Bagaimana Jika Saya Ingin Melanjutkan Kehamilan Sendirian?

0
347
Sumber: freepik.com

Kehamilan sangat bisa terjadi setelah melakukan hubungan seks tidak aman, seperti misalnya, hubungan seks tanpa kondom, kondom rusak saat sedang intercourse, lupa memakai kontrasepsi lain selain kondom saat berhubungan seks, atau bahkan hubungan seks tanpa kontrasepsi yang dilakukan secara paksa. Jika hal ini terjadi dan kamu merasa belum siap menghadapi kehamilan, kamu bisa minum Morning After Pill (atau biasa disebut Plan B Pill-pil kontrasepsi darurat).

Pil ini bekerja dengan cara menghambat ovarium melepaskan sel telur sehingga tidak akan terjadi pembuahan. Oleh karena itu, Morning After Pill paling efektif diminum tiga hari atau sekitar 36 jam setelah melakukan hubungan seks tidak aman. Sperma laki-laki mampu bertahan di dalam tubuh perempuan selama kurang lebih enam hari, sementara kehamilan tidak akan terjadi saat sedang melakukan intercourse, kehamilan terjadi karena adanya pembuahan sehingga pil ini bekerja agar sel telur tidak bertemu dengan sel sperma.

Namun, itu adalah pilihan bagi perempuan yang merasa belum siap menghadapi kehamilan. Bagaimana jika ternyata kamu ingin melanjutkan kehamilan, bahkan sekalipun tidak ada pasangan? Apakah itu bisa terjadi? Apakah hal seperti ini pernah terjadi di Indonesia?

Ella Scott, perempuan muda berusia 22 tahun mengalami kehamilan pertamanya setelah pasangannya yang bernama Ben berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya mandul. Ella selalu menuntut pasangannya menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks, tetapi kali itu mereka melakukan hubungan seks tanpa kondom setelah Ella percaya bahwa Ben mandul. Kenyataannya, Ben tidak mandul dan hasil testpack yang Ella lakukan setelah tidak kunjung mendapatkan menstruasi menyatakan bahwa ia hamil. Gadis itu bingung, ia merasa malu, dan merasa tertipu. Tetapi, bagaimanapun juga ia menghubungi Ben dan mengatakan kepada pria itu bahwa dirinya hamil. Ben menangis terisak-isak mendengar kabar itu. “Aku seorang monster,” kata Ben seperti dikutip dari Guardian. Dan usai pertemuan itu, mereka masih tidur bersama untuk sekali lagi. Ajaibnya, Ben sama sekali tidak merasa berdosa dan malah mencoba mengajak Ella berhubungan lagi. Padahal, Ella stres. Malam itu ia mondar-mandir di dalam kediaman Ben sambil merokok tanpa henti seperti kereta. Keesokan paginya, Ben membentak-bentak Ella, mengatakan bahwa ia tak akan pernah mau berbicara lagi atau bertemu lagi dengan Ella jika ia meneruskan kehamilannya. Tentu saja, setelah itu Ella pergi dan tidak pernah melihat Ben untuk waktu yang lama.

Satu-satunya pilihan saat itu yang terlihat paling masuk akal bagi Ella adalah menghentikan kehamilannya. Ia pergi ke klinik bersalin sendirian dan mendapatkan afirmasi dari suster bahwa dirinya memang benar-benar sedang mengandung. Ella tinggal di negara yang telah melegalkan aborsi sehingga suster itu menyarankan dirinya untuk menghentikan kehamilannya yang terjadi akibat kesalahan. Gadis itu mengiyakan karena memang tidak ada pilihan lain yang lebih masuk akal. Sambil dituntun oleh suster, ia diperiksa oleh seorang dokter. Tetapi, ternyata selama pemeriksaan itu tangisnya pecah dan ia mendapati dirinya menggebrak-gebrakkan kaki di depan dokter.

“Tenang, Ella. Kamu telah membuat keputusan yang tepat dalam hidupmu,” kata sang dokter, seperti dikutip dari Guardian. Dokter kemudian menetapkan waktu yang tepat untuk melakukan aborsi bedah. Selepas pulang dari klinik, Ella menangis di bawah patung Ratu Victoria, sambil meyakinkan orang-orang yang menghampirinya dengan mengatakan kepada mereka bahwa dirinya baik-baik saja, padahal tidak.

Saat itu bulan Agustus tahun 2005, hampir sebulan setelah ia membuat janji operasi di klinik bersalin, dan hanya tinggal beberapa hari lagi sebelum aborsi bedah itu benar-benar dijalankan. Ella sempat bertemu kembali dengan Ben. Pria itu berkata pada Ella, “Kita berdua tahu, kamu bisa saja meneruskan kehamilan ini, tetapi itu hanya akan merusak hidupku dan kamu hanya berusaha membuktikan hal itu, bahwa kamu benar-benar marah.” Gadis itu sempat berpikir bahwa apa yang dikatakan Ben ada benarnya. Jika ia melanjutkan kehamilan itu, ia akan merusak hidup orang dan juga hidupnya sendiri. Ia tidak siap menjadi orang tua tunggal. Setelah itu Ella bahkan sempat memesan tiket konser untuk dua orang, berharap bisa menonton konser berdua dengan Ben setelah operasi selesai dijalankan. Tetapi, ia ternyata masih belum yakin dengan keputusannya. Sehari sebelum tanggal operasi yang telah ditentukan, Ella membatalkan semuanya. Gadis itu memilih meneruskan kehamilannya dan pergi menonton konser sendirian, tanpa Ben.

Hari-hari setelah itu memang tidak seketika berubah menjadi baik-baik saja. Ella harus melewati babak yang sangat sulit dalam hidupnya sebagai orang tua tunggal, tetapi ia berhasil dan pada akhirnya merasa bahagia. Itu semua tidak lepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya seperti orang tua dan anggota keluarganya yang lain. Ella akhirnya membesarkan anak seorang diri, tanpa pasangan. Anak itu ia beri nama Max, seorang bayi laki-laki.

Di beberapa negara, menjadi orang tua tunggal memang bukan lagi fenomena baru. Ada payung hukumnya dan telah mendapatkan pengakuan dari negara. Tetapi, tentu saja itu adalah privilese yang diperoleh sebagian kecil orang di negara maju. Di banyak negara berkembang seperti Indonesia, ada lebih banyak lagi rintangan yang perlu dihadapi seorang perempuan yang memilih untuk melanjutkan kehamilan yang ia alami tanpa pasangan.

Seperti dikutip dari Unplanned Pregnancy, setidaknya ada beberapa hal yang perlu benar-benar diperhatikan jika seseorang mulai mempertimbangkan apakah akan melanjutkan kehamilannya sendirian atau tidak.

Waktu yang Tepat

Menjadi seorang ibu tidak pernah mudah. Apalagi menjadi seorang ibu tunggal. Kamu perlu bertanya lagi pada dirimu sendiri, “Bagaimana aku akan membiayai hidup anak ini?”, “Apakah aku siap menjadi orang tua dengan seluruh tanggung jawabnya?”, “Apakah aku sanggup mempersiapkan biaya persalinan yang akan segera aku hadapi?”, “Apakah orang-orang di sekitarku akan mendukungku?”. Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu kebanyakan adalah tidak, maka mungkin saat ini bukan waktu yang tepat bagimu untuk menjadi orang tua tunggal. Dua tantangan terbesar membesarkan anak sendirian tanpa pasangan adalah soal finansial dan kemampuan secara mental.

Tujuan Hidup

Tentu saja, perempuan juga berhak punya mimpi dan apakah mimpi itu adalah menjadi seorang ibu, memiliki pekerjaan impian, meraih pendidikan tinggi, menjadi seniman, itu bisa apa saja. Maka jika demikian, saat perempuan menghadapi Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD), opsi terbaik adalah berbicara dengan konselor yang ahli dalam hal ini dan mencari tahu pilihan-pilihan apa saja yang bisa kamu akses. Selain itu, perempuan perlu meluangkan waktu untuk berpikir tentang tujuan hidup mereka saat ini dan 18 tahun mendatang. Jika ia memutuskan untuk membesarkan anak sendirian, apakah itu berpengaruh terhadap tujuan hidupnya saat ini dan di masa depan. Menjadi orang tua tunggal memang bukan berarti tidak dapat meraih mimpi yang selama ini didambakan, tetapi jalan untuk meraihnya tentu akan jauh lebih sulit. Memiliki anak berarti menempatkan mereka sebagai prioritas utama dan diri sendiri menjadi prioritas yang kedua. Hal ini benar-benar harus dipikirkan secara matang dan untuk itulah konselor perlu dilibatkan dalam soal ini.

Saatnya Berpikir ‘Anakku adalah Segalanya’

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa anak adalah anugerah dan membesarkannya sendirian atau bersama dengan pasangan tentu akan sangat membahagiakan. Ini tentu tidak salah tetapi mungkin akan sedikit naif. Kamu tetap akan membutuhkan hal-hal lain seperti ‘Me Time’ seperti yang biasa kamu lakukan dulu saat kamu masih hidup sendiri. Sebuah penelitian berjudul Regretting Motherhood yang ditulis oleh Orna Donath telah membuktikan bahwa banyak perempuan (yang membesarkan anaknya sendirian atau bersama dengan pasangan) kehilangan kebebasan dan gaya hidupnya dulu ketika masih sendiri. Dan keinginan untuk melakukan hal-hal ini bukannya tiba-tiba menghilang. Suatu saat kamu akan merindukan kegiatan-kegiatan itu, dan ketika posisimu telah berubah menjadi orang tua tunggal, kamu tentu akan mendapat sedikit kesulitan ketika hendak melakukannya. Lagi-lagi ini soal biaya, karena kamu perlu mengurus kebutuhan anakmu. Pikirkanlah soal ini dan coba bicarakan dengan konselor. Hal-hal semacam ini akan lebih mudah diselesaikan jika kamu memiliki Support System yang baik.

Kesehatan Mental Seorang Ibu Tunggal

Percayalah, menjadi ibu tunggal akan mengubah hidupmu. Bahkan, jika kamu merasa telah sangat siap sekalipun. Kamu mungkin telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, tetapi perasaan emosional menjadi seorang ibu tunggal itu akan tetap hadir sewaktu-waktu. Kamu bisa merasa sedih, marah, kecewa dengan statusmu dan ada banyak hal yang menyebabkan semua perasaan itu tiba-tiba menyerangmu. Bisa jadi karena situasi yang kamu hadapi sekarang ini terjadi dengan begitu tiba-tiba. Tiba-tiba kamu telah menjadi ibu, tiba-tiba kamu telah memiliki seorang anak. Atau, kamu mungkin merasa belum maksimal dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan anakmu terkait statusmu yang membesarkannya sendirian. Atau bisa jadi karena kamu kehilangan kesempatan untuk meraih keinginanmu yang lain. Jika perasaan-perasaan ini menyerangmu suatu saat, kamu perlu memikirkan bagaimana cara mengatasinya. Sekali lagi, dukungan dari Support System yang baik di sekitarmu akan sangat membantu. Hal-hal ini tentu sangat wajar jika tidak sampai mengganggu kesehatan mental. Tetapi, jika yang terjadi adalah sebaliknya, jelas bahwa kamu perlu mempertimbangkan opsi lain dari KTD yang kamu alami.

Perhatikan Saran dari Konselor KTD

Kamu mungkin akan bertanya-tanya, “Kenapa juga aku harus berbicara dengan konselor jika pada akhirnya aku sendiri yang paling berhak memutuskan hidupku?” Jika demikian, kamu perlu memikirkan ulang bahwa konselor adalah orang-orang yang direkrut secara profesional dan telah menjalani sejumlah pelatihan untuk menangani permasalahan KTD. Seorang konselor akan membantumu memproyeksikan realita dan situasi yang benar-benar akan kamu hadapi terkait dengan KTD yang kamu alami. Ia juga akan menjelaskan setiap pilihan yang tersedia bagi kamu dan membantu memastikan bahwa keputusan yang kamu pilih nantinya benar-benar sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Mereka akan mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang bakal kamu hadapi jika kamu memilih keputusan A, B, atau C.

Terakhir dan yang terpenting, kamu perlu menyadari bahwa sebagai seorang perempuan, kamu berhak memutuskan pilihan hidupmu sendiri. Apakah kamu akan melanjutkan kehamilan atau tidak, semuanya bergantung pada dirimu sendiri dan bukan orang lain. Ini tentang hidupmu, jadi jangan biarkan orang lain yang memutuskan. Percayalah, jika kamu merasa tidak yakin dengan kehamilanmu saat ini, ada beberapa pilihan yang bisa kamu akses. Tetapi, jika kamu justru telah yakin akan melanjutkan kehamilan, sebuah perjalanan hidup yang baru sedang menunggumu saat ini. Pikirkanlah segala sesuatunya dengan matang. Cari tahu informasi yang dapat dipercaya dan salah satunya, kamu bisa menghubungi Perkumpulan Samsara.

 

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini