Saya, Perempuan dan Sejarah Kekerasan Diri

Ditulis oleh Astrid Reza pada 27 Desember 2010.

Ketika Yendi Amalia dari YSIK meng-email saya sekian minggu yang lalu, meminta saya menulis untuk kampanye “16 Hari untuk Selamanya”, sebuah kampanye anti kekerasan terhadap perempuan internasional yang berlangsung pada tanggal 25 November–10 Desember 2010, saya langsung mengiyakan dan saya kira tulisan ini akan mudah. Saya kira saya bisa menyelesaikan tulisan ini dengan cepat dan ringkas. Namun saya salah. Pengalaman dengan kekerasan tidak pernah mudah. Hidup saya sebagai perempuan tidak pernah mudah.

Yang paling sulit dari tulisan ini adalah saya tidak tahu dari mana saya harus mulai dan bagaimana saya harus berbicara. Saya tidak tahu batasan-batasan tentang apa yang harus saya bicarakan di sini. Bagaimana membuat tulisan atau mungkin kesaksian ini menjadi ringan, enak dibaca dan dimengerti oleh banyak orang. Bagaimanapun pada akhirnya ini akan berat. Kekerasan tidak pernah ringan. Jangan pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan, jika demikian kita sudah kehilangan kemanusiaan kita.

Setelah satu helaan napas, saya memutuskan, saya akan jujur—sejujur-jujurnya.

Usia saya dua puluh tujuh tahun. Saya perempuan. Saya seorang ibu tunggal dari anak laki-laki saya. Saya bekerja. Saya seorang penulis, dan bisa dibilang saya juga aktif sebagai aktivis di dunia LSM sejak masa kuliah. Saya berasal dari kalangan kelas menengah tipikal di Indonesia. Kedua orangtua saya dosen di perguruan tinggi negeri. Saya tidak buta hukum, justru isu-isu HAM dekat dengan saya dan selama ini saya terlibat di dalamnya. Saya tidak blak-blakan mengatakan bahwa saya feminis, sejujurnya saya tidak terlalu memperdebatkan isu ini. Bagi saya menjalani hidup dan mengalami hidup sebagai perempuan sudah lebih dari cukup. Dengan sekian fakta mengenai diri saya, saya pun tidak luput mengalami kekerasan. Baik fisik, mental dan juga seksual.

Pertama kali saya mengalami pelecehan seksual di usia anak-kanak. Enam tahun. Belum lama saya mengenakan seragam merah putih, ketika sepupu laki-laki yang cukup dekat dengan saya—saya menganggapnya sebagai kakak karena saya anak sulung—merogoh dan memainkan alat kelamin saya ketika kami sedang bermain di kebun. Saya bahkan belum menyadari apa fungsi alat kelamin saya selain untuk kencing. Reaksi saya akhirnya hanya diam. Waktu itu ia sudah SMP, dan ia memperlakukan saya seperti bonekanya. Ia mencium saya, menciumi tubuh saya, menggerayangi tubuh saya, menindih saya walaupun tidak sampai penetrasi. Dan ini terjadi berulang kali. Saya merasa aneh, saya merasa ada yang salah, tapi saya tidak mengerti apa. Saya merasa saya harus bicara kepada seseorang, tetapi saya tidak tahu siapa.

Butuh waktu sekian tahun bagi saya untuk mengerti apa yang terjadi. Saya harus berterima kasih dengan buku-buku ginekologi ibu saya yang—walaupun berbahasa Inggris—berhasil saya baca sampai selesai di penghujung sekolah dasar. Akhirnya saya bisa mengatakan bahwa saya tidak mau lagi diperlakukan demikian dan sebaiknya dia berhenti atau saya akan melaporkannya kepada orang tua saya. Dia berhenti tapi saya tidak jadi melaporkannya kepada orang tua saya. Setelah saya pikir lagi sekarang, mungkin karena malu. Bahkan untuk ukuran keluarga saya yang cukup demokratis, persoalan ini menjadi tabu untuk dibicarakan. Mungkin saya cuma beralasan. Entahlah. Saya pikir saya bisa melupakannya dan hal ini tidak akan membawa dampak apapun kepada kehidupan saya selanjutnya.

Lagi-lagi saya salah besar. Peristiwa pelecehan seksual ketika saya kanak-kanak itu akhirnya membekas. Membuat semua relasi saya dengan laki-laki ketika dewasa terasa rumit dan saya mudah menjadi rapuh. Bahwa terkadang saya merasa pergulatan saya untuk memahami tubuh saya sendiri menjadi begitu panjang. Terkadang saya lelah dan saya menyerah. Terkadang lagi saya tidak terima dan terus bertahan. Dengan menulis ini saya berjanji pada diri saya bahwa saya akan selalu kuat dan tidak akan berhenti berjuang. Setidaknya untuk diri saya sendiri.

Saya kehilangan keperawanan saya pada usia delapan belas tahun. Saya tidak menyesal. Saya tahu saya menginginkannya. Karena bagi saya, kepolosan saya sudah hilang di usia enam tahun. Bagi saya, secara esensial hal ini tidak ada bedanya. Saya hanya merasa sedikit ironis. Bahwa saya terlalu cepat dewasa, bahwa masa kanak saya dapat hilang begitu saja dengan sekian sentuhan yang waktu itu saya tidak mengerti apa.

Yang saya rasakan ketika saya kehilangan keperawanan saya adalah bahwa saya tidak kotor. Saya tidak lagi malu dengan tubuh saya. Saya merasa terbebaskan dengan beban moral keperawanan yang beredar dengan penuh tabu di masyarakat. Tidak ada yang agung di sana bagi saya. Seperti segalanya dalam hidup, keperawanan adalah sebuah fase yang harus dilewati oleh setiap orang.

Bagian Kedua

Usia saya nyaris dua puluh tahun ketika saya memutuskan untuk melakukan aborsi. Saya tidak siap menjadi seorang ibu, dan pacar saya pada saat itu pun tidak mau bertanggung jawab. Saya memutuskannya sendiri. Saya sadar risiko yang saya ambil dan saya bertanggung jawab kepada diri saya sendiri. Bahwa saya akan menanggungnya seumur hidup saya. Saya minta maaf pada janin yang saya kandung. Saya minta maaf pada diri saya sendiri.

Bagi saya yang paling mengerikan dari pengalaman aborsi ini adalah kekerasan yang dilakukan terhadap tubuh saya. Kekerasan dari sistem, pelayanan kesehatan dan moralitas semu masyarakat mengenai pilihan-pilihan bagi perempuan dan tubuhnya. Saya mencoba merunut bagaimana semua ini terjadi.

Generasi muda seperti saya mulai mendapatkan pendidikan seksual di sekolah menengah. Namun tidak secara eksplisit. Generasi kami mengenal segala yang instan. Generasi kami menikmati arus informasi yang tanpa batas dan bagian dari anak muda global. Namun, kenyataannya kami mendapatkan akses terhadap kesehatan reproduksi yang minim. Walaupun saat ini membeli kondom sudah tidak lagi tabu, masih saja banyak orang yang heran mengapa perempuan muda seperti saya selalu membawa kondom ke mana-mana. Belum lagi tatapan sinis atau nyinyir yang didapatkan ketika kami membeli kondom di apotik, supermarket atau minimarket 24 jam.

Bagi orang-orang yang bertebal muka seperti saya, mungkin kami tidak ambil pusing. Berdasarkan pengalaman saya: Jangan ambil pusing! Selalu sediakan kondom ke mana pun Anda pergi, mau Anda laki-laki atau perempuan, menikah atau tidak menikah, perawan-perjaka ataupun tidak, lajang atau berpasangan sekalipun. Karena apa yang akan saya paparkan berikut ini mau tidak mau akan menganggu kesadaran dan juga tanggung jawab Anda.

Dengan membawa kondom pun tidak luput saya mendapatkan masalah ketika pacar saya enggan memakainya. Kesalahan-kesalahan kecil ini terjadi. Sialnya lagi saya pada waktu itu tidak memiliki akses terhadap alat kontrasepsi lainnya seperti pil KB dan sejenisnya. Lebih tepatnya risih. Saya memiliki pengalaman buruk berhadapan dengan tenaga layanan kesehatan reproduksi terutama ketika status saya adalah seorang nona. Jangankan bertanya apakah saya bisa mendapatkan akses alat kontrasepsi, status nona saja sudah mendatangkan banyak pertanyaan, juga tatapan yang jengah di ruang tunggu dokter kandungan. Saya tidak menikah tetapi aktif secara seksual. Ketika saya memiliki kesadaran untuk bertanya mengenai pap-smear, pembicaraan melenceng jauh pada pertanyaan kenapa saya aktif secara seksual sebelum menikah. Saya malas menghadapi pertanyaan basa-basi yang kurang sopan ini.

Kehidupan seksual saya adalah pilihan personal saya.

Apakah begitu mengherankan ketika masih di usia belasan tahun saya memberanikan diri untuk menuntut hak reproduksi dan informasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi saya? Apakah dengan status saya sebagai seorang nona, hal ini tidak menjadi hak saya?

Ketika saya mengetahui bahwa saya hamil lalu mengecek kehamilan saya ke dokter, pengalaman traumatik dan pelecehan dari tenaga layanan reproduksi ini dimulai. Berawal dari dokter kandungan di mana saya mengecek kehamilan saya. Ketika status saya nona dan saya sampaikan bahwa saya ke sana untuk mengecek kehamilan, muka dokter itu berubah. Sinis. Saya tidak bisa melupakan ekspresi itu. Ekspresi merendahkan saya. Ekspresi yang sama sekali tidak membantu saya mengatasi luapan emosi saya ketika saya mendapatkan konfirmasi bahwa saya benar-benar hamil. Ekspresinya mengatakan seperti saya telah melakukan kejahatan. Dengan kata-katanya ia langsung mengatakan bahwa untuk KTD (Kehamilan yang Tak Diinginkan) ia tidak bisa membantu dan memberikan rekomendasi  ke PKBI Yogyakarta yang menangani konseling untuk persoalan ini. Hanya satu hal yang mengganjal saya sampai sekarang mengenai momen itu, siapakah dokter tersebut sehingga langsung mengkategorikan kehamilan saya sebagai KTD? Istilah itu pun mengganggu saya. Dia bahkan tidak bertanya mengenai keinginan saya seperti apa. Momen itu saya belum memutuskan apa-apa dan yang dilakukannya sama sekali tidak membantu. Lebih tepatnya bagai menjerumuskan saya ke liang kegelapan dan tanpa pengharapan.

Konseling yang saya alami berjalan baik, cukup responsif dan informatif. Tapi ketika saya mengecek kembali kehamilan saya pada tenaga kesehatan di tempat yang sama, pelecehan terhadap saya oleh bidan yang mengecek saya kembali terjadi. Mereka pikir kehamilan saya adalah suatu bahan ejekan yang lucu. Mereka tidak tahu bahwa ejekan itu begitu menyakitkan saya. Mereka tidak mengenal saya. Mereka tidak memahami bagaimana situasi saya. Mereka mengatakan kata-kata yang sungguh tidak pantas. Celakanya mereka adalah tenaga kesehatan yang tersedia. Di situlah puncaknya, saya pulang dan menangis di jalan. Lebih menangisi penghinaan yang saya dapatkan dan bagaimana saya merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawannya.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk mengugurkan kandungan saya di Jakarta. Tentu saja, dengan aborsi yang tidak aman. Tidak ada cara lainnya di negara ini. Saya pun merasa saya belum bisa menjabarkan kejadian ini dengan lebih detail. Kecuali bahwa peristiwa itu adalah episode paling mengerikan dalam hidup saya. Saya hampir kehilangan nyawa saya. Paska aborsi, saya mengalami pendarahan hebat sebanyak dua kali, yang saya pikir saya akan mati pada saat itu. Dan saya menghadapi semua peristiwa ini sendirian. Bayangkan saja ketika suatu pagi saya di kamar mandi tiba-tiba saya mengalami pendarahan hebat, yang untungnya berhenti tidak lama dan saya harus menyembunyikan semua fakta ini sendirian. Keluar dari kamar mandi seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak ada siapapun yang menemani saya pada saat itu. Jika saya mati mungkin saya tidak tahu harus ke mana. Saya tidak yakin rumah sakit akan menolong saya. Saya menjadi begitu pesimis dengan layanan reproduksi di negara ini.

Bagian Ketiga

Ketika saya menikah dan hamil kembali, perlakuan tenaga kesehatan kepada saya bagaikan bumi dan langit. Status nyonya seakan-akan merupakan tiket emas bagi senyuman dan dukungan atas kehamilan saya. Saya merasa ini sama mengerikannya—sikap standar ganda ini terasa begitu palsu. Saya melewati kehamilan saya dengan baik dan melahirkan dengan normal. Anak saya sehat dan baik-baik saja sampai sekarang. Saya berhasil melewati proses menyusui anak saya sampai usia dua tahun dan sekarang sedang mencoba menyapih anak saya senyaman dan sealamiah mungkin. Terlepas dari segalanya, pengalaman kehamilan kedua ini membuat saya melepaskan ketakutan dan trauma-trauma saya. Sekaligus membuat saya takjub dengan mekanisme tubuh perempuan yang luar biasa. Daya tahan yang luar biasa. Pengalaman penuh rasa sakit, keringat, air mata dan darah. Segala yang membuat saya merasa hidup.

Memiliki anak membuat rasa mempertahankan diri saya semakin besar. Saya dapat melakukan apa saja demi anak saya. Saya sepenuhnya sadar itu. Sayangnya, di sisi lain saya juga jadi menerima apa saja demi anak saya. Termasuk menanggung kekerasan dalam rumah tangga. Saya menemukan diri saya berada dalam sebuah fase di mana saya bisa menerima kekerasan terhadap diri saya asalkan anak saya tidak apa-apa. Tekanan dan pola hubungan yang buruk dengan mantan suami saya, membuat saya berada di sisi kelam yang lain.

Saya kira saya telah melewati episode yang paling buruk dalam hidup saya. Saya merasa lelah dengan hubungan-hubungan yang rumit sehingga memutuskan untuk berlabuh. Saya menikah pada usia duapuluh empat tahun. Awalnya saya merasa semuanya baik-baik saja. Tetapi ketika saya mulai hamil dan mantan suami saya mulai sering memaksakan hubungan seks, saya merasa pengertian dari dirinya hilang dalam sekejap. Saya ingin menikmati perubahan biologis yang tengah saya alami dengan lebih sadar. Sedangkan mantan suami saya memperlakukan saya seolah saya objek seks, dan bahwa adalah kewajiban saya sebagai seorang istri untuk tetap melayaninya. Ketika saya mulai berdamai dengan tubuh saya, dengan kesadaran saya untuk menjadi seorang ibu, saya merasa setiap hari saya harus berjuang mempertahankan janin saya. Ketidaknyamanan untuk melakukan hubungan seks selama kehamilan seolah dianggap angin lalu. Saya mulai membenci seks, menganggapnya sebagai pekerjaan rumah yang harus dilewati setiap hari. Saya mulai berpikir … apakah nafsu setiap lelaki itu bak binatang yang lepas kendali? Apakah seseorang bisa dibilang sebagai istri, ketika ketidaknyamanannya tidak menjadi pertimbangan? Apakah seseorang bisa disebut sebagai suami, ketika ia memperlakukan istrinya sebagai hak milik atau hak pakai? Pertanyaan-pertanyaan ini yang bergulat dalam batin saya. Hanya satu hal yang membuat saya bertahan, saya masih ingin melihat anak saya memiliki seorang ayah.

Ketika kehamilan saya mendekati trimester ketiga, saya merasa saya harus mengambil langkah tegas. Saya menolak melakukan hubungan intim. Satu dengan lain hal, karena kondisi ekonomi yang kurang baik dan tiba-tiba kebiasaan minum alkohol dari mantan suami saya muncul kembali, terjadi peristiwa yang membuat saya shock. Dalam kondisi hamil besar, sekitar tujuh bulan, saya dilempar botol bir sebanyak tiga kali di pesta pertunangan seorang kawan. Saya tidak paham sebabnya apa. Walaupun saya berhasil menghindar dan tidak apa-apa, tapi rasa kaget itu masih bisa membuat saya merasa gemetaran. Entah rasa kaget atau rasa kecewa yang tak terjelaskan, saya masih menahan orang-orang agar dirinya tidak dipukuli oleh massa yang tidak terima atas perlakuan dirinya terhadap saya. Karena saya masih ingin anak saya melihat ayahnya, meski dalam hati saya mulai menyadari bahwa hal itu akan sia-sia. Tidak ada yang akan berubah bahkan ketika anak saya sudah lahir sekalipun.

Anak saya lahir ketika saya berumur duapuluh lima tahun. Ia tumbuh sehat dan normal. Saya fokus menyusui anak saya. Walaupun mantan suami saya cukup membantu urusan rumah tangga dan keperluan anak setiap harinya, tak bisa disangkal bahwa kondisi ekonomi kami kacau. Setelah selesai masa ASI ekslusif, saya mulai mengambil pekerjaan sambilan. Dengan kondisi saya yang lelah luar biasa setiap harinya, dia masih memaksakan hubungan intim. Saya sampai pada kondisi di mana saya muak dengan seks dan saya merasa laki-laki benar-benar binatang belaka. Parasit yang menjijikkan. Saya masih bertahan, karena saya mengurus anak saya sendirian. Tidak ada keluarga yang membantu saya karena kedua orang tua saya telah meninggal.

Ketika saya kembali ke Yogyakarta untuk mengurus persoalan kuliah yang tertunda, teman-teman saya mengungkapkan sebuah fakta yang mengagetkan bagi saya. Ternyata selama saya tidak ada … ternyata ketika saya hamil besar, mantan suami saya melakukan pelecehan seksual ke teman-teman perempuan saya dan kasus ini berulang. Saya tidak lagi berpikir, keesokan harinya saya memutuskan untuk membawa anak saya dan berpisah dengannya untuk selamanya. 

Bagian Terakhir

Bagi saya, pelecehan seksual adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa saya maafkan dan saya terima. Laki-laki yang tidak bisa menghargai perempuan adalah sosok yang paling saya benci. Saya tidak mau anak saya tumbuh dengan ayah yang demikian. Lebih baik perkawinan saya yang kandas daripada anak saya besar dengan pandangan semacam itu. Siap tidak siap, akhirnya saya menjadi seorang orang tua tunggal.

Episode buruk ini tidak berakhir begitu saja. Ketika saya terpaksa menitipkan anak saya selama sebulan bersama mantan suami saya karena saya harus menyelesaikan studi saya—ini terjadi beberapa bulan setelah kami berpisah tempat tinggal—saya mengalami kekerasan yang tak terbayangkan. Pada akhirnya mantan suami saya putus asa. Ia menyadari bahwa saya tidak akan pernah kembali lagi padanya. Suatu hari, ketika saya pulang riset dan kelelahan, biasanya ia segera pulang ke tempatnya. Saya menyusui anak saya dan jatuh tertidur. Tubuh saya begitu lelah sehingga ketika saya menyadarinya, segalanya sudah terlambat. Ia memperkosa saya. Perkosaan ini adalah puncak dari segala kekerasan yang terjadi pada tubuh saya. Hal ini dilakukannya dengan sengaja, apalagi mengetahui bahwa saya berhenti KB sebulan sebelumnya. Ia berpikir dengan usahanya menghamili saya dengan paksa akan menolong segalanya. Ketika saya berhasil bangkit dan menendangnya dari atas tubuh saya, saya ingin mengamuk. Anak saya masih tertidur di sebelah saya. Saya mengambil kunci motor dan keluar dari rumah. Saya tidak tahu harus ke mana, saya menangis di atas motor. Menangis penuh amarah yang tak tertahankan. Dan saya tidak ingin anak saya melihat saya dalam kondisi demikian.  

Saya ke rumah sahabat saya yang membiarkan saya mengeluarkan segalanya. Menyuruh saya berkonsultasi ke PKBI untuk preskripsi after morning pill. Saya menurutinya, saya tidak mau mengambil risiko dan tidak siap dengan kehamilan lagi dari laki-laki yang sekarang amat saya benci. Jijik, bahkan. Saya merasa kekerasan hanya akan melahirkan sesuatu yang sia-sia. Hari itu status nyonya pun berubah menjadi mimpi buruk, dokter memberikan saya preskripsi namun juga tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengomentari apa yang terjadi. Yang menurutnya terjadi karena saya menginginkannya. Saya terpaku. Adakah orang yang menginginkan untuk diperkosa? Puncak kekesalan saya terhadap tenaga layanan kesehatan reproduksi benar-benar meledak. Ini sudah keduakalinya terjadi di tempat yang sama dengan situasi yang berbeda. Saya melaporkan dokter itu ke LSM di mana ia bekerja paruh waktu dan menuntut ia dipecat, karena ia tidak layak bekerja untuk melayani orang-orang yang membutuhkan empati paska terjadinya kekerasan domestik. Kekerasan bukan sebuah bahan ejekan! Saya heran di mana dokter dan para bidan ini belajar menggunakan mulutnya.

Saya mengusir mantan suami saya dari hidup saya untuk selama-lamanya. Mengancam akan mengajukan tuntutan pidana jika ia dan keluarganya mendekati saya dan anak saya lagi. Yang tersisa dalam diri saya untuk mereka hanya amarah dan amarah. Dan saya masih marah.

Saya sepenuhnya sadar bahwa saya membutuhkan waktu untuk bisa melewati segala fase kekerasan yang terjadi pada diri saya. Saya akui saya bahkan mulai antipati dengan laki-laki. Saya masih merasa tidak ada yang baik dari mereka setelah apa yang saya lewati. Saya lebih merasa nyaman dikelilingi teman-teman baik saya yang perempuan; atau gay. Saya ingin mencari aman untuk saat ini. Yang bisa saya pegang saat ini adalah membesarkan anak saya menjadi laki-laki yang dapat menghormati perempuan.  Menjauhkan dirinya dari kekerasan bahkan jika ia harus tidak memiliki sosok ayah biologisnya. Saya tidak mau anak saya mengalami bom waktu yang saya alami hanya semata karena saya ingin mempertahankan perkawinan saya.  Bagi saya hal itu tidak realistis dan tidak logis.

Pada akhirnya saya dan anak saya mulai mendapatkan hidup kami kembali. Kami baik-baik saja dan saya mulai menjalani hidup saya dengan lembaran baru. Saya menikmati menjadi seorang ibu tunggal dan lajang. Saya menikmati kendali yang saya miliki terhadap diri saya dan tubuh saya.  Bagi saya, kodrat tubuh perempuan adalah dengan menikmatinya. Dengan berdamai dengan tubuh saya sendiri dan kesadaran diri saya.

Kekerasan sudah merusak hubungan itu begitu lama. Membuat saya merasa terpecah belah dan tak merasa lengkap sebagai seorang manusia dan perempuan yang utuh. Sekarang saya belajar untuk menjaga diri saya baik-baik, menghargai apa yang saya miliki dan saya mulai dengan diri saya sendiri. Saya hanya membutuhkan diri saya sendiri.

Usia saya dua puluh tujuh tahun. Saya perempuan dan sekarang dengan lantang saya menolak terjadinya kekerasan terhadap diri saya lagi, juga bagi semua perempuan. Selamanya!