4 Alasan Mengapa Aborsi Medis dengan Pil Sangat Disarankan oleh WHO

0
888
aborsi medis

Baru-baru ini (2019), World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia  mengeluarkan buku panduan aborsi medis berjudul Medical Management of Abortion. Ini merupakan buku ketiga yang dikeluarkan oleh WHO setelah sebelumnya secara berturut-turut mereka menerbitkan buku panduan seputar aborsi medis pada tahun 2012 dan 2015.

Aborsi aman dilakukan jika menggunakan  metode yang telah direkomendasikan oleh WHO serta disesuaikan dengan usia kehamilan, dan orang yang menyediakan layanan aborsi atau mendukung layanan aborsi telah terlatih,” tulis mereka dalam laman resmi WHO.

Tingginya angka kematian ibu hamil serta kebutuhan terhadap pemenuhan layanan aborsi bagi perempuan telah mendorong WHO mengadakan penelitian secara mendalam untuk mengatasi permasalahan ini. Hasilnya, pada tahun 2012, untuk pertama kalinya WHO mengeluarkan buku panduan berjudul Safe Abortion: Technical and Policy Guidance for Health System yang lebih menyoroti persoalan kebijakan. Selanjutnya, pada tahun 2015, mereka kembali menerbitkan buku panduan berjudul Health Worker Roles in Providing Safe Abortion and Post-Abortion Contraception yang merupakan respon terhadap buku sebelumnya. Langkah WHO dalam mengatasi permasalahan ini terus berjalan hingga akhirnya pada awal tahun 2019 mereka menerbitkan buku panduan baru yang secara khusus menyatakan bahwa aborsi medis dengan pil merupakan opsi yang sangat direkomendasikan bagi individu yang ingin menghentikan kehamilan. Setidaknya ada empat alasan yang perlu diketahui mengapa jenis aborsi ini sangat direkomendasikan oleh WHO. Berikut alasannya seperti dikutip dari laman resmi WHO:

  • Lebih Efisien

Bukan berarti aborsi bedah jadi tidak efisien. Selama ini ada dua jenis aborsi yang dapat dipilih oleh individu yang mengalami kehamilan, yaitu: aborsi medis dan aborsi bedah. Tentu saja, ada perbedaan yang sangat signifikan terkait dua jenis layanan ini. Aborsi medis menggunakan bantuan pil dan dapat dilakukan secara mandiri dengan pendampingan dari konselor. Sementara aborsi bedah memerlukan bantuan tenaga medis yang ahli karena prosedurnya menggunakan alat-alat penunjang. Selain itu, faktor lain yang menentukan jenis aborsi adalah usia kehamilan. Berdasarkan buku panduan WHO tahun 2012, aborsi medis dapat dilakukan untuk usia kehamilan antara 6 hingga 24 minggu. Aborsi dengan menggunakan pil aman dilakukan selama kurun waktu tersebut. Namun, seringkali para penyedia layanan kesehatan langsung memberikan vonis kepada individu untuk melakukan aborsi bedah. Dan ini dilakukan tanpa melihat usia kehamilan. Padahal, dalam usia kehamilan yang diperbolehkan, aborsi medis dapat bekerja lebih efisien karena tidak memerlukan bantuan dari tenaga medis yang ahli, dapat dilakukan di rumah, serta tidak melibatkan peralatan medis yang rumit. Tingkat keberhasilan aborsi medis juga tinggi dengan persentase metode kombinasi 98% dan metode misoprostol saja 90%.      

  • Lebih Terjangkau

Yang paling menggembirakan dari aborsi medis adalah harganya yang relatif murah jika dibandingkan dengan aborsi bedah. Aborsi medis biasanya dilakukan dengan bantuan pil misoprostol secara mandiri atau kombinasi pil misoprostol dengan mifepristone. Harga dua macam pil ini tentu saja lebih terjangkau apabila dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan jika individu yang mengalami kehamilan memilih aborsi bedah.

  • Tersedia secara Global

Pil misoprostol adalah jenis obat yang tersedia hampir di seluruh dunia. Orang-orang di berbagai belahan dunia sering menjuluki pil ini sebagai pil ajaib karena kemampuannya menghentikan kehamilan. Selain itu, pil ini juga sangat mudah ditemukan di apotek terdekat. Namun, tetap saja yang perlu diingat adalah dosis pemakaian pil ini tidak boleh sembarangan karena harus disesuaikan dengan rekomendasi WHO. Setiap individu yang ingin melakukan aborsi dengan bantuan pil ini juga harus melalui prosedur konseling terlebih dahulu. Dalam hal ini, di Indonesia, individu yang bersangkutan dapat menghubungi layanan konseling Samsara. Selain misoprostol, pil berikutnya adalah mifepristone namun ketersediaan pil ini terbatas. Beberapa negara terutama yang memiliki kebijakan ketat mengenai aborsi biasanya melarang pil ini. Selain itu, mifepristone tidak dapat digunakan sendiri karena pemakaian obat ini harus tetap disertai dengan misoprostol.

  • Lisensi dari WHO

Sebagai lembaga kesehatan internasional, WHO memiliki daftar lisensi obat penting atau List of Essential Medicine yang menjamin apakah suatu obat telah direkomendasikan untuk menangani kebutuhan tertentu. Dalam hal ini, baik pil misoprostol maupun mifepristone telah terdaftar dalam List of Essential Medicine yang mana artinya setiap negara seharusnya memperbolehkan dan menjamin ketersediaan jenis obat ini. Mandat ini tertulis dalam buku panduan terbaru aborsi medis dari WHO tahun 2019. Kebijakan ini seharusnya dapat menjadi alasan kuat bagi para pendukung gerakan aborsi untuk menuntut pemerintah menyediakan dua jenis obat tersebut.   

Selain empat hal di atas, di dalam buku panduan terbaru mereka, WHO secara langsung juga memberi mandat kepada para penyedia layanan kesehatan agar mereka bersedia memberikan informasi yang lengkap terkait aborsi dan kontrasepsi kepada setiap individu yang membutuhkan. Ini berarti setiap penyedia layanan kesehatan perlu menjelaskan jenis aborsi apa saja yang dapat dipilih oleh individu yang mengalami kehamilan. Mereka tidak dapat menolak permintaan layanan aborsi dan tidak dapat serta merta membuat keputusan sepihak seperti misalnya langsung memutuskan aborsi bedah.  

“Ketika perempuan dapat mengakses kontrasepsi yang efektif dan layanan aborsi yang aman, mereka lebih mampu menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka,” tulis WHO seperti dikutip dari laman resminya. Selain itu, mereka juga menekankan agar pemberian layanan aborsi dapat dilakukan dalam suasana yang tidak diskriminatif.

Layanan aborsi yang aman harus dipandang sebagai bagian dari pelayanan kesehatan. Dengan begitu, segala informasi terkait aborsi seharusnya dijelaskan secara lengkap kepada setiap individu yang membutuhkan, yaitu perempuan ataupun selain perempuan. Ini artinya setiap individu yang memiliki kemungkinan untuk hamil atau yang dalam hal ini berarti transgender juga berhak atas informasi tersebut. Sayangnya, dalam praktek, banyak ditemukan kasus dimana layanan aborsi aman tidak diberikan secara komprehensif atau bahkan tidak dapat diakses oleh individu yang membutuhkan. WHO sebagai lembaga internasional yang memiliki otoritas, tentu tidak mengeluarkan suatu bentuk kebijakan tanpa alasan. Aborsi adalah bentuk dari pelayanan kesehatan dan oleh karena itu perlu dipandang dalam kacamata medis. Tindakan diskriminatif yang menghakimi penyedia layanan aborsi ataupun individu yang menginginkan aborsi harus dilawan karena pada dasarnya setiap orang berhak menentukan keputusan bagi hidupnya masing-masing. 

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini