Diary of Lost

Hanya butuh waktu 9 bulan sejak terjadinya proses aborsi sampai akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Pada saat itu aku merasa mungkin inilah keputusan terbaik bagi kami, terutama bagi bram. Setelah melalui proses yang cukup bertele-tele akhirnya aku menyetujui kemauan...

Diary of Loss

Suatu pagi hari di pertengahan bulan desember 2003, Bram menunggu di kamar dengan was-was ketika aku melakukan test kehamilan dengan test-pack. Cemas dan gelisah, itulah yang aku rasakan ketika mulai mengambil urin dan melakukan test. Setelah menunggu beberapa saat...
Ketika saya menikah dan hamil kembali, perlakuan tenaga kesehatan kepada saya bagaikan bumi dan langit. Status nyonya seakan-akan merupakan tiket emas bagi senyuman dan dukungan atas kehamilan saya. Saya merasa ini sama mengerikannya—sikap standar ganda ini terasa begitu palsu. Saya...
Ditulis oleh Astrid Reza di Yogyakarta pada 27 Oktober 2010 Usia saya nyaris dua puluh tahun ketika saya memutuskan untuk melakukan aborsi. Saya tidak siap menjadi seorang ibu, dan pacar saya pada saat itu pun tidak mau bertanggung jawab. Saya memutuskannya...
Ditulis oleh Astrid Reza pada 27 Desember 2010. Ketika Yendi Amalia dari YSIK meng-email saya sekian minggu yang lalu, meminta saya menulis untuk kampanye “16 Hari untuk Selamanya”, sebuah kampanye anti kekerasan terhadap perempuan internasional yang berlangsung pada tanggal 25...