Perasaan setelah aborsi

perasaan setelah aborsi

Aborsi sudah selesai. Kamu sudah merasa fit kembali dan bisa melanjutkan rencana hidupmu. Tapi kamu merasa ada perubahan perasaan setelah aborsi.

Kamu mungkin bertanya-tanya; apakah wajar jika perasaan saya berubah-rubah?

Jawabannya, iya. Wajar jika perasaanmu berubah-rubah.

Kebanyakan perempuan merasa lega setelah proses aborsinya selesai. Namun seringkali perasaan ini juga bercampur aduk dengan perasaan lainnya. Emosi yang berbeda-beda bisa muncul bersamaan. Kamu mungkin merasa lega, tapi juga merasa bersalah dan menyesal di waktu yang sama. Thast’s okay. It’s normal.

Kok relasi ku jadi berubah?

Kamu mulai merasa ada yang aneh dalam relasimu. Ada yang berbeda antara kamu dan pasanganmu. Pasanganmu mulai menjauhimu, dan ketika kamu ingin berbagi perasaan tentang proses aborsi kemarin ia malah menghindar. Atau dalam kasus lain, pasangan terus-terusan membicarakan soal aborsi yang telah dijalani walaupun kamu ingin dan siap untuk segera move on dari proses itu. Kamu pun mulai bertanya-tanya, ‘Sebenarnya apa, sih, yang terjadi?

Buat kamu yang sudah punya cukup informasi dan mengikuti konseling sebelum melakukan aborsi, hal ini mungkin tidak mengagetkan. Tapi kalau kamu gak punya informasi, kamu dan pasanganmu mungkin akan merasa kebingungan dan menjadi lebih sering beradu pendapat.

Perubahan Hormon

Satu bulan setelah aborsi, wajar jika mood mu berubah-rubah. Saat kehamilan berhenti tiba-tiba (aborsi), tubuhmu akan mengalami perubahan hormon. Sama halnya saat kamu pertama kali mengetahui kamu hamil. Kamu mungkin mengenali ada perubahan mood dan emosi. Prinsip yang sama terjadi saat kamu selesai aborsi. Sampai hormon tubuh kembali normal, kamu akan merasakan perubahan ini.

Jika kamu mengetahui hal ini sebelumnya, kamu dan pasanganmu akan lebih mengenali perubahan ini. Kalian juga bisa mengontrol sampai mana perubahan mood ini bisa berpengaruh dalam relasimu.

Let’s be real, saat terjadi perubahan mood seperti ini, kadang apa yang kita rasakan dan sampaikan hari ini dan besok bisa berubah-rubah. Kamu mungkin merasa lega hari ini, merasa sedih hari berikutnya. Jika kita tahu ini salah satu bagian dari perubahan hormon, kita tidak perlu menanggapinya secara serius sampai pada mempertanyakan keputusan sebelumnya. Jadi ada baiknya kita mengenali kapan seseorang sebenarnya memang hanya ingin membagi perasaannya, dan kapan sebenarnya ia butuh masukan atau nasihat. Jika kita tidak memahami ini, kita bisa mudah sekali terjebak pada adu argumen yang berbuntut dengan pertikaian, dan mungkin putus relasi.

Kok malah pasangan saya sih yang jadi emosional?

Perubahan emosional setelah aborsi juga bisa dialami laki-laki lho. Ini terutama terjadi ketika pasangan diam-diam ingin mempertahankan kehamilan namun mengalah demi mendukung pilihan perempuan. Atau kadang yang membuat lelaki mengalami perubahan emosional adalah karena pengalaman langsungnya membantu perempuan aborsi.

Laki-laki juga manusia dan punya perasaan. Jadi jangan ragu untuk berbicara terbuka dari hati ke hati dengan pasanganmu. Berbagi kerentanan bisa membuat relasi semakin kuat.

Apakah saya butuh bantuan psikolog?

Jika perubahan emosi ini terjadi dalam satu bulan pertama sejak aborsi, ini adalah hal yang wajar. Jika ini berlangsung lebih dari itu, ini bisa dimasukan dalam kategori stress — dimana kamu masih bisa mencari bantuan mandiri, baik itu membicarakannya dengan orang yang kamu percayai, membaca buku-buku motivasi, atau melakukan hal-hal yang kamu sukai dan fokus pada masa depanmu. Jelas kita tidak bisa merubah keputusan kita di masa lalu, tapi kita selalu punya pilihan untuk masa depan kita.

Jika perubahan emosi ini disertai dengan tanda-tanda seperti berkurangnya ketertarikan terhadap hidup — misalnya sudah tidak mau keluar rumah, tidak mau bertemu orang, bahkan tidak memiliki motivasi untuk melakukan minat dan hobinya. Jika ini bertahan lebih dari 3 bulan, kemungkinan kamu mengalami depresi dan ini saatnya kamu membutuhkan bantuan profesional seperti psikolog.