Kalau kamu mengalami kehamilan tidak direncanakan,  mungkin akan berat buatmu untuk memutuskan apakah kamu akan melanjutkan kehamilan atau memilih untuk menghentikan kehamilan. Kedua pilihan tersebut bukan pilihan yang mudah, keduanya memiliki konsekuensi baik secara personal, ekonomi maupun sosial.

Sebagian mungkin bisa memilih menghentikan kehamilan mereka, tapi kebanyakan perempuan tidak punya pilihan tersebut, dan seringkali satu-satunya pilihan buat mereka adalah melanjutkan kehamilan.

Menjadi orang tua tunggal atau menikah?

Apakah menikah jadi jawaban? Ya, jika tujuannya adalah untuk menyelamatkan nama baik. Tapi belum tentu jadi jawaban yang bisa menjamin kebahagiaan baik untuk perempuan ataupun anak. Dalam banyak situasi, pasangan terpaksa dinikahkan karena kehamilan tidak direncanakan. Keduanya belum tentu siap untuk berkomitmen dalam pernikahan, termasuk untuk berbagi peran sebagai orang tua. Ini yang kemudian dapat berbuntut pada percekcokan dan kekerasan dalam rumah tangga.

Menjadi orang tua tunggal memang tidak mudah, apalagi tanpa ada dukungan dari pasangan dan pihak keluarga. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Ada banyak perempuan yang mampu menjadi orang tua tunggal. Meskipun menikah, namun tidak ada jaminan bahwa pasangan dan keluarga akan mendukung. Bisa jadi secara ekonomi ada dukungan karena biaya dibagi bersama. Tapi ingat, menjadi orang tua itu bukan hal yang mudah, dukungan yang dibutuhkan tidak hanya sebatas pada dukungan ekonomi. Meskipun pada akhirnya menikah, seringkali pernikahan tersebut juga mendapat stigma dan diskriminasi dari keluarga dan lingkungannya. Kesehatan sendiri adalah tercapainya kondisi sejahtera secara fisik, psikis, sosial dan ekonomi. Artinya kondisi seperti ini tidak sehat secara mental, baik untuk pasangan maupun untuk tumbuh kembang anak.

Apa hal terpenting dalam hidupmu?

Sebelum memutuskan apakah menikah adalah pilihan terbaik atau bukan, fikirkan kembali apa yang kamu inginkan dalam hidupmu dan masa depan seperti apa yang ingin kamu ciptakan. Keputusanmu hari ini akan menentukan arah hidupmu ke depan. Jangan terjebak dengan mitos-mitos Cinderella. Buat keputusan yang realistis. Dengan memilih melanjutkan kehamilan, kamu akan menjadi seorang ibu. Dengan menikah, kamu tidak hanya menjadi seorang ibu saja, melainkan juga seorang istri. Ada dua peran dan tanggung jawab yang akan kamu ambil. Tanyakan beberapa hal berikut ini pada dirimu sendiri sebelum membuat keputusan:

  • Apa hal yang paling penting dalam hidupku? Apakah itu cinta, kebahagiaan, materi, kesuksesan?
  • Masa depan seperti apa yang ingin kubangun buatku dan anakku? 
  • Apakah aku benar mencintai pasanganku dan menginginkan pernikahan ini? Atau aku hanya malu dan ingin menutup aib?
  • Apakah aku yakin bahwa pasanganku mencintaiku dan menginginkan pernikahan ini? Atau terpaksa?
  • Jika pasanganku terpaksa menikah denganku, akankah dia menerima dan mencintai aku dan anakku? Akankah dia akan menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab?
  • Apakah menikah satu-satunya cara untuk bertanggung jawab? Apakah dengan memutuskan menjadi seorang ibu saja sudah sebagai bagian dari caraku untuk bertanggung jawab?
  • Apakah aku siap menerima dua peran sekaligus? Menjadi seorang ibu dan istri?
  • Apa yang suami dan keluargaku harapkan dari peranku sebagai seorang ibu dan istri? Apakah aku sanggup memenuhi harapan mereka?
  • Apa yang dapat ditawarkan oleh pernikahan ini? Apakah aku akan diperlakukan dengan baik? Dihargai? Dihormati?
  • Apa yang harus kulepaskan/kutinggalkan jika aku memilih peran tersebut? 
  • Jika kulepaskan/kutinggalkan sekarang, apakah aku masih dapat kembali/melakukannya suatu saat nanti?
  • JIka aku memilih menikah, apakah pernikahan ini dapat mendukungku mencapai harapan dan masa depan seperti yang kuinginkan?
  • Jika aku memilih tidak menikah, apa konsekuensi terberat yang akan kuhadapi? Apakah aku sanggup menghadapinya?

Apakah Adopsi Pilihan Terbaik Buatku?

Banyak yang berfikir bahwa adopsi adalah keputusan yang tidak bertanggung jawab. Bahwa perempuan bersikap egois dengan hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Pada kenyataannya, justru sebaliknya. Adopsi adalah sebuah keputusan moral yang diambil oleh seorang perempuan, tidak hanya untuk kepentingan dirinya, tapi juga demi memastikan anaknya mendapatkan keluarga yang dapat memberikan kasih sayang dan perawatan terbaik. Justru egois, jika seorang perempuan memaksakan menjadi seorang ibu karena ingin memenuhi harapan orang lain atau lingkungan sekitarnya, tanpa memperhitungkan kemampuannya memberikan kasih sayang dan perawatan yang terbaik untuk anaknya. 

Kalau kamu sedang mempertimbangkan pilihan ini, coba untuk keluar dari ekspektasi orang lain atau lingkungan sosial kita. Ini adalah hidupmu, dan ini adalah pilihanmu. Memutuskan untuk adopsi bukan soal apakah kamu sayang atau tidak sayang pada anakmu. Terkadang, cara mencintai yang paling dalam adalah dengan melepas hal yang paling kita cintai, karena kita menginginkan yang terbaik baginya. 

Wajar jika perasaan kamu berkecamuk dan bercampur aduk. Perasaan tidak selalu tunggal, seringkali muncul bersamaan atau berganti-ganti. Tidak ada rasa yang benar atau salah. Perasaanmu valid, perasaanmu adalah milikmu. 

Kamu mungkin akan merasa bersalah, merasa menjadi seorang ibu yang buruk dan jahat. Hal ini sangat normal. Jika ini muncul, tanyakan darimana perasaan ini muncul? Bisa jadi perasaan ini muncul karena kamu paham apa ekspektasi orang dan masyarakat atas dirimu, terutama karena kamu perempuan. Yakinkan dirimu terus bahwa ini adalah hidupmu, dan kamu yang paling tahu hidupmu. Tidak ada yang bisa mendikte apa yang harus dan tidak boleh kamu lakukan dalam hidupmu. You’re the master of your life.

Untuk membantumu membuat keputusan, pertimbangkan beberapa hal berikut ini:

  • Apa yang kuinginkan untukku?
  • Apa yang kuinginkan untuk anakku?
  • Apa dukungan yang kumiliki jika aku memilih menjadi orang tua tunggal? Apakah ada pasangan, teman atau keluarga yang dapat membantuku merawat anak?
  • Apakah aku memiliki cukup sumber daya untuk merawat anakku? Apakah aku punya pekerjaan dan pendapatan yang cukup untuk membiayai anakku? Mungkin tabungan?
  • Dengan merawat anakku, apakah aku masih bisa sekolah/bekerja seperti biasanya? Perubahan apa yang harus kubuat?
  • Jika aku tidak punya dukungan dan sumber daya yang cukup, apakah aku sanggup membesarkan anakku sendirian?
  • Jika aku memilih adopsi, apakah aku bisa bertemu anakku suatu saat? Apakah aku akan merindukannya?
  • Jika aku merindukan anakku, apa yang akan ku katakan pada diriku sendiri?
  • Apakah aku akan menyesal jika aku mengadopsikan anakku? 
  • Apakah aku akan menyesal jika aku tidak mengadopsikan anakku?
  • Bagaimana aku memastikan anakku akan mendapatkan perawatan terbaik? Siapa yang dapat memberikan itu pada anakku?
  • Apakah anakku akan membenciku saat dia besar nanti? Atau mungkin dia memahami keputusanku?

Jika kehamilan ini adalah kehamilan akibat kekerasan seksual, atau jika kamu memiliki masalah dengan ayah si anak. Tanyakan juga hal berikut ini:

  • Apakah aku masih memendam kemarahan dan trauma?
  • Apakah anakku akan mengingatkanku kembali pada traumaku?
  • Apakah aku sanggup menerima dan memperlakukan anak ini secara adil?
  • Apakah aku siap melakukan pemulihan supaya kemarahan dan traumaku tidak terproyeksikan pada anakku?
  • Apa yang akan ku katakan padaku anakku, jika suatu saat dia menanyakan siapa bapaknya? Apakah aku akan sanggup menyampaikan yang sebenarnya, atau aku akan berbohong? Apakah anakku punya hak untuk tahu siapa bapaknya?

Sesulit apapun situasi yang kamu hadapi sekarang, percaya bahwa kamu akan bisa melaluinya. Hidup adalah serangkaian keputusan. Keputusanmu sekarang bukan keputusan yang akan menentukan sisa hidupmu. Tapi keberanian dan kemampuanmu membuat keputusan berat ini akan melatihmu menjadi seorang perempuan kuat yang merancang hidupnya sendiri. Seorang perempuan yang memiliki kuasa atas tubuh dan hidupnya.