Aku Pernah Melakukan Aborsi, Apakah Aku Bisa Menceritakannya?

0
202
pengalaman aborsi

Berbicara bisa jadi mudah bagi seseorang, tetapi bagi orang lain, itu mungkin hal paling sulit di dalam hidupnya. Ini sangat bisa dimaklumi karena tidak setiap orang memiliki keberanian untuk mengutarakan pendapatnya di depan orang lain. Bisa jadi, seseorang memilih untuk diam karena ia takut menyakiti perasaan orang lain, takut terdengar kejam atau dianggap bodoh, atau khawatir akan terlibat perdebatan yang melelahkan. Ada banyak alasan yang melatarbelakanginya. Tetapi, yang perlu kamu sadari adalah kamu tidak dapat diam sepanjang waktu. Sekali waktu kamu perlu mulai bicara apalagi jika ini menyangkut soal pilihan hidupmu.

Aborsi sebagaimana menurut Advocates For Youth adalah bagian hidup dari seseorang dan bahkan telah ada sejak lama. Karena ini adalah bagian hidup seseorang maka tidak ada yang dapat memutuskannya selain orang itu sendiri. Tidak lembaga negara, keluarga, institusi keagamaan atau apapun. Aborsi harus legal secara penuh dan aman demi menjamin keselamatan perempuan. Sayangnya, ini tidak berlaku di semua tempat. Berdasarkan laporan terbaru dari World Population Review, ada 26 negara yang melarang tindakan aborsi secara total bahkan sekalipun kehamilan yang terjadi disebabkan karena pemerkosaan. Selain itu, tercatat ada 37 negara lainnya yang melarang aborsi kecuali jika kondisi kehamilannya membahayakan nyawa perempuan. Sisanya, ada 60 negara yang melarang aborsi kecuali jika tindakan tersebut mampu menyelamatkan nyawa perempuan dan menjamin kesehatan fisik serta mentalnya. Kondisi ini memberikan gambaran kepada kita bagaimana aborsi telah menjadi isu yang sangat kontroversial hampir di semua tempat di seluruh dunia.

Meskipun, sekarang ini banyak orang yang percaya bahwa aborsi atau tidak adalah keputusan hidup perempuan, tetapi ini tidak cukup membuat institusi atau tokoh yang memiliki kekuasaan seperti lembaga agama, tokoh politik, dan lainnya berhenti mengatakan bahwa aborsi adalah sesuatu yang salah. Stigma bahwa aborsi adalah tindakan yang buruk terus direproduksi hingga membuat aborsi menjadi tabu untuk dibicarakan. Akibatnya, banyak informasi salah kaprah tersebar dimana-mana dan pada akhirnya merugikan perempuan. Padahal, seperti dilansir dari World Population Review, menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, dilarang atau tidak, aborsi terjadi sepanjang waktu di setiap negara. Pelarangan aborsi menurut WHO tidak dapat menurunkan jumlah aborsi yang terjadi setiap tahun. Sebaliknya, melarang tindakan aborsi hanya akan mendorong persentase aborsi tidak aman semakin meningkat.  

Pada titik inilah, menceritakan pengalaman aborsi dapat membantu mengurangi stigma buruk aborsi. Pengalaman setiap perempuan yang melakukan aborsi jelas berbeda. Kita perlu mendengar lebih banyak untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dibalik pilihan untuk melakukan aborsi. Dan untuk itu, kita butuh lebih banyak perempuan untuk mulai bicara. Kita perlu tahu bahwa mungkin saja kita tidak sendiri. Kita perlu mencari tahu bahwa mungkin saja ada banyak perempuan dengan pengalaman yang sama dengan kita.

Di Indonesia, aborsi tidak sepenuhnya dilarang. Tindakan medis tersebut diizinkan apabila memenuhi dua syarat: akibat pemerkosaan atau kehamilan yang terjadi membahayakan nyawa perempuan. Status hukum ini perlu diketahui oleh setiap perempuan yang berkeinginan menceritakan pengalaman aborsi kepada orang lain. Bagaimanapun juga, keputusan untuk menceritakan pengalaman ini juga tidak dapat dipaksakan oleh siapapun. Kalau pun akhirnya kamu memutuskan untuk mulai bicara, ada empat hal yang setidaknya perlu kamu perhatikan seperti dilansir dari Feminism In India:

  1. Ketahuilah alasan mengapa kamu perlu menceritakan pengalamanmu.

Cerita memang memiliki kekuatan untuk mengubah persepsi seseorang. Pengalaman aborsi adalah pengalaman yang sangat berharga. Dalam situasi yang aman, ceritamu akan sangat berguna untuk menolong orang lain. Tetapi, jika menurutmu situasinya dapat merugikanmu, maka mungkin belum saatnya kamu mulai bicara. Aborsi adalah tindakan medis dan itu sama sekali tidak dapat digunakan untuk mengukur tingkat moral seseorang. Buatlah dirimu yakin dengan mencari sebanyak mungkin fakta bahwa aborsi bukan tindakan tercela. Sebaliknya, aborsi menyangkut nasib hidup seseorang.

2. Cari tahu kapan waktu yang tepat.

Komunikasi yang baik bisa terwujud apabila kamu mengetahui apa yang perlu kamu katakan dan bagaimana mengatakannya. Tetapi, tidak cukup hanya itu. Kamu juga perlu mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Jika kamu merasa perlu untuk menceritakan pengalamanmu melakukan aborsi kepada seseorang, carilah waktu yang paling. Ini akan membantu ceritamu bisa tersampaikan dengan baik.

3. Pikirkan baik-baik, medium apa yang paling tepat untuk menyampaikan ceritamu.

Dalam hal ini, Organisasi Non-Pemerintah (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang hak-hak asasi perempuan biasanya memiliki ruang aman bagi para perempuan yang ingin menceritakan pengalamannya terkait aborsi dan lain-lain. Cari tahu sebanyak-banyaknya mengenai hal ini. Ketahuilah bahwa dengan bercerita, beban yang kamu rasakan juga bisa berkurang. Ruang-ruang tersebut bisa menjadi salah satu medium untuk menyampaikan ceritamu. Selain itu, kamu bisa tahu bahwa kamu tidak sendirian. Jika kamu memilih medium lain, periksa juga setiap resiko yang akan kamu hadapi.

4. Ketahui bagaimana caramu menceritakannya.

Kamu bisa menceritakannya secara langsung dengan bertatap muka atau dengan menuliskannya. Kamu bisa memilih salah satu atau justru keduanya. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa caramu menceritakan akan berdampak pada bagaimana orang lain merespon ceritamu. Jika kamu seorang perempuan dengan pengalaman aborsi, ketahuilah bahwa pengalamanmu sangat berharga. Ceritamu memiliki kekuatan untuk mengubah pandangan orang lain terhadap aborsi.

Dapatkan Update Terbaru

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

TINGGALKAN KOMENTAR

Komentar di sini!
Ketikkan namamu di sini