehatan dan bukan sebagai suatu tindak kejahatan. Stigma aborsi telah menyumbang banyak sekali kerugian bagi perempuan dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Kita telah melihat bagaimana stigma aborsi bekerja dan bagaimana itu menghancurkan masa depan banyak orang.

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini