Bedanya kuret dengan cytotec

BEDANYA KURET DENGAN CYTOTEC

Kamu mungkin pernah mendengar istilah kuret. Banyak orang akan merekomendasikan kuret untuk aborsi aman, sebagian lagi akan merekomendasikan cytotec. Apa itu Kuret? dan apa bedanya kuret dengan cytotec? Kita akan bahas di artikel ini.

Berdasarkan rekomendasi dan panduan Badan Kesehatan Dunia atau WHO, Aborsi aman bisa dilakukan dengan dua metode, yaitu surgical dan medical. 

Yang dimaksud dengan metode Surgical Abortion adalah metode dengan teknik bedah, biasanya dengan menggunakan Manual Vacuum Aspiration (MVA) atau Dilatation & Curettage (D&C) atau yang biasa dikenal sebagai kuret di Indonesia.

Yang dimaksud dengan Medical Abortion (MA) atau aborsi medis adalah metode dengan obat-obatan. Obat yang biasanya digunakan, dan direkomendasikan oleh WHO adalah (a) kombinasi Mifepristone dan Misoprostol, atau (b) Misoprostol saja.

Dalam panduan Badan Kesehatan Dunia; Safe abortion: technical and policy guidance for health systems. 2nd Ed. 2012 disebutkan bahwa metode yang direkomendasikan untuk usia kehamilan dibawah 12 minggu adalah Aborsi Medis dan Vakum Aspirasi. Metode kuret hanya direkomendasikan untuk kehamilan diatas 12 minggu. 

Aborsi Medis dan Aspirasi Vakum lebih direkomendasikan oleh WHO karena memiliki resiko infeksi yang lebih kecil dari kuret, dan secara harga jauh lebih terjangkau.

Lalu kenapa masih banyak dokter di Indonesia melakukan kuret pada kehamilan dibawah 12 minggu? Salah satu alasannya adalah karena sampai saat ini Indonesia belum mengadopsi panduan terbaru dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO. Karena belum diadopsi, maka kurikulum kedokteran masih menggunakan kurikulum yang lama, dan sebagai imbasnya banyak dokter yang tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan Aborsi Medis dan Aspirasi Vakum.

Jadi apa perbedaannya antara kuret dan cytotec? kuret adalah metode aborsi bedah atau surgical, sama halnya dengan Aspirasi Vakum. Sedangkan cytotec adalah salah satu merk obat misoprostol yang merupakan metode aborsi medis. 

Pro’s & Con’s

Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Namun perlu dipahami bahwa layanan aborsi di Indonesia dibatasi. Aborsi hanya legal jika ada indikasi (a) Kehamilan tersebut dapat mengakibatkan resiko kesehatan hingga kematian bagi si ibu atau janin yang dikandungnya, atau (b) Kehamilan tersebut merupakan akibat dari perkosaan. Oleh karena itu, kelebihan dan kekurangan setiap metode akan menjadi sangat berbeda jika dilakukan diluar indikasi tersebut.

Biaya

Secara harga, metode aborsi dengan obat jauh lebih terjangkau dibandingkan metode aborsi bedah. Jika bisa mendapatkan resep dokter, harga 12 tablet Misoprostol generik tidak akan lebih dari 250 ribu. Di banyak layanan online, harganya beragam antara 500 ribu hingga 1 juta.

Sedangkan untuk metode surgical seperti Aspirasi Vakum dan Kuret, harga aborsi legal bisa bervariasi antara 1,5 juta hingga 3 juta. Jika aborsi dilakukan tanpa indikasi legal, harganya bisa bervariasi antara 3,5 juta – 5 juta untuk usia kehamilan dibawah 10 minggu. Semakin besar usia kehamilan, semakin mahal biayanya.

Durasi

Proses aborsi dengan teknik bedah seperti Aspirasi Vakum dan Kuret berlangsung lebih cepat. Berhasil atau tidaknya bisa langsung diketahui setelah tindakan berlangsung. Sedangkan proses aborsi medis memerlukan waktu yang lebih lama. Dibutuhkan paling tidak 1×24 jam atau lebih setelah menggunakan misoprostol untuk mengetahui apakah aborsi berhasil atau tidak. Untuk memastikan apakah aborsi telah komplit atau bersih, masih perlu menunggu 2-3 minggu sebelum melakukan tes kehamilan. Jika komplit, tes kehamilan akan menunjukkan hasil negatif. Proses ini  memerlukan ketelatenan. 

Penyedia Layanan

Berdasarkan rekomendasi WHO dalam Medical management of abortion. 2018  aborsi bedah seperti Aspirasi Vakum dan Kuret bisa dilakukan oleh dokter spesialis kandungan, atau dokter umum dan bidan yang mendapatkan pelatihan khusus. Sedangkan untuk aborsi medis, dalam Expanding health worker roles for safe abortion in the first trimester of pregnancy. 2016 WHO menyatakan bahwa aborsi medis aman untuk dilakukan oleh tenaga medis seperti dokter spesialis, dokter dan bidan. Dalam panduan terbarunya Medical management of abortion. 2018 untuk pertama kalinya WHO juga menyebutkan bahwa aborsi medis mandiri aman untuk dilakukan oleh perempuan langsung, terutama jika kehamilan dibawah 12 minggu.

Selain panduan WHO, banyak penelitian lainnya yang juga telah menunjukkan bahwa aborsi medis aman untuk dilakukan secara mandiri oleh perempuan.